Cokelat Seperti Apa yang Paling Sehat untuk Tubuh Kita?

Oleh

Anda mungkin tahu bahwa cokelat mengandung banyak manfaat bagi kesehatan. Norman Hollenberg, seorang profesor bidang radiologi di Harvard Medical School, meneliti tentang gen yang berfungsi melindungi manusia dari kenaikan tekanan darah. Hollenberg kemudian meneliti suku Kuna, suatu suku yang sudah terisolasi hampir selama 500 tahun, di mana kejadian hipertensi dalam suku tersebut sangat jarang dan risikonya tetap rendah seiring dengan pertambahan usia.

Setelah diteliti, ternyata suku Kuna bisa mengonsumsi hingga lima gelas minuman cokelat per harinya.

Ada apa di dalam cokelat?

Cokelat yang digunakan suku Kuna lebih kaya akan senyawa flavanol. Selain itu cokelat tersebut juga menstimulasi tubuh memproduksi suatu senyawa yang disebut nitrat oksida. Berbentuk gas, senyawa ini biasa ditemukan dalam asap rokok. Meskipun begitu, nitrat oksida yang dihasilkan dari cokelat memiliki potensi sebagai pengobatan untuk tekanan darah tinggi, arteri yang tersumbat, gagal jantung kongestif, stroke, dementia, sampai hipotensi. Pernyataan ini disampaikan oleh Thomas Michel, profesor di bidang medicine Harvard Medical School, seperti dikutip dari Harvard Gazette.

Manfaat cokelat menurut Hollenberg, berada pada flavanolnya. Flavanol dalam cokelat ini mengaktifkan gen dalam tubuh untuk memproduksi nitrit oksida. Nitrit oksida bekerja dengan cara merelaksasi pembuluh darah sehingga meningkatkan aliran darah beserta oksigen ke organ-organ tubuh. Selain nitrit oksida, kandungan antioksidan dalam cokelat juga dapat membantu menurunkan risiko penyakit. Antioksidan membantu tubuh menangkal efek buruk dari radikal bebas yang bisa menyebabkan kerusakan pada sel-sel tubuh.

Hollenberg kemudian melakukan eksperimen terkait efek cokelat pada peredaran darah. Mereka yang berusia lebih dari 50 tahun diminta untuk mengonsumsi minuman cokelat yang kaya akan flavanol. Ternyata aliran darah mereka menjadi lebih lancar. Begitu juga ketika eksperimen tersebut dilakukan terhadap orang yang berusia lebih muda. Flavanol memberi efek yang kurang lebih sama. Hasil dari eksperimen ini memberikan harapan untuk pengobatan penyakit yang berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif pada usia lanjut. Dengan melancarkan aliran darah ke bagian otak, diharapkan pencegahan penyakit dementia dapat dilakukan.

Lalu bagaimana dengan lemak yang terdapat pada cokelat? Lemak dalam cokelat berasal dari cocoa butter yang terdiri dari asam oleat (termasuk dalam jenis lemak tidak jenuh) serta stearat dan asam palmitat yang termasuk dalam lemak jenuh. Lemak jenuh ini hanya berjumlah sepertiga dari keseluruhan lemak yang ada pada cokelat. Namun, jika dikonsumsi terlalu banyak manfaat cokelat bagi kesehatan bisa berkurang dan justru menyebabkan penyakit.

Apakah semua jenis cokelat baik bagi kesehatan?

Sebelum Anda terburu-buru memborong cokelat di supermarket, Anda harus mengetahui jenis cokelat seperti apa yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan. Yang dimaksud dengan minuman cokelat yang dikonsumsi oleh suku Kuna adalah cokelat murni yang berasal dari pohon kakao. Suku Kuna menanam dan kemudian memproses cokelat mereka sendiri.

Tidak semua produk cokelat mengandung kadar flavanol yang tinggi. Cokelat atau kakao yang alami memiliki rasa yang kuat karena kandungan flavanolnya. Saat kakao diproses menjadi produk olahannya, beberapa perlakuan (seperti fermentasi, pemanggangan, dan seterusnya) menyebabkan kadar flavanol menurun. Semakin banyak tahapan dan proses yang dilalui, maka semakin banyak pula flavanol yang hilang. Selain itu cokelat yang dijual komersil biasanya sudah melalui banyak proses baik penambahan pemanis, susu, penstabil, lemak, dan lain-lain. Ini menjadikan cokelat tidak lagi murni dan kadar flavanolnya jauh berkurang jika dibandingkan dengan cokelat yang dikonsumsi oleh suku Kuna.

Cokelat yang kurang sehat

Untuk mendapatkan manfaat cokelat, pilihlah jenis dark chocolate. Tipe cokelat ini biasanya memiliki rasa yang sedikit pahit, karena kandungan kakaonya yang masih banyak. Hindari jenis cokelat yang berlabel milk chocolate, rasanya lebih manis karena tambahan susu dan gula.

Jenis cokelat putih atau white chocolate juga sebaiknya dihindari karena dibuat dari cocoa butter, gula, dan susu sehingga tinggi dengan lemak jenuh.

Jika membeli cokelat bubuk, pilihlah jenis cokelat yang tidak melalui suatu proses yang disebut dutch proses. Pada proses ini, kakao akan dicampur dengan larutan potasium karbonat untuk menetralisir sifat asam dari kakao. Bubuk cokelat yang melewati dutch proses biasanya memiliki warna yang lebih gelap jika dibandingkan dengan bubuk cokelat alami.

BACA JUGA:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca