Sakit Perut Karena Keracunan Makanan Atau Gejala Muntaber? Begini Membedakannya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Pagi hari ini Anda mengalami sakit perut dan kemudian diare. Anda pasti langsung mengingat makanan apa yang Anda makan terakhir kali pada hari sebelumnya, dan apakah makanannya bersih atau tidak. Keracunan makanan mungkin termasuk penyakit yang pertama kali terlintas di pikiran Anda. Tapi, sakit perut dan diare bukan cuma ciri keracunan makanan. Sakit perut dan diare juga bisa menjadi awal gejala muntaber atau gastroenteritis. Begini cara membedakan ciri keracunan makanan dan gejala muntaber agar Anda bisa mendapatkan pertolongan medis yang tepat.

Apa penyebab keracunan makanan?

Keracunan makanan adalah infeksi saluran pencernaan yang disebabkan oleh makanan dan minuman yang mengandung bakteri, parasit, virus, atau zat berbahaya. Penyebab keracunan makan paling umum disebabkan oleh toksin staphylococcus aureus.

Kebanyakan keracunan makanan adalah kasus akut. Artinya kondisi ini hanya berlangsung sementara, dapat sembuh sendiri, dan jarang menyebabkan komplikasi. Ciri dari keracunan makanan hampir sama dengan infeksi saluran pencernaan lainnya, seperti sakit perut, muntah, dan diare.

Apa penyebab muntaber?

Muntaber atau biasa disebut gastroentritis adalah infeksi norovirus yang menyebabkan peradangan pada saluran pencernaan. Muntaber selalu disebabkan oleh virus bukan bakteria atau parasit. Gejala dari gastroenteritis antara lain: diare berair, muntah, pusing, demam, dan mengigil. Gejala biasanya muncul 12-48 jam setelah terkena virus penyebab dan berlangsung 1-3 hari, tetapi beberapa ada yang dapat bertahan hingga seminggu.

Hilangnya banyak cairan melalui diare dan muntah dapat mengganggu keseimbangan elektrolit tubuh, sehingga dapat berpotensi mengancam jiwa.

Membedakan ciri keracunan makanan dan gejala muntaber

Gejala muntaber dan ciri keracunan makanan seringnya saling tumpang tindih. Kedua gangguan pencernaan ini sama-sama dapat menyebabkan Anda mengalami muntah, diare, sakit perut, kembung, kelelahan, dan mungkin demam.

Menurut Dr. Michael Rice, seorang dokter ahli pencernaan, cara untuk membedakan apakah Anda terkena keracunan makanan atau gastroenteritis adalah dengan melihat kegiatan yang dilakukan sebelum terkena penyakit.

“Gejala yang disebabkan oleh keracunan makanan berlangsung selama beberapa jam setelah makan”, kata Dr. Rice. Jika Anda makan atau minum dan orang yang mengkonsumsi tersebut juga mempunyai gejala yang sama atau ragu terhadap kualitasnya, mungkin Anda terkena keracunan makanan.

Jika Anda adalah satu-satunya yang menjadi sakit setelah mengonsumsi makanan tertentu, di sepanjang perjalanan Anda terkena bersin orang lain, atau memegang gagang pintu yang terkontaminasi mungkin Anda terkena muntaber.

Awasi juga tanda dehidrasi seperti jumlah urin yang berkurang atau warnanya menjadi pekat dan merasa pusing. Jika kondisi Anda tidak membaik setelah lebih dari dua hari, demam tidak turun, tampak lendir dalam feses, muncul sensasi baal atau kesemutan, dan tanda-tanda dehidrasi, segera ke dokter untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Bagaimana cara mengobati keduanya?

Untuk terapi, keduanya biasanya diberikan diet modifikasi yaitu dengan diet BRAT yang terdiri dari roti,nasi, applesauce, dan roti panggang. Alternatif dari diet BRAT adalah dengan biskuit asin. Tujuan dari diet ini adalah untuk mengganti kalori dan elektrolit yang hilang. Selain itu, hindari kafein dan alkohol untuk tidak semakin mengiritasi dinding dalam saluran pencernaan.

Berapa Banyak Kalori yang Anda Butuhkan?

Selain rajin berolahraga, mengetahui berapa banyak asupan kalori yang harus dikonsumsi juga penting untuk menjaga kesehatan. Cari tahu kalori harian yang Anda butuhkan di sini.

Cari Tahu!
active

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

9 Makanan yang Membantu Menghilangkan Stres

Apakah nafsu makan Anda bertambah saat stres? Berikut makanan sehat yang dapat membantu Anda menghilangkan stres dan penatnya pikiran.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 7 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Keracunan Makanan

Keracunan makanan adalah gangguan pencernaan umum. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, serta cara mengobati dan mencegahnya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Pencernaan, Keracunan Makanan 6 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

Infeksi Bakteri E. coli

Infeksi bakteri E. coli adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang biasanya hidup di dalam usus manusia dan hewan. Apa obatnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan Pencernaan, Keracunan Makanan 6 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

Penyebab Paling Umum Sakit Perut Sebelah Kanan

Beberapa dari Anda mungkin sering merasakan sakit perut sebelah kanan. Hati-hati karena ini bisa menjadi tanda suatu penyakit pada organ di rongga perut.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kesehatan Pencernaan 6 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

sakit gejala usus buntu

Cara Membedakan Sakit Perut Gejala Usus Buntu dan Maag

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
sakit maag adalah

Maag (Dispepsia)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit
penyakit pada sistem pencernaan

11 Penyakit yang Paling Sering Terjadi pada Sistem Pencernaan

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit
ilustrasi mengatasi perut kembung

Ragam Cara Mudah Mengatasi Perut Kembung yang Cepat dan Ampuh

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 7 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit