Dibanding Pria, Wanita Lebih Berisiko Meninggal Setahun Setelah Serangan Jantung

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Serangan jantung menimbulkan ancaman yang lebih besar bagi wanita dibandingkan pria. Pasalnya, risiko kematian wanita setahun setelah mengalami serangan jantung lebih besar daripada pria. Mengapa bisa begitu? Apakah bisa dicegah? Simak ulasannya berikut ini.

Fakta ini datangnya dari mana?

Dilansir dari Science Daily, sebuah tim ahli di Technical University of Munich (TUM) telah menguak bahwa pada satu tahun pertama setelah wanita terkena serangan jantung, mereka mendapat risiko kematian yang jauh lebih tinggi daripada pria. Para ilmuwan pun mendesak dokter untuk memberikan dukungan intensif kepada pasien wanita dengan riwayat serangan jantung, terutama pada 365 hari (setahun) pertama setelah kejadian.

Risiko kematian tersebut sebagian besar terjadi pada wanita lansia, wanita dengan tingkat penyakit yang lebih serius, dan turut dipengaruhi oleh jenis pengobatan yang mereka dapatkan.

Sebuah analisis yang diterbitkan pada jurnal ilmiah PLOS One, periset melakukan penelitian terhadap 802 pria dan wanita. Data yang diambil meliputi usia, memiliki riwayat lain (diabetes dan hipertensi), status merokok, ukuran fungsi jantung, dan jenis pengobatan yang mereka terima. Setelah diteliti selama lima tahun, pada tahun pertama, wanita usia 60 tahun lebih tinggi berisiko meninggal dibanding pria. Di luar tahun pertama, tingkat kematian pria dan wanita tidak berbeda.

serangan-jantung

“Jika kita melihat periode penelitian lima tahun penuh setelah serangan jantung, tidak ada perbedaan spesifik yang luar biasa antara kedua jenis kelamin jika kita menyesuaikan faktor-faktor seperti usia, kondisi dan jenis perawatan yang menyertainya,” kata Dr. Romy Ubrich. “Tapi kami terkejut dengan data selama 365 hari pertama setelah kejadian tersebut: Selama waktu itu, wanita 1,5 kali lebih mungkin meninggal daripada pria.”

Mengapa serangan jantung pada wanita begitu riskan?

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Romy Ubrich, dengan mengumpulkan data 4.100 peserta dalam ISAR-RISK dan ART, ada beberapa faktor yang menyebabkan risiko kematian pada wanita yang kena serangan jantung lebih tinggi pada satu tahun pertama daripada pria. Berikut penjelasannya.

  • Wanita yang berusia 10 tahun lebih tua dari pria lebih cenderung mengalami infark (perubahan sirkulasi darah yang menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen dalam darah). Selain itu, memiliki riwayat penyakit lain seperti diabetes juga memengaruhi.
  • Serangan jantung pada wanita jarang terjadi akibat penyempitan pembuluh darah lokal, melainkan karena penyakit arteri koroner. Wanita Lebih berisiko menderita penyakit arteri koroner, apalagi setelah menopause. Faktanya, seorang wanita yang berusia 50 tahun berisiko mengembangkan penyakit ini sebesar 40 persen dan menyebabkan kematian sebesar 31 persen.
  • Kemungkinan meningkatnya depresi pada wanita lansia. Menurut, Prof. Georg Schmidt, seorang ahli jantung di unit pengobatan internal di Rumah Sakit Universitas TUM, Rechts der Isar, penyebab sosial memainkan peran penting. “Dalam kehidupan sehari-hari, wanita sering menghadapi harapan yang berbeda setelah serangan jantung daripada pria. Mereka diharapkan mulai ‘berfungsi’ lagi lebih cepat, yang berarti mereka mengalami tekanan yang lebih besar,” kata Georg Schmidt.
  • Adanya perbedaan biologis seperti pembuluh darah kecil wanita yang meningkatkan risiko komplikasi selama angioplasti (prosedur untuk membuka penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah jantung).

Perawatan dan pengawasan khusus pasien wanita dengan serangan jantung pada tahun pertama

Kemudian, dilansir dari WebMD, peneliti menganalis data dari registrasi regional antara Januari 2006 sampai Desember 2007 yang mencakup lebih dari 3.500 pasien, sekitar sepertiganya adalah wanita. Wanita yang lebih tua biasanya lebih banyak memiliki masalah kesehatan dan menerima lebih sedikit perawatan yang efektif untuk serangan jantung karena sebagian besar tidak menyadari gejalanya.

“Dokter harus menyadari situasi sosial pasien dan memberikan dukungan. Terutama bila ada tanda-tanda depresi, dokter harus waspada. Jika indikasi tersebut diperhatikan, penting untuk merujuk pasien dengan cepat ke spesialis sehingga mereka dapat mulai terapi sesegera mungkin jika diperlukan”, kata Dr. Georg Schmidt, ahli jantung Universitas TUM.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca