12 Hal yang Menjadi Penyebab Gusi Berdarah

    12 Hal yang Menjadi Penyebab Gusi Berdarah

    Perdarahan pada gusi sering kali dianggap sebagai masalah sepele. Padahal, kondisi ini dapat menjadi tanda masalah kesehatan serius dalam diri Anda. Lantas, apa saja yang menjadi penyebab gusi berdarah?

    Apa penyebab gusi berdarah?

    Beragam faktor dapat menjadi penyebab gusi sering berdarah. Kondisi ini bisa muncul sebagai efek pola hidup tidak sehat hingga menjadi gejala penyakit serius.

    Berikut beberapa penyebab gusi berdarah yang perlu diwaspadai.

    1. Jarang sikat gigi

    Jika Anda jarang menggosok gigi, lapisan plak yang menutupi permukaan gigi akan makin menebal dan mengeras. Plak tersebut kemudian membentuk karang gigi.

    Adanya karang gigi menyebabkan peradangan pada gusi. Peradangan yang terjadi membuat gusi menjadi bengkak, kemerahan, dan mudah berdarah.

    Untuk mencegah plak dan karang gigi, para ahli menyarankan agar Anda rajin menyikat gigi setidaknya dua kali sehari. Lakukan aktivitas ini selama dua menit dengan metode yang benar.

    2. Menyikat gigi terlalu keras

    sering sikat gigi

    Banyak orang menilai bahwa menyikat gigi dengan keras lebih efektif menghilangkan plak. Padahal, cara tersebut malah akan berdampak buruk bagi gigi dan gusi.

    Gusi merupakan jaringan yang lunak dan tipis. Benturan dan gesekan yang terjadi saat Anda menggosok gigi terlalu keras dapat memicu perdarahan.

    Untuk menghilangkan plak, Anda cukup menerapkan teknik menyikat gigi yang benar. Jangan lupa juga menggunakan sikat gigi berbulu lembut agar tidak melukai gusi.

    3. Teknik flossing yang tidak tepat

    Pemakaian benang gigi alias flossing memang dapat membantu membersihkan kotoran di sela gigi. Namun, jika Anda tidak melakukannya dengan tepat, aktivitas ini bisa menjadi penyebab gusi berdarah.

    Biasanya, perdarahan terjadi saat Anda menarik atau menggosokkan benang pada sela gigi dengan terlalu kencang. Apabila mengenai gusi, gesekan tersebut akan memicu perdarahan.

    Untuk melakukan flossing yang benar, Anda cukup menarik benang secara perlahan. Begitu juga saat melepas benang, lakukan dengan lembut dan tidak terburu-buru.

    4. Kebiasaan merokok

    Rokok mengandung racun dan bahan kimia berbahaya. Kandungan tersebut dapat memicu pertumbuhan bakteri jahat dalam mulut.

    Akibatnya, gusi Anda akan jadi lebih mudah terkena infeksi. Gusi yang infeksi rentan mengalami peradangan, pembengkakan, dan perdarahan.

    Agar terhindar dari masalah gusi, segera hentikan kebiasaan merokok. Pastikan juga Anda menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan baik.

    5. Kekurangan vitamin C dan K

    Vitamin C membantu mempercepat proses penyembuhan luka. Sementara itu, vitamin K dibutuhkan tubuh untuk proses pembekuan darah.

    Tanpa asupan keduanya, gusi akan lebih mudah mengalami perdarahan. Perdarahan bahkan bisa terjadi walaupun hanya dari luka gores kecil.

    Untuk mengurangi risikonya, pastikan kedua asupan vitamin tersebut terpenuhi. Anda bisa mengonsumsi makanan seperti jeruk, jambu biji, sayuran berdaun hijau, dan kacang-kacangan.

    6. Gingivitis

    Gingivitis atau radang gusi merupakan penyebab utama gusi sering berdarah. Selain itu, peradangan yang terjadi juga membuat gusi terasa nyeri, ngilu, dan bengkak.

    Radang gusi disebabkan oleh penumpukan plak yang menutupi permukaan gigi. Plak yang menumpuk akan mengeras dan berubah menjadi karang gigi.

    Karang gigi inilah yang kemudian memicu peradangan pada gusi. Akibatnya, jaringan gusi dan sekitarnya lebih mudah mengalami perdarahan.

    7. Periodontitis

    penyebab gusi berdarah

    Periodontitis merupakan infeksi serius yang merusak jaringan gusi dan tulang penyokong gigi. Kondisi ini terjadi akibat gingivitis yang tidak tertangani.

    Tak hanya membuat gusi rentan berdarah, periodontitis dapat menyebabkan komplikasi serius. Selain gigi copot, penyakit ini meningkatkan risiko penyakit jantung hingga stroke.

    Maka dari itu, Anda harus segera memeriksakan diri ke dokter jika mengalami radang gusi. Dengan begitu, penanganan bisa diberikan sebelum kondisi Anda bertambah parah.

    8. Perubahan hormon

    Perubahan hormon estrogen dan progesteron selama masa hamil, puber, atau menstruasi dapat meningkatkan aliran darah ke gusi. Hasilnya, jaringan gusi jadi lebih mudah berdarah.

    Selain itu, perubahan hormon selama kehamilan bisa melemahkan sistem imun. Akibatnya, ibu hamil rentan sakit gigi dan gusinya lebih mudah mengalami infeksi.

    Seperti yang telah disebutkan, infeksi pada gusi dapat memicu perdarahan. Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) menyebut, risiko ini biasanya meningkat pada trimester awal kehamilan.

    9. HIV/AIDS

    Para ahli menyebutkan, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) lebih berisiko mengalami masalah gigi dan mulut. Kondisi yang sering dialami ODHA yakni gusi berdarah, gingivitis, herpes mulut, hingga karies gigi.

    Risikonya akan semakin meningkat ketika pengidapnya tidak bisa merawat gigi dengan baik. Masalah gigi dan mulut tentu akan lebih rentan terjadi.

    Selain karena sifat penyakit yang melemahkan sistem imun, efek pengobatannya pun menimbulkan dampak serupa. Akibatnya, tubuh pengidap HIV/AIDS akan lebih sulit melawan infeksi.

    10. Diabetes

    Gusi yang sering bengkak dan berdarah bisa menjadi pertanda penyakit diabetes. Penyakit ini membuat Anda lebih rentan terhadap penyakit gusi.

    Kadar gula darah yang tinggi melemahkan sistem imun untuk melawan bakteri dalam mulut. Alhasil, bakteri dalam plak gigi lebih mudah menyebabkan peradangan dan infeksi gusi.

    Diabetes juga dapat memperburuk sirkulasi darah. Kondisi tersebut menghambat suplai darah kaya oksigen ke gusi sehingga membuatnya lebih rentan terinfeksi.

    11. Gangguan pembekuan darah

    Riwayat penyakit terkait gangguan pembekuan darah meningkatkan risiko perdarahan pada gusi. Bahkan, goresan kecil saja dapat membuat Anda mengalami perdarahan yang parah.

    Beberapa penyakit gangguan pembekuan darah yang dapat menjadi pemicunya, antara lain:

    • leukimia (kanker darah),
    • hemofilia, dan
    • trombositopenia.

    12. Efek konsumsi obat tertentu

    Konsumsi obat antikejang, pengendali tekanan darah, antihistamin, dan antidepresan dapat menyebabkan mulut kering. Kondisi tersebut akan membuat gusi lebih mudah berdarah.

    Untuk mengatasinya, Anda cukup memperbanyak konsumsi air putih. Selain itu, Anda juga bisa meminta dokter meresepkan obat lain yang tidak memengaruhi gusi.

    Jika gusi sering berdarah, segera konsultasikan ke dokter gigi. Dengan begitu, Anda dapat mengetahui apa yang menjadi penyebab gusi sering berdarah.

    Mengetahui penyebab gusi berdarah penting untuk menentukan tindakan penanganan yang tepat. Sebaliknya, cara penanganan yang salah dapat memperparah kondisi Anda.

    Ragam penyebab gusi berdarah

    • Kebiasaan merokok.
    • Kebersihan gigi yang buruk.
    • Teknik yang salah dalam membersihkan gigi, baik saat menggosok gigi atau flossing.
    • Penyakit seperti gingivitis, periodontitis, HIV/AIDS, gangguan pembekuan darah, hingga diabetes.
    • Perubahan hormon yang terjadi saat puber, kehamilan, menstruasi, dan menopause.
    • Efek konsumsi obat seperti antihistamin, antikejang, atau penurun tekanan darah.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Bleeding gums. (2022). Retrieved 14 November 2022, from https://medlineplus.gov/ency/article/003062.htm

    What are bleeding gums? | Nicklaus Children’s Hospital. (2022). Retrieved 14 November 2022, from https://www.nicklauschildrens.org/symptoms/bleeding-gums

    Bleeding Gums. (2022). Retrieved 14 November 2022, from https://www.mouthhealthy.org/all-topics-a-z/bleeding-gums

    Bleeding gums and dental bleeding. (2022). Retrieved 14 November 2022, from https://www.healthdirect.gov.au/bleeding-gums-and-dental-bleeding

    Hubungan kehamilan dan penyakit periodontal. (2021). Retrieved 14 November 2022, from http://jurnal.pdgi.or.id/index.php/jpdgi/article/view/96/96

    Gum disease . (2018). Retrieved 14 November 2022, from https://www.nhs.uk/conditions/gum-disease/

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Bayu Galih Permana Diperbarui a week ago
    Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa