home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Siapa yang Berkeringat Lebih Banyak? Pria atau Wanita?

Siapa yang Berkeringat Lebih Banyak? Pria atau Wanita?

Selama ini banyak orang yang bilang kalau laki-laki lebih mudah berkeringat lebih banyak dibanding wanita. Hmmm… apa benar, ya? Simak penjelasannya berikut ini.

Kenapa manusia berkeringat?

Semua orang berkeringat, hanya saja setiap orang memiliki alasan yang berbeda ketika berkeringat. Pasalnya, setiap orang memproduksi keringat dalam jumlah yang berbeda-beda. Hal ini karena kelenjar keringat dalam tubuh tiap orang berbeda pula sifatnya. Saat Anda melakukan aktivitas yang menyebabkan peningkatan suhu tubuh, seperti olahraga ataupun aktivitas gerak lainnya, tubuh akan cenderung mengeluarkan keringat.

Berkeringat adalah salah satu dari dua cara untuk mendinginkan tubuh akibat adanya proses penguapan. Segala hal yang disebabkan karena faktor stres ataupun terkena paparan suhu panas akan meningkatkan suhu tubuh. Hal inilah yang menyebabkan tubuh bereaksi mengeluarkan keringat. Cara lainnya, tubuh akan meningkatkan jumlah aliran darah ke permukaan kulit supaya panas bisa ditransfer ke udara.

Apakah pria berkeringat lebih banyak dari wanita?

Berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Experimental Physiology, anggapan pria berkeringat lebih banyak dari wanita nyatanya kurang tepat. Pasalnya, untuk mengetahui seberapa banyak orang berkeringat bisa diketahui lewat ukuran dan bentuk tubuh seseorang, bukan berdasarkan dari jenis kelaminnya.

Sean Notley sebagai pemimpin penelitian tersebut mengatakan, jenis kelamin bukanlah faktor yang mempengaruhi produksi keringat dan peningkatan aliran darah seseorang ketika menghadapi suhu tinggi atau tekanan panas.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, para peneliti akhirnya menemukan jika metode pendinginan utama tubuh bergantung pada ukuran dan bentuk tubuh seseorang. Secara khusus, orang yang lebih kecil, baik pria atupun wanita, lebih bergantung pada peningkatan aliran darah ke kulit untuk melakukan pendinginan tubuh daripada mengeluarkan keringat. Sehingga hal inilah yang membuat orang bertubuh kecil cenderung berkeringat lebih sedikit.

Ukuran tubuh mempengaruhi produksi keringat seseorang

Kesimpulan ini didapat lewat penelitian yang dilakukan dengan melibatkan peserta sebanyak 36 pria dan 24 wanita, yang berpartisipasi untuk melakukan percobaan olahraga di dalam ruangan khusus. Selama percobaan, para peneliti menghitung total ukuran tubuh peserta dengan menggunakan perbandingan total permukaan tubuh terhadap berat badan mereka. Selain itu para peneliti juga mengukur suhu tubuh, aliran darah dan keringat kulit para peserta.

Hasilnya, mereka menemukan jika rata-rata responden berkeringat pada tingkat yang sama. Namun perbedaan mencolok terlihat pada mereka yang memiliki ukuran badan lebih besar. Peserta yang berbadan kecilbaik laki-laki maupun perempuan, tubuhnya cenderung mengalami peningkatan aliran darah ke kulit untuk mengatur suhu tubuh. Sedangkan mereka yang memiliki badan besar tubuhnya cenderung akan mengelurakan keringat.

Jadi, orang yang memiliki postur tubuh lebih besar, entah karena berdasarkan tinggi ataupun berat badannya, akan cenderung berkeringat lebih banyak daripada mereka yang memiliki tubuh lebih kecil.

Pria cenderung memiliki tubuh yang lebih besar, dengan berat badan dan massa otot yang lebih besar pula. Maka, tak heran jika pria lebih banyak berkeringat daripada perempuan. Itu sebabnya anggapan jika pria berkeringat lebih banyak kemungkinan karena rata-rata tubuh pria lebih besar dari wanita, dan bukan karena jenis kelaminnya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Who Sweets More, Men Or Women? – http://www.livescience.com/58004-who-sweats-more-men-women.html diakses pada 5 Mei 2017

Scientists Finally Figured Out If Men Really Do Sweat More Than Women –  https://elitedaily.com/social-news/men-sweat-more-women/1818751/ diakses pada 5 Mei 2017

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Risky Candra Swari Diperbarui 21/01/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri