home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Pahami Bahaya Digigit Tikus dan Pertolongan Pertama untuk Lukanya

Pahami Bahaya Digigit Tikus dan Pertolongan Pertama untuk Lukanya

Tikus biasanya tinggal di saluran pembuangan yang kotor sehingga rentan terpapar kuman penyakit. Hewan ini bisa menularkan penyakit pada manusia melalui feses, urine, atau air liurnya. Meskipun gigitan tikus tidak menyebabkan luka berat, Anda perlu melakukan pertolongan pertama guna mengurangi risiko infeksi kuman dari air liurnya. Seperti apa cara penanganan yang tepat saat digigit tikus?

Efek dan bahaya digigit tikus

Umumnya, kasus digigit tikus terjadi ketika seseorang memegang tikus atau pada malam hari saat sedang tidur.

Anda juga berisiko digigit tikus jika berada di tempat yang kotor dan dekat dengan sarang tikus.

Namun, tikus juga bisa menggigit sebagai bentuk pertahanan diri ketika merasa diusik oleh manusia.

Tidak seperti digigit ular berbisa atau anjing, luka akibat gigitan tikus umumnya tidak begitu serius.

Tikus memiliki gigi depan yang tajam sehingga gigitannya bisa merobek lapisan dalam kulit.

Gigitan hewan ini dapat menimbulkan sensasi perih dan perdarahan karena gigitannya seperti luka tusuk yang mampu menembus jaringan kulit.

Akan tetapi, satu hal yang paling berbahaya dari gigitan tikus adalah infeksi dari bakteri atau virus dalam air liurnya.

Meskipun memang tidak semua tikus pasti terinfeksi, Anda tetap harus mewaspadainya.

Berdasarkan buku Rat-Bite Fever, berikut ini adalah beberapa penyakit yang disebabkan dari gigitan tikus.

Penyakit rat bite fever (RBF) dan LCM adalah gangguan yang paling umum dialami akibat gigitan hewan pengerat ini, bahkan bisa menyebabkan beberapa orang mengalami reaksi alergi.

Tikus juga bisa membawa virus rabies. Namun, menurut CDC, tikus yang berukuran kecil jarang terinfeksi oleh virus penyebab gangguan saraf ini.

Tanda-tanda infeksi akibat digigit tikus

penyakit dari tikus

Gejala penyakit infeksi yang berasal dari tikus bisa bervariasi tergantung dengan penyakitnya.

Namun, secara umum, beberapa orang mengalami gejala awal yang dapat menandakan dirinya terinfeksi kuman penyakit.

Berikut adalah gejala awal yang mungkin muncul.

  • Demam dan bisa sewaktu-waktu hilang dan terjadi lagi.
  • Nyeri pada otot dan sendi.
  • Sakit kepala dan pusing.
  • Ruam pada lengan dan kaki, atau di seluruh tubuh dan dekat area gigitan.
  • Pembengkakan pada bagian tubuh yang digigit.
  • Kemerahan dan nyeri pada bagian tubuh yang digigit.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.

Sementara untuk reaksi alergi biasanya ditunjukkan dengan gejala seperti gatal-gatal, ruam di lengan atau sekujur tubuh, dan mulut yang membengkak.

Reaksi alergi akibat digigit tikus ini biasanya muncul setelah 10 menit.

Jika reaksi alergi semakin parah, apalagi menyebabkan sesak napas, pasien perlu mendapatkan penanganan medis darurat.

Pertolongan pertama setelah digigit

mengobati bekas luka bakar

Apabila tikus yang menggigit merupakan peliharaan sendiri, pastikan untuk langsung menghindari kontak dengan tikus Anda.

Jika memungkinkan, simpan tikus Anda segera di dalam kandang. Selama mengamankan keadaan, usahakan untuk membuat tikus takut dan merasa terancam.

Dengan begitu, Anda bisa langsung melakukan penanganan pada gigitan tikus, seperti di bawah ini.

  1. Sebelum menyentuh luka, cuci tangan Anda menggunakan sabun dan air mengalir selama 20 detik.
  2. Jika memiliki perangkat pelindung medis seperti sarung tangan, Anda bisa mengenakannya sehingga bisa mencegah masuknya kotoran pada luka gigitan.
  3. Saat terjadi perdarahan, segera hentikan darah yang mengalir dengan menekan luka menggunakan kain atau perban bersih.
  4. Setelah perdarahan berhenti, bersihkan luka gigitan menggunakan air mengalir dan sabun. Hindari memakai cairan antiseptik yang mengandung iodine atau alkohol karena bisa mengiritasi.
  5. Keringkan luka dengan handuk bersih. Selanjutnya, Anda bisa mengoleskan salep antibiotik pada luka untuk melembabkan, mempercepat kesembuhan luka, sekaligus mencegah infeksi.
  6. Jika luka terbuka cukup lebar, Anda bisa membalutnya dengan perban atau menutupnya dengan plester.
  7. Sebaliknya, jika bukaan luka kecil, Anda bisa meninggalkannya tanpa perlu menutupnya dengan perban.

Setelah itu, Anda perlu melakukan perawatan luka dengan mengganti perban guna menjaga luka tetap bersih dan kering.

Penting juga bagi Anda untuk memperhatikan tanda-tanda infeksi pada luka atau kemunculan gejala penyakit yang disebabkan dari efek digigit tikus.

Apabila luka tidak kunjung membaik dengan indikasi infeksi seperti pembengkakan, kemerahan, dan luka bernanah, segera periksakan luka gigitan ke dokter.

Anda juga perlu berkonsultasi ke dokter saat mengalami gejala penyakit infeksi yang disebabkan oleh gigitan tikus.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Gupta, M., Bhansali, R., Nagalli, S., & Oliver, T. (2020). Rat-bite Fever. Statpearls Publishing. Retrieved from https://www.statpearls.com/nurse/ce/activity/38415

American College of Surgeons. (n.d.). Wound Home Skills Kit: Lacerations & Abrasion. American College of Surgeons Division of Education. Retrieved from https://www.facs.org/~/media/files/education/patient%20ed/wound_lacerations.ashx

International Federation of Red Cross and Red Crescent Society. (2016). International first aid and resuscitation guidelines 2016. Retrieved 24 February, from https://www.ifrc.org/Global/Publications/Health/First-Aid-2016-Guidelines_EN.pdf

Bunyavanich, S., Donovan, M., Sherry, J., & Diamond, D. (2013). Immunotherapy for mouse bite anaphylaxis and allergy. Annals Of Allergy, Asthma & Immunology, 111(3), 223-224. doi: https://doi.org/10.1016/j.anai.2013.06.010

CDC. (2021). Other Wild Animals | Exposure | Rabies. Retrieved 19 March 2021, from https://www.cdc.gov/rabies/exposure/animals/other.html

 

Foto Penulis
Ditulis oleh Fidhia Kemala pada 3 minggu lalu
x