Kenapa Diet Rendah Karbohidrat Lebih Ampuh Menurunkan Berat Badan?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/09/2017 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Diet rendah karbohidrat merupakan salah satu jenis diet yang paling populer digunakan untuk menurunkan berat badan. Tapi kini, sebuah penelitian menemukan bahwa diet rendah karbohidrat tidak hanya bermanfaat untuk mengatur berat badan, namun juga meningkatkan metabolisme tubuh — terutama untuk perempuan. Apa pasal?

Kenapa makan makanan rendah karbohidrat meningkatkan metabolisme tubuh perempuan?

Sebuah studi kecil dari University of Michigan’s School of Kinesiology menemukan bahwa makan makanan rendah karbohidrat dapat meningkatkan kinerja metabolisme tubuh perempuan dalam cara yang tidak terjadi ketika mengonsumsi makanan berkarbohidrat tinggi.

Penelitian ini melaporkan, ketika seseorang makan tiga porsi makanan rendah karbohidrat (hanya 30 persen dalam 24 jam), kadar gula darah dan resistensi insulin tubuhnya berkurang hingga 30 persen. Sebaliknya, ketika makan tiga porsi makanan yang mengandung 60 persen karbohidrat dalam waktu 24 jam, tidak ditemukan adanya pengurangan sama sekali baik pada tingkat gula darah maupun resistensi insulin. Penelitian ini melibatkan 32 wanita pascamenopause sehat, usia 50 sampai 65 tahun, dan tidak memiliki tanda-tanda diabetes atau pradiabetes. Lalu, mengapa ini penting?

Insulin adalah hormon utama yang membantu tubuh memecah dan mengolah karbohidrat menjadi energi untuk tubuh dan otak. Salah satu fungsi insulin adalah untuk memerintahkan sel lemak untuk memproduksi lemak dan menyimpannya, dan juga untuk mempertahankan lemak yang sudah mereka bawa sebelumnya.

Ketika asupan karbohidrat rendah, maka produksi insulin pun juga menurun. Akibatnya, simpanan lemak tidak lagi terkunci dalam sel lemak dan menjadi mudah diakses oleh tubuh untuk digunakan sebagai energi. Singkatnya, insulin yang tinggi dalam tubuh berkontribusi dalam penyimpanan lemak, sementara rendahnya kadar insulin jadi memfasilitasi pembakaran lemak. Inilah yang menjadi alasan utama dari efektivitas diet rendah karbohidrat.

Tapi penelitian ini juga menemukan bahwa waktu olahraga mungkin memainkan peran dalam bagaimana diet rendah karbohidrat bisa menguntungkan untuk metabolisme Anda.

Olahraga setelah makan makanan rendah karbohidrat membakar lebih banyak lemak

Selama berolahraga, Anda membutuhkan energi, yang akan memicu produksi insulin untuk mendorong pelepasan gula darah dari hati. Jika Anda makan sebelum berolahraga, makanan yang baru dicerna akan segera diolah menjadi gula darah oleh tubuh, dan dibuang dalam bentuk energi — bukannya mengerahkan energi dari cadangan lemak yang telah tersimpan sebelumnya.

Di sisi lain, asupan karbohidrat rendah dari diet rendah karbo Anda membuat tubuh tidak memiliki cukup persediaan gula darah untuk diolah menjadi energi. Minimnya persediaan gula darah dalam tubuh ini tidak memenuhi kapasitas energi yang dibutuhkan oleh otot, sehingga menyebabkan tubuh jadi memindahkan fokus produksi energi dari cadangan penyimpanan lemak yang sudah ada.

Alasan lainnya adalah, dengan menjalani diet rendah karbohidrat, orang-orang cenderung mengganti asupan energi dari kalori gula darah dengan makanan yang berprotein tinggi, seperti daging, ikan, atau ayam/telur. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa protein dapat mengurangi nafsu makan, meningkatkan metabolisme, dan membantu meningkatkan massa otot, yang juga aktif secara metabolik untuk membakar kalori tubuh.

Berdasarkan temuan ini, tim peneliti menyarankan Anda yang ingin menurunkan berat badan dengan diet rendah karbohidrat untuk menyeimbangi pola makan sehat Anda dengan olahraga, yang dilakukan setidaknya 40 menit setelah makan untuk kinerja pembakaran lemak tubuh yang paling optimal.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berselancar di Laut Ternyata Bermanfaat untuk Kesehatan Mental, Lho!

Selain baik untuk kebugaran, surfing alias berselancar di laut ternyata juga menawarkan manfaat untuk kesehatan mental Anda. Yuk, kenali apa saja manfaatnya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Psikologi 23/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Tips Menjaga Kesehatan Kulit Sebelum dan Sesudah Berolahraga

Olahraga memang baik untuk kesehatan tubuh. Namun, jangan lupa melakukan perawatan kulit saat olahraga demi menjaga kesehatan kulit, ya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Perawatan Kulit, Hidup Sehat, Kecantikan 18/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Berapa Lama Olahraga yang Dianggap Efektif?

Berapa lama olahraga juga menentukan kesuksesan tujuan Anda. Terlalu sebentar tak akan efektif, tapi terlalu lama juga tak baik.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kebugaran, Hidup Sehat 16/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Cara Membedakan Stres, Depresi, dan Gangguan Kecemasan

Setiap orang pernah mengalami stres. Tapi tidak semua orang mengalami depresi atau gangguan kecemasan. Lalu, apa bedanya stres dan depresi serta kecemasan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Psikologi 09/06/2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat prostat

Obat-obatan yang Bisa Digunakan untuk Mengatasi Penyakit Prostat

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 05/08/2020 . Waktu baca 8 menit
lemak paha

Mana yang Lebih Susah Dihilangkan, Lemak Perut Atau Paha?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 24/07/2020 . Waktu baca 4 menit
penyebab cantengan; kuku cantengan

Mengapa Kuku Bisa Cantengan dan Bagaimana Mengobatinya?

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 5 menit
makanan dan buah untuk jantung lemah

Makanan yang Disarankan untuk Penderita Jantung Lemah (Kardiomiopati)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 23/06/2020 . Waktu baca 7 menit