Makan Cepat atau Makan Perlahan: Mana yang Lebih Sehat?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 19 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Makan adalah salah satu aktivitas yang paling menyenangkan. Namun seiring dengan padatnya aktivitas yang harus dijalankan, seringkali makan dilakukan dengan terburu-buru karena yang terpenting adalah perut terisi. Padahal, dalam upaya menjaga kesehatan tubuh, memperhatikan pola dan cara makan sama pentingnya dengan pemilihan menu yang akan Anda konsumsi.

Tentunya, setiap orang memiliki cara yang berbeda saat makan, ada yang makan dengan perlahan, ada juga yang makan dengan cepat. Namun, apakah ada cara yang lebih baik di antara keduanya?

Mana cara makan yang bikin cepat kenyang?

Pernahkah Anda bertanya mengapa Anda dapat merasakan kenyang setelah makan? Faktanya, perasaan kenyang merupakan respon yang muncul karena lambung telah terisi penuh dengan makanan. Secara khusus, saat Anda makan, sinyal hormonal dilepaskan sebagai respon masuknya makanan ke dalam usus kecil. Sinyal hormonal tersebut di antaranya adalah hormon cholecystokinin (CCK) yang dikeluarkan usus sebagai respon terhadap makanan yang Anda konsumsi, dan hormon leptin yang dapat membuat Anda merasakan kenyang.

Sebuah studi menemukan bahwa hormon leptin dapat menguatkan sinyal hormon CCK untuk meningkatkan perasaan kenyang. Selain itu, studi lainnya juga menemukan bahwa hormon leptin dapat berinteraksi dengan dopamin neurotransmitter di otak untuk menimbulkan perasaan senang setelah makan.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sering kali Anda dianjurkan untuk makan dengan perlahan. Karena, makan terlalu cepat dapat membuat sistem tersebut tidak memiliki waktu yang cukup untuk bekerja secara optimal, terutama dalam memberikan respon perasaan senang dan kenyang setelah Anda makan.

Lebih sehat makan cepat atau makan pelan-pelan?

Beberapa studi telah menemukan bukti bahwa makan dengan perlahan memberikan beberapa keuntungan. Studi yang diterbitkan dalam Journal of Academy of Nutrition and Dietics menemukan bahwa Anda akan mengkonsumsi lebih sedikit kalori ketika makan dengan perlahan. Akibatnya, makan dengan perlahan dapat mnegendalikan berat badan yang dapat mencegah terjadinya obesitas.

Studi yang dilakukan di Jepang juga telah menemukan adanya hubungan positif yang kuat antara kecepatan makan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan obesitas. Studi lain yang juga diterbitkan dalam Journal of Academy of Nutrition and Dietics menemukan bahwa meningkatkan jumlah kunyahan sebelum menelan makanan dapat mengurangi konsumsi makanan yang berlebih pada orang dewasa. Bahkan, studi tersebut juga menemukan bahwa orang dengan berat badan normal cenderung mengunyah makanan lebih lambat dibandingkan dengan orang yang kelebihan berat badan atau obesitas.

Keuntungan makan pelan dibandingkan makan cepat

Beberapa studi tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa makan dengan perlahan dapat memberikan beberapa keuntungan terhadap kesehatan tubuh. Berikut adalah beberapa keuntungan lainnya yang Anda dapatkan jika makan dengan perlahan:

1. Mengurangi stres

Makan dengan perlahan memungkinkan Anda menikmati makanan yang Anda konsumsi, sehingga memungkinkan timbulnya perasaan senang setelah Anda makan dengan kenyang.

2. Mencegah kenaikan berat badan

Sebelumnya telah disebutkan bahwa makan dengan perlahan dapat mengoptimalkan sistem respon tubuh terhadap makanan berupa timbulnya perasaan “kenyang” setelah makan. Sehingga, hal tersebut dapat mencegah Anda untuk ngemil terlalu sering, yang sering kali menjadi penyebab naiknya berat badan.

3. Mengoptimalkan proses pencernaan

Ketika Anda makan, makanan yang Anda konsumsi tersebut akan bercampur dengan air liur didalam mulut yang kemudian akan dipecah menjadi bahan kimia yang lebih kecil agar dapat diserap sebagai nutrisi oleh tubuh Anda. Tentunya, makan dengan perlahan akan membuat makanan Anda terpecah menjadi lebih halus sehingga dapat mengefisienkan metabolisme makanan dalam tubuh, karena makanan yang tidak terpecah secara halus dapat menyulitkan tubuh untuk menyerap semua vitamin, mineral, dan asam amino yang penting untuk tubuh.

4. Resistensi insulin

Studi di Jepang menemukan bahwa makan dengan cepat berkaitan dengan terjadinya resistensi insulin, yang dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes, penyakit jantung, dan sindrom metabolik.

5. Mencegah terjadinya refluks asam lambung

Sebuah studi menemukan bahwa makan dengan cepat dapat menyebabkan terjadinya refluks asam lambung, terutama jika Anda mengalami GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

7 Resep Oatmeal Sehat dan Mudah untuk di Rumah

Oatmeal bukan hanya lezat, tapi juga penuh serat., mengenyangkan, dan cocok untuk Anda yang sedang berdiet. Simak 7 resep oatmeal berikut.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Resep Sehat, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Bahaya Merokok Terhadap Daya Tahan Tubuh Manusia

Kenapa perokok lebih gampang sakit? Merokok ternyata memiliki dampak berbahaya terhadap daya tahan tubuh. Lalu apa yang bisa dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Berhenti Merokok, Hidup Sehat 20 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit

6 Penyebab Urat Anda Menonjol dan Terlihat Jelas di Kulit

Urat menonjol pada permukaan kulit memang kerap ditemui pada orang berusia lanjut. Lalu apa artinya kalau masih muda sudah mengalami kondisi ini?

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan, Informasi Kesehatan 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Segudang Manfaat Daun Sirih Hijau dan Merah yang Sayang Dilewatkan

Anda pasti sudah akrab dengan manfaat daun sirih untuk hentikan mimisan. Meski begitu, masih ada banyak lagi khasiat daun sirih untuk kesehatan. Penasaran?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mencium bau

Sering Mencium Sesuatu Tapi Tak Ada Wujudnya? Mungkin Anda Mengalami Phantosmia!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
memotong kuku

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
sakit kepala setelah makan

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
strategi menahan lapar

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit