Bagaimana Cara Muntaber Menular ke Orang Lain?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Muntaber atau yang dalam bahasa medisnya disebut gastroenteritis adalah penyakit yang menyerang sistem pencernaan. Gejala muntaber pada umumnya adalah muntah, buang-buang air (diare), sakit perut melilit, dan mual. Muntaber disebabkan oleh infeksi sehingga penyakit ini mudah sekali menular dari satu orang ke yang lain. Namun, bagaimana caranya dan lewat jalur apa muntaber dapat menular? 

Berbagai cara muntaber dapat menular di lingkungan sekitar

Muntaber adalah penyakit pencernaan yang disebabkan oleh infeksi, baik itu dari bakteri, virus, maupun parasit.

Jenis virus yang paling sering menyebabkan muntaber adalah norovirus dan rotavirus, sementara dari golongan bakteri adalah Escherichia coli (E. coli), Shigella, Staphylococcus dan Salmonella Typhi, Yersinia enterocolitica, serta Campylobacter. Pada kasus muntaber yang disebabkan infeksi parasit, penyebabnya yang umum adalah parasit Giardia dan Cryptosporidium.

Berbagai kuman penyebab muntaber ini dapat menular dari satu orang ke lainnya lewat banyak cara. Namun muntaber umumnya menular lewat konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi. Anda juga bisa terkena muntaber dari kontak dengan penderita. Berikut penjelasan selengkapnya:

1. Lewat konsumsi makanan atau minuman

Seseorang dapat terkena muntaber setelah makan atau minum segala yang sudah terkontaminasi kuman. Contoh yang paling mudah dan umum adalah dari jajan sembarangan di pinggir jalan.

Ketika jajan di pedagang kaki lima atau di tempat yang kebersihannya tidak terjaga, Anda tidak bisa memastikan apakah bahan makanannya sudah dicuci bersih, dan diolah dengan peralatan masak yang juga bersih.

Jika memang dicuci, Anda pun tetap tidak dapat 100% memastikan apakah air yang digunakan adalah air bersih atau air kotor? Air kotor yang digunakan untuk mencuci dan mengolah bahan makanan sangat mungkin mengandung kuman penyebab muntaber dan mengontaminasi makanan Anda. Bakteri Shigella dan parasit Giardia dan Cryptosporidium, contohnya, yang memang berhabitat di air kotor.

Ditambah lagi, kuman penyebab muntaber juga mungkin saja masih terdapat dalam bahan makanan yang dimasak kurang matang. Misalnya E. coli yang sering terdapat pada daging sapi kurang matang, seafood mentah, dan buah serta sayuran yang tidak dicuci bersih. Bakteri Staph, Yersinia enterocolitica, Campylobacter, dan Salmonela typhi juga sering terdapat dalam daging mentah, telur mentah, dan susu mentah (nonpasteurisasi).

Proses mengolah dan memasak di pinggir jalan umumnya sangat cepat sehingga Anda mungkin tidak bisa memastikan masakan tersebut sudah matang sempurna atau belum.

Lalu, bagaimana dengan kebersihan tangan si penjaja makanan? Apakah ia sudah cuci tangan dengan sabun atau belum sebelum memegang makanannya? Jika tidak, kuman yang ada di tangannya dapat berpindah ke jajanan Anda dan akhirnya masuk ke dalam tubuh. Berbagai kemungkinan inilah yang kemudian dapat meningkatkan risiko muntaber menular di lingkungan.

Begitu pula dengan di rumah sendiri. Misalnya, ibu yang tidak mencuci tangan sesudah buang air besar dan setelahnya ia memasak makanan untuk sekeluarga. Kuman dari tangannya dapat berpindah ke bahan makanan dan peralatan masak yang digunakan hingga kemudian masuk ke dalam tubuh anggota keluarga yang lain.

Risiko penularan muntaber lewat air dan makanan terutama tinggi pada lingkungan yang kumuh dan sanitasinya buruk. 

2. Lewat kontak dengan penderita 

Muntaber dapat menular lewat kontak dengan penderita apabila Anda berdua sama-sama tidak menjaga kebersihan diri.

Ada beberapa contoh kontak langsung, baik secara langsung maupun tidak, yang bisa meningkatkan risiko penularan muntaber. Kasus yang paling umum adalah ketika ada seseorang yang sedang sakit muntaber tidak langsung cuci tangan setelah BAB di kamar mandi. Dengan tangan kotornya ia kemudian menyentuh benda-benda lain yang kemungkinan juga akan orang lain sentuh, misalnya tuas flush toilet, gagang pintu, atau wastafel dan keran air.

Muntaber bisa menular ketika Anda menggunakan toilet tersebut dan menyentuh benda-benda yang sama, kemudian juga tidak cuci tangan sebelum keluar. Jika sehabis itu Anda makan dengan tangan, menjilat jari, menyentuh bibir, menutup mulut saat menguap, atau menggigit kuku, kuman muntaber akan berpindah masuk ke dalam tubuh Anda.

Anda mungkin juga masih bisa menyebarkan penyakit ketika menyentuh benda-benda lain di sekitarnya, berjabat tangan dengan orang lain, atau menyuapi anak setelah memegang benda yang terpapar kuman dari penderita sebelumnya.

Virus dan bakteri penyebab muntaber bisa terdapat di permukaan benda apa saja yang kemungkinan Anda sentuh. Tidak selalu dari toilet. Tangan Anda adalah perantara yang tepat untuk memindahkan virus dan bakteri penyebab penyakit ke orang lain.

3. Lewat muntah penderita

Beberapa virus muntaber bisa menular lewat muntahan pasien. Pasien muntaber yang mengalami mual-mual umumnya beberapa saat kemudian akan muntah. Cairan muntah bisa mengenai, baju, lantai, sprei atau benda lain di sekitarnya.

Apabila benda yang terkena muntahan tidak segera dibersihkan atau dicuci dengan benar, hal ini dapat meningkatkan risiko muntaber menular ke orang lain. Misalnya sendok yang terkena cipratan muntah tidak dibersihkan dengan baik kemudian dipakai orang rumah untuk makan. Bakteri yang tertinggal di permukaan sendok dapat masuk ke mulutnya saat sedang menyuap makanan, dan menyebabkan muntaber. 

4. Lewat udara

Norovirus merupakan salah satu virus penyebab muntaber yang juga bisa menular lewat udara. Tidak hanya itu. Udara kemungkinan juga bisa menularkan kuman penyebab muntaber lainnya. 

Sebuah penelitian lampau tahun 2000 melaporkan penderita muntaber yang muntah di restoran hotel. Dalam 24-38 jam setelahnya, beberapa orang yang berada di waktu dan ruangan sama dengan pasien tersebut tampak ikut mengalami gejala khas muntaber, seperti buang-buang air dan muntah.

Orang yang posisi duduk atau mejanya dekat dari penderita muntaber juga dilaporkan mengalami gejala serupa, dibanding yang posisi duduknya jauh. 

Hal ini kemungkinan disebabkan karena sebagian virus penyebab muntaber yang ada di muntahannya dapat “terbang” dan mengalir di udara. Selain itu menurut CDC, cipratan cairan muntah yang berupa tetesan atau percikan air tak kasat mata dapat melesat di udara dan mendarat di makanan atau benda lain, yang kemudian dimakan atau disentuh orang lain sehingga menyebabkan muntaber menular. 

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca