Kenali, 4 Gejala Khas Penyakit Jiwa Skizofrenia Supaya Bisa Terdeteksi Dini

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Skizofrenia adalah gangguan mental kronis dan parah yang memengaruhi bagaimana seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku. Gangguan mental ini tidak hanya berdampak langsung pada kehidupan penderita saja, tapi juga keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Sayangnya, di banyak negara penyakit ini masih memiliki stigma negatif, termasuk di Indonesia. Hal ini menyebabkan sejumlah kasus skizofrenia tidak pernah dilaporkan dan tidak mendapatkan tindak lanjut secara medis. Padahal gejala skizofrenia dapat dikendalikan dengan diagnosis sejak dini.

Apabila gejala skizofrenia terdiagnosis sejak dini, maka peluang pasien untuk sembuh pun semakin besar. Oleh sebab itu, penting bagi masyarakat luas untuk memahami tanda dan gejala skizofrenia.

Gejala skizofrenia paling khas yang bisa diamati

Meski gejala skizofrenia hampir mirip dengan gangguan mental lainnya, tapi penyakit ini memiliki gejala khas yang bisa Anda amati.

Dr. Eka Viora SpKJ, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) ditemui dalam Southeast Asia (SEA) Mental Health Forum 2018 yang didukung oleh Johnson & Johnson pada Kamis (30/8) mengatakan “Gejala skizofrenia bervariasi tergantung pada jenis dan tingkat keparahan skizofrenia. Akan tetapi gejala yang paling cepat dikenali adalah perubahan pada tiga poin, yaitu pada pikiran, perasaan, dan perilaku.”

Dari penjelasan yang dijabarkan Dr. Eka Viora, ada beberapa perubahan perilaku yang bisa menjadi gejala khas dari penyakit ini meliputi:

  • Mulai menarik diri dari lingkungan sekitar seperti teman dan keluarga.
  • Sulit diajak berkomunikasi, sering berbicara melantur, tidak masuk akal, dan terdengar membingungkan.
  • Mengalami waham, yaitu ketika seseorang memercayai fantasi yang dimiliki sebagai realita.
  • Suasana hati yang berubah-ubah, bisa tiba-tiba sedih dan murung, tidak mau berbicara, atau justru sering berbicara alias “ngoceh” terus.

Kembali melanjutkan pemaparannya, Dr. Eka Viora mengungkapkan bahwa gejala skizofrenia itu bisa terjadi pada siapa saja, termasuk anak-anak. Akan tetapi penyakit ini paling rentan terjadi pada usia remaja atau dewasa muda, walaupun pada beberapa orang gejalanya baru muncul pada usia di atas 40 tahun.

Secara umum apabila Anda memiliki kekhawatiran tentang gejala skizofrenia, jangan ragu untuk melakukan konsultasi ke dokter. Kesalahan paling sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam menghadapi skizofrenia adalah penanganan yang terlambat. Akibatnya, gejalanya bertambah buruk sehingga proses pengobatannya pun menjadi lebih sulit untuk dilakukan.

Skizofrenia adalah gangguan mental yang bisa disembuhkan

Stigma negatif tentang penyakit skizofrenia yang masih berkembang di masyarakat membuat banyak orang menganggap bahwa penyakit ini adalah sebagai kutukan yang akan dihadapi seumur hidup. Padahal sama seperti penyakit lainnya, penyakit mental skizofrenia bisa diobati dan dikendalikan. Kuncinya adalah memiliki sistem pendukung yang kuat dan perawatan yang tepat.

Ya, orang dengan gangguan skizofrenia memiliki kemungkinan lebih besar untuk kembali pulih dan bisa beraktivitas seperti orang normal lainnya apabila pengobatan dan terapi dilakukan dengan tepat.

Ditemui dalam acara yang sama, dr. Asjikin Iman Hidayat Dachlan, MHA, sekretaris Direktorat Jenderal Pengendalian dan Penanganan Penyakit Kementerian Kesehatan, menyatakan bahwa sekarang ini pemerintah sedang mengoptimalkan fasilitas dan pelayanan kesehatan untuk penyakit mental di semua daerah di Indonesia.

Dengan pengobatan dan terapi yang tepat, sebagian besar orang dengan skizofrenia dapat memiliki pekerjaan yang layak dan produktif, bahkan mampu juga memiliki aktivitas lainnya yang bermakna, menjadi bagian dari masyarakat pada umumnya, dan dapat menikmati hidup dengan leluasa.

Penting untuk dipahami bahwa skizofrenia adalah penyakit kronis, sehingga pengobatan yang dilakukan juga memerlukan waktu panjang untuk hasil yang optimal.

Sebaliknya, jika penyakit ini tidak mendapatkan pengobatan yang baik, maka akan ada risiko kekambuhan. Semakin sering kekambuhan terjadi, kondisi pasien akan semakin menurun dan risiko terjadinya kerusakan otak permanen pun menjadi semakin besar.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca