Jangan Gunakan Alkohol untuk Membersihkan Luka, Ini Bahayanya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Sebelum menutup luka menggunakan perban atau kain kasa, Anda perlu membersihkannya terlebih dulu guna mengurangi risiko infeksi dan mempercepat pemulihan. Penggunaan alkohol untuk luka dipercaya efektif karena bahan ini bersifat steril. Sementara di sisi lain, alkohol adalah bahan keras yang tidak boleh digunakan pada kulit secara sembarangan.

Efek penggunaan alkohol untuk luka pada jaringan kulit

Jaringan luka yang terbuka merupakan area yang sensitif dan rentan mengalami infeksi. Anda harus menanganinya sebaik mungkin, mulai dengan membersihkannya menggunakan bahan-bahan yang aman hingga menutupnya agar terhindar dari paparan kuman.

Alkohol memang cukup efektif untuk mencegah pertumbuhan bakteri, tapi ternyata zat ini tidak boleh digunakan untuk membersihkan luka. Ini disebabkan karena alkohol dapat menimbulkan sensasi terbakar pada luka dan merusak jaringan kulit yang sehat. Dampaknya adalah pembengkakan dan rasa gatal yang bisa salah dikenali sebagai gejala peradangan.

Selain itu, alkohol bersifat mengeringkan permukaan kulit dan berpotensi menimbulkan reaksi iritasi. Alih-alih mempercepat pemulihan, penggunaan alkohol untuk luka justru akan membuat proses penyembuhan menjadi lebih lama.

Hal yang sama juga berlaku pada obat antiseptik mengandung hidrogen peroksida. Seperti alkohol, hidrogen peroksida pun ampuh mencegah perkembangbiakan kuman penyebab penyakit. Namun, efek sampingnya dapat merugikan kulit karena senyawa ini membasmi habis seluruh komponen yang ada pada luka, termasuk sel-sel kulit yang sehat.

Hal lain yang perlu dicermati saat merawat luka

Selain menghindari penggunaan alkohol untuk membersihkan luka, ada beberapa hal lain yang harus Anda cermati saat merawat luka. Berikut di antaranya:

1. Menjaga area luka tetap lembap

Anda dapat mengoleskan tipis-tipis salep antibiotik pada luka yang berbentuk goresan atau berukuran besar agar kelembapannya tetap terjaga. Hal ini bertujuan untuk mempercepat pemulihan, menghindari infeksi, dan mencegah perban menempel. Kuman dapat berkembangbiak dengan subur pada kulit yang lembap, jadi pastikan bahwa kebersihannya juga terjaga.

2. Jangan biarkan luka terkena udara terbuka

Tidak sedikit orang yang keliru membiarkan luka terkena udara terbuka agar lekas mengering. Padahal, luka yang dibiarkan dalam kondisi seperti ini dapat terkena kuman dan kotoran sehingga meningkatkan kemungkinan infeksi. Jadi, luka yang telah dibersihkan sebaiknya ditutup dengan perban atau plester agar tetap steril.

3. Jangan mengoleskan bahan yang tidak disarankan pada luka

Alkohol dan hidrogen peroksida hanyalah salah satu contoh bahan yang tidak direkomendasikan untuk membersihkan luka. Produk-produk lain yang dapat melembapkan kulit dalam kondisi normal seperti losion juga harus dihindari. Selain dapat meningkatkan risiko infeksi, produk-produk ini biasanya mengandung parfum yang menimbulkan iritasi.

4. Rasa gatal tidak selalu menandakan luka telah sembuh

Rasa gatal biasanya muncul saat luka mulai mengering, tapi hal ini tidak selalu menandakan bahwa luka telah pulih. Pada beberapa kasus, rasa gatal justru dapat menjadi tanda alergi terhadap salep antibiotik maupun perban yang digunakan. Bila gatal bertambah parah atau terus berlanjut, segera periksakan diri Anda ke dokter.

Kendati dapat membasmi kuman, penggunaan alkohol untuk membersihkan luka justru lebih banyak mendatangkan kerugian dibandingkan manfaat. Padahal, Anda hanya perlu menggunakan air mengalir dan sabun antiseptik untuk membersihkan luka goresan atau berukuran kecil. Cara ini cukup efektif untuk menjaga area luka tetap bersih sebelum ditutup dengan plester.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca