8 Penyebab Keringat Dingin, Sekaligus Cara Mengatasinya

    8 Penyebab Keringat Dingin, Sekaligus Cara Mengatasinya

    Terkadang keringat bisa muncul saat Anda berada di ruangan yang sejuk atau ketika badan tidak terasa panas. Kondisi ini kerap kali disebut keringat dingin, dan ternyata cukup umum terjadi. Hampir semua orang pernah mengalaminya. Namun, tahukah Anda apa penyebab tubuh berkeringat dingin?

    Penyebab munculnya keringat dingin

    tubuh manusia juga dapat mengeluarkan keringat di cuaca dingin; pemicunya adalah adaptasi tubuh atau masalah keringat berlebihan (hiperhidrosis)

    Keringat dingin (diaphoresis) adalah kondisi yang biasanya hanya terjadi di area-area tertentu seperti telapak tangan, ketiak, atau telapak kaki. Seseorang dikatakan mengalami keringat dingin bila berkeringat saat kulitnya dalam keadaan dingin.

    Banyak yang mengira bahwa keringat dingin atau cold sweat sama dengan night sweat, padahal keduanya adalah kondisi yang berbeda.

    Seperti namanya, night sweat (berkeringat di malam hari) hanya terjadi saat malam hari seperti ketika Anda sedang tidur. Sementara, cold sweat bisa terjadi kapan saja, baik pagi, siang, sore, maupun malam hari.

    Gejala lain yang mungkin muncul bersamaan dengan keringat dingin adalah jantung yang berdetak lebih keras, deru napas yang lebih kencang, kelenjar keringat terbuka, serta lepasnya hormon endorfin.

    Kurangnya aliran darah menuju ke sistem pencernaan juga dapat menjadi gejala keringat dingin sehingga menyebabkan produksi saliva berkurang dan mulut menjadi kering.

    Pada kondisi ini, keringat yang dihasilkan berasal dari kelenjar keringat apokrin. Tentunya keringat ini berbeda dengan keringat yang dihasilkan kelenjar ekrin yang bertugas untuk mengatur suhu tubuh.

    Berikut ini ada beberapa hal yang bisa jadi penyebab munculnya keringat dingin.

    1. Rasa takut, cemas, dan stres

    Umumnya, keringat dingin muncul sebagai bentuk respons tubuh terhadap ancaman yang berasal dari luar. Rasa takut, cemas, dan stres inilah yang nantinya akan memicu kelenjar keringat untuk memproduksi keringat meski suhu tubuh atau udara di sekitar tidak meningkat.

    2. Kurang oksigen

    Terkadang, stres dan cemas juga disertai dengan kesulitan saat bernapas. Bila hal ini terjadi, akibatnya suplai oksigen dalam darah pun akan menurun. Otak kemudian membaca situasi tersebut sebagai ancaman dan akhirnya memproduksi keringat dingin.

    3. Rasa sakit dan nyeri

    Rasa sakit yang tak tertahankan karena migrain, patah tulang, atau luka berat dapat menimbulkan kondisi ini. Keluarnya keringat terjadi sebagai cara tubuh untuk bertahan diri dan meringankan rasa sakit.

    4. Tekanan darah rendah

    uremia

    Normalnya, tekanan darah berkisar pada angka 120/80 mm Hg. Bila tekanan darah Anda lebih rendah, maka Anda akan merasa pusing, lemas, dan mengalami keringat dingin. Rendahnya tekanan darah bisa terjadi karena penggunaan obat tertentu, dehidrasi, atau memiliki masalah pada jantung.

    5. Gula darah rendah

    Gula darah yang terlalu rendah atau hipoglikemia kerap dialami oleh penderita diabetes yang menggunakan insulin. Berkeringat adalah salah satu gejala dari kondisi ini, bersama dengan gemetar, pandangan kabur, serta sakit kepala.

    Gula darah rendah juga bisa disebabkan dari konsumsi alkohol yang terlalu banyak, kurang gizi, atau terlambat makan.

    Apakah Anda berisiko terkena diabetes? Cek risikonya di sini!

    6. Penyakit jantung

    Munculnya keringat juga bisa menandakan adanya penyakit jantung, terutama bila disertai dengan rasa sakit di dada, nyeri pada lengan, pusing, atau bahkan hilang kesadaran. Penyakit jantung perlu mendapatkan pertolongan segera.

    Oleh karena itu, jika Anda mengalami gejala di atas segera minta pertolongan medis.

    7. Shock

    Shock atau guncangan medis terjadi saat aliran darah menuju otak atau organ vital lainnya tiba-tiba berhenti. Keringat dingin adalah salah satu pertandanya. Bila tidak ditangani dengan tepat, guncangan medis dapat menyebabkan kematian.

    8. Infeksi

    Berkeringat dingin bisa jadi adalah sebuah reaksi yang muncul saat tubuh berusaha melawan berbagai penyakit dari infeksi virus dan bakteri. Penyakit ini juga biasanya akan menunjukkan gejala lain seperti lemas dan nyeri otot.

    Bagaimana cara mengatasi keringat dingin?

    Tips sehat untuk ODHA penderita HIV

    Sebenarnya, keringat dingin lebih sering muncul sebagai gejala suatu kondisi, sehingga penanganannya pun akan berfokus pada penyebabnya. Namun, ada beberapa cara yang bisa Anda coba untuk mengurangi risikonya yaitu sebagai berikut.

    1. Menggunakan obat-obatan

    Untuk mengatasi keringat dingin, Anda bisa menggunakan obat-obatan tertentu yang berkaitan dengan penyebab munculnya keringat tersebut. Obat-obatan yang mungkin bisa Anda gunakan untuk mengatasi kondisi ini adalah sebagai berikut.

    • Nerve blockers. Obat-obatan ini berfungsi untuk menghalangi saraf yang bertugas sebagai pemberi sinyal pada kelenjar produksi keringat.
    • Antidepresan. Obat bisa digunakan bila penyebabnya adalah kecemasan.

    Sebelum menggunakan obat-obatan di atas, pastikan bahwa Anda sudah yakin pada penyebabnya. Selain itu, lebih baik berkonsultasi kepada dokter terlebih dahulu mengenai kondisi Anda, dan obat-obatan apa yang sebaiknya Anda gunakan.

    2. Olahraga

    Salah satu cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi keringat dingin adalah memperbanyak olahraga. Pilih jenis olahraga yang tidak terlalu berat dan dapat membantu Anda mengurangi rasa stres, seperti yoga dan jenis olahraga relaksasi lainnya.

    Yoga, meditasi, dan olahraga relaksasi bisa sangat membantu untuk mengurangi rasa stres dan kecemasan sehingga Anda bisa lebih tenang dan rileks. Lakukan kegiatan ini secara rutin agar risiko mengalami kondisi ini pun berkurang.

    3. Terapkan pola makan sehat

    makanan untuk penderita kanker hati

    Pada beberapa orang, makanan dan minuman tertentu bisa memicu tubuh menghasilkan lebih banyak keringat. Hal ini juga bisa terjadi saat Anda mengalami keringat dingin.

    Jika Anda ingin mengatasi gejala kondisi ini, Anda sebaiknya mengurangi asupan kafein yang memang berpotensi meningkatkan produksi keringat.

    Lebih baik, jaga asupan air mineral Anda sepanjang hari agar Anda terhindar dari dehidrasi. Berhenti merokok dan mengonsumsi alkohol juga bisa membantu Anda mencegah Anda mengalami keringat dingin.

    4. Menjaga kebersihan tubuh

    Salah satu cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi keringat dingin adalah menjaga kebersihan tubuh. Melakukannya dapat menghindarkan Anda dari risiko bau badan akibat berkeringat terus menerus.

    Misalnya, Anda bisa memulai dengan mandi menggunakan sabun antibakteri yang dapat membantu Anda mengurangi bau badan.

    Pastikan juga area tubuh yang rentan dengan keringat ini tetap kering, sehingga risiko munculnya bakteri yang menyebabkan bau badan beserta rasa tidak nyaman akibat keringat berkurang.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Low blood pressure (hypotension). (n.d.). Retrieved January 14, 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21156-low-blood-pressure-hypotension

    Night Sweats. (2017). National Health Service. Retrieved January 14, 2022, from https://www.nhs.uk/conditions/night-sweats/

    Anxiety Disorders. (2018). National Institute of Mental Health. Retrieved January 14, 2022, from https://www.nimh.nih.gov/health/topics/anxiety-disorders/index.shtml

    Understanding the Stress Response. (2020). Harvard Health Publishing. Retrieved January 14, 2022, from https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/understanding-the-stress-response

    Shock. (2019). Mayo Clinic. Retrieved January 14, 2022, from https://www.mayoclinic.org/first-aid/first-aid-shock/basics/art-20056620

    Mold, J., Holtzclaw, B., & McCarthy, L. (2012). Night Sweats: A Systematic Review of the Literature. The Journal Of The American Board Of Family Medicine, 25(6), 878-893. Retrieved 5 November 2020. doi: 10.3122/jabfm.2012.06.120033   nh

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui Mar 21
    Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa