4 Jenis Aritmia yang Paling Umum dan Tidak Boleh Disepelekan

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Jantung adalah salah satu organ vital yang perlu dijaga kesehatannya. Detak jantung yang selama ini Anda rasakan adalah tanda bahwa jantung Anda sedang memompa darah ke seluruh tubuh secara terus-menerus. Sayangnya, ada beberapa hal yang bisa membuat detak jantung tidak normal, entah itu terlalu cepat, terlalu lambat, atau berdetak tidak beraturan. Kondisi ini disebut dengan aritmia.

Jika tidak cepat-cepat ditangani, gangguan detak jantung karena aritmia bisa berakibat fatal, lho. Sebelum memeriksakan diri ke dokter, yuk kenali dulu jenis aritmia paling umum berikut ini.

Jenis-jenis aritmia paling umum

Jenis-jenis aritmia paling umum di antaranya:

1. Fibrilasi atrium

Dilansir dari Health, sekitar sepertiga pasien rawat inap akibat aritmia disebabkan oleh fibrilasi atrium. Gangguan detak jantung yang satu ini rentan dialami oleh pria yang usianya di atas 60 tahun, orang dengan diabetes, tekanan darah tinggi, gagal jantung, dan penyakit paru-paru.

Fibrilasi atrium adalah kondisi saat atrium, yaitu ruang atas jantung yang menerima darah dari seluruh tubuh, berdenyut secara tidak beraturan dan sangat cepat (lebih dari 300 denyut per menit). Semestinya, darah yang berkumpul di dalam atrium akan dialirkan ke ruang bawah jantung (ventrikel) sebelum dipompa ke seluruh tubuh. Akan tetapi, detak jantung yang sangat cepat justru membuat darah tidak dapat melewati atrium dengan baik.

Saking cepatnya aliran darah menuju jantung, kondisi ini memungkinkan adanya gumpalan darah yang ikut masuk dan memblokir pembuluh darah jantung. Hal ini dapat meningkatkan risiko kardiomiopati atau pembesaran jantung dan lama-kelamaan melemahkan kerja jantung.

Selain itu, bekuan darah tadi juga bisa terbawa oleh aliran darah hingga menuju otak. Jika tidak cepat-cepat ditangani, bekuan darah ini dapat menyumbat pembuluh darah di otak dan menyebabkan stroke.

2. Bradikardia

Berkebalikan dengan fibrilasi atrium, bradikardia ditandai dengan denyut jantung yang sangat lemah, yaitu kurang dari 60 denyut per menit. Bagi sebagian orang, detak jantung yang lambat ini mungkin tidak menimbulkan gejala atau tanda apa pun.

Namun untuk sebagian orang lainnya, hal ini bisa jadi pertanda adanya masalah pada sistem listrik jantung. Mungkin saja alat pacu jantung alami yang dimiliki oleh tubuh tidak bekerja dengan baik, sehingga detak jantung jadi sangat lambat dan tidak bisa memompa darah ke seluruh tubuh.

Gejala detak jantung tidak normal akibat bradikardia umumnya ditandai dengan munculnya sensasi pusing hingga pingsan. Dampak fatalnya, kondisi ini bisa menyebabkan kematian.

penyebab penyakit jantung

3. Fibrilasi ventrikel

Fibrilasi ventrikel adalah jenis aritmia yang umum dan lebih berbahaya dibandingkan fibrilasi atrium. Kondisi ini disebabkan oleh adanya gangguan listrik otot jantung pada bilik jantung (ventrikel), sehingga aliran darah ke jantung jadi terhenti.

Akibatnya, jantung mengalami kekurangan oksigen dan membuat detak jantung tidak normal. Lebih parahnya lagi, Anda berisiko tinggi mengalami serangan jantung atau henti jantung jika ini terus dibiarkan dalam waktu yang lama.

Kondisi ini merupakan keadaan darurat medis yang harus segera ditangani. Tim medis biasanya akan segera melakukan resusitasi jantung (CPR) dan defibrilasi untuk menyelamatkan nyawa pasien.

4. Takikardia ventrikel

Takikardia ventrikel adalah jenis aritmia yang terjadi ketika bilik jantung berdenyut sangat cepat, yaitu lebih dari 200 denyut per menit. Padahal, denyut jantung normal pada orang dewasa berkisar 60-100 denyut per menit.

Saking cepatnya, jantung belum sempat menerima oksigen dari seluruh tubuh karena harus dialirkan kembali ke organ tubuh lainnya. Anda akan mengalami pusing, sesak napas, atau bahkan pingsan.

Tidak semua orang dapat menghitung detak jantungnya sendiri. Apalagi jika denyut nadi di pergelangan tangan Anda cenderung lemah atau sulit diraba. Nah, supaya lebih mudah dan akurat, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter spesialis jantung terdekat.

Dokter akan melakukan tes elektrokardiogram (EKG) untuk melihat normal atau tidaknya denyut jantung Anda. Jika hasilnya menunjukkan detak jantung tidak normal, maka dokter mungkin akan melakukan jenis pemeriksaan lain untuk memastikan jenis aritmia yang Anda alami beserta penanganannya.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: November 23, 2018 | Terakhir Diedit: November 14, 2018

Sumber
Yang juga perlu Anda baca