Semakin Tua, Gejala Skizofrenia Bisa Makin Memburuk, Ini Kata Peneliti

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 10/11/2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, masih saja dihantui dengan stigma negatif tentang skizofrenia. Sampai saat ini, mereka menganggap skizofrenia itu penyakit berbahaya, menular, dan terkutuk, sehingga perlu dijauhi. Padahal, stigma keliru yang seperti inilah yang membuat pengobatan skizofrenia jadi terhambat. Para pakar kesehatan sepakat bahwa hal ini justru membuat gejala skizofrenia jadi makin memburuk dari waktu ke waktu. Bagaimana bisa?

Usia berapa gejala skizofrenia pertama kali muncul?

Skizofrenia bisa dialami oleh siapa pun, baik laki-laki maupun perempuan. Menurut Brain and Behavior Research Foundation, gejala skizofrenia berupa halusinasi dan delusi biasanya muncul pertama kali di usia 16 sampai 30 tahun.

Meski seringnya muncul di masa remaja, skizofrenia pada anak juga bukanlah hal yang mustahil. Namun sayangnya, para ortu sulit membedakan mana imajinasi khas anak-anak dan mana halusinasi yang merupakan ciri skizofrenia sehingga sering terlewatkan.

Begitu juga pada remaja, tanda skizofrenia sering kali sulit terdeteksi. Ini karena skizofrenia pada remaja biasanya ditandai dengan gangguan tidur, mudah marah, hingga penurunan nilai. Semua perilaku tersebut sangat umum dialami oleh remaja yang baru memasuki masa puber.

Semakin tua, gejala skizofrenia bisa semakin memburuk

gejala skizofrenia

Semakin tua, tubuh kita akan mengalami banyak perubahan. Mulai dari penurunan fisik, kognitif, mental, dan sosial. Ini pertanda bahwa Anda semakin rentan terkena berbagai penyakit fisik maupun mental.

Kabar baiknya, usia yang terus bertambah tidak akan membuat gejala skizofrenia semakin parah. Justru dengan penanganan yang tepat dari psikiater dan dukungan orang terdekat, gejalanya bisa Anda kendalikan dengan baik.

Namun, perlu dicatat bahwa ini bukan berarti Anda bisa tenang-tenang saja meski mengidap skizofrenia, lho. Pasalnya, gejala skizofrenia mungkin saja berkembang dan semakin parah jika Anda terus membiarkannya tanpa pengobatan.

Setiap episode atau tahapan psikotik yang dialami oleh penderita skizofrenia dapat menyebabkan kerusakan pada otak jika tidak cepat-cepat ditangani. Apalagi kalau gaya hidup Anda tidak sehat, misalnya terbiasa merokok, minum alkohol, hiperkortisolemia, dan kurang gerak.

Menurut sebuah studi di Journal of Psychoses and Related Disorders, pola hidup yang tidak sehat dapat mengurangi volume materi abu-abu (gray matter) pada otak. Semakin sedikit materi abu-abu pada otak, maka semakin sulit bagi Anda untuk menenangkan diri dan memicu gejala skizofrenia. Lama-kelamaan, Anda mungkin akan mengalami psikosis yang lebih parah, yaitu delusi, halusinasi, hingga mendengar suara-suara tak berwujud.

Di sisi lain, seorang ahli neuropsikiatrik geriatri dari University of California San Diego, Dilip Jeste, MD, justru mengungkapkan fakta sebaliknya. Gejala skizofrenia cenderung membaik seiring bertambahnya usia. Melalui penelitiannya yang melibatkan 1.500 peserta paruh baya dan lansia dengan skizofrenia, ia menemukan bahwa fungsi psikososial peserta justru meningkat.

Semakin tua, peserta mengaku lebih mampu mengendalikan gejala skizofrenia yang sering kambuh. Mereka justru semakin patuh dengan perawatan kesehatan mental yang diberikan karena ingin hidup normal dan sehat. Alhasil, peserta dengan skizofrenia jadi lebih percaya diri dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Pergi ke psikiater adalah kunci utamanya

terapi kognitif dan perilaku

Jadi singkatnya, parah atau tidaknya gejala skizofrenia tergantung dari usaha Anda untuk mendapatkan perawatan mental sesegera mungkin. Semakin cepat terapi psikis yang dilakukan, maka gejala skizofrenia bisa semakin dikendalikan. Dengan begitu, hidup Anda tak lagi terganggu dengan skizofrenia di usia tua.

Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah mengunjungi psikiater bersertifikat sesegera mungkin. Biasanya, Anda akan diberikan terapi kognitif dan perilaku (CBT) selama enam bulan untuk meningkatkan fungsi sosial Anda dan membantu mengendalikan gejala skizofrenia yang sering kambuh.

Anda mungkin juga akan diberikan obat skizofrenia untuk diminum secara teratur, jika memang gejalanya sering kambuh pada waktu-waktu tertentu. Yang tak kalah penting, mintalah dukungan orangtua dan kerabat terdekat untuk membantu Anda melewati masa-masa sulit ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Bagi orang yang memendam trauma psikologis yang serius, dampaknya begitu terasa dalam hidup sehari-hari. Untungnya, metode hipnoterapi bisa membantu Anda.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Khasiat Minyak Esensial untuk Meredakan Stres

Pertolongan pertama saat stres: gunakan minyak esensial untuk meredakan stres. Apa saja jenis minyak esensial dan bagaimana cara menggunakannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 05/06/2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

melatih otak agar percaya diri

3 Cara Melatih Otak Supaya Lebih Percaya Diri

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Dipublikasikan tanggal: 20/07/2020 . Waktu baca 5 menit
Berpikir negatif demensia

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 4 menit
psikoterapi

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit
sumber stres dalam pernikahan

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit