backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Ragam Masalah Kesehatan Akibat Tidak Sikat Gigi

Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa · General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Bayu Galih Permana · Tanggal diperbarui 21/11/2022

Ragam Masalah Kesehatan Akibat Tidak Sikat Gigi

Gosok gigi merupakan kewajiban yang tidak boleh dilewatkan. Buruknya kesehatan gigi tidak hanya menyebabkan kerusakan gigi, tetapi juga berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Apa saja masalah yang bisa muncul akibat tidak sikat gigi?

Masalah kesehatan akibat tidak sikat gigi

Masalah paling umum akibat tidak sikat gigi adalah kerusakan gigi dan gusi. Jika terus dibiarkan, kedua kondisi tersebut dapat berkembang menjadi komplikasi yang berbahaya.

Berikut beragam masalah kesehatan yang bisa terjadi akibat tidak gosok gigi.

1. Bau mulut

bau mulut gigi berlubang

Tidak menggosok gigi akan membuat sisa makanan menempel pada gigi. Sisa makanan di gigi kemudian menjadi santapan bagi bakteri mulut.

Proses penguraian sisa makanan yang dilakukan oleh bakteri menghasilkan gas sulfur atau belerang yang memiliki bau menyengat. Akibatnya, muncul bau mulut yang tidak sedap.

2. Gigi berlubang

Malas gosok gigi dapat mengakibatkan penumpukan plak. Plak yang berisikan bakteri tersebut lama-kelamaan akan mengikis enamel dan memicu kemunculan lubang pada gigi.

Jika tak segera dibersihkan, lubang gigi akan makin membesar. Virus dan bakteri pun kemudian dapat masuk ke dalam lubang, menyebar ke seluruh tubuh, dan mengakibatkan infeksi.

3. Abses gigi

Abses gigi terjadi ketika bakteri masuk ke dalam lubang gigi. Infeksi bakteri kemudian menimbulkan benjolan nanah pada akar gigi.

Apabila tidak segera ditangani, infeksi akan menyebar ke jaringan lunak pada wajah, leher, dan area sekitarnya. Pada kasus yang parah, infeksi dapat menyerang selaput otak dan menyebabkan peradangan.

4. Gingivitis (radang gusi)

Gingivitis terjadi ketika bakteri mulut yang menumpuk akibat jarang sikat gigi mulai menginfeksi gusi. Kondisi ini membuat gusi bengkak, meradang, dan berwarna kemerahan.

Selain itu, gusi pun menjadi lebih mudah berdarah ketika bergesekan dengan benda asing. Apabila tidak segera mendapat penanganan, gingivitis bisa berkembang menjadi periodontitis.

5. Periodontitis

Periodontitis merupakan tahap lanjutan dari gingivitis. Penyakit ini terjadi saat infeksi gusi yang Anda derita sudah sangat parah.

Penyakit gusi ini perlu segera mendapatkan penanganan. Jika dibiarkan, infeksi dapat menyebar ke seluruh tubuh dan mengakibatkan komplikasi yang lebih serius.

6. Endokarditis

Masalah pada jantung juga bisa terjadi akibat tidak menyikat gigi, salah satunya endokarditis. Penyakit ini terjadi ketika bakteri mulai menginfeksi lapisan dalam ruang atau katup jantung.

Endokarditis menjadi awal dari detak jantung yang tidak teratur (aritmia). Dalam kasus yang parah, penyakit ini bahkan dapat menyebabkan gagal jantung.

Beberapa gejalanya yang perlu Anda waspadai meliputi:

  • pergelangan tangan atau kaki bengkak, 
  • terdengar bunyi jantung akibat darah yang mengalir deras, 
  • urine bercampur darah, serta 
  • bagian kiri tubuh (dekat tulang rusuk) menjadi lebih sensitif.

7. Penyakit kardiovaskular

mudah lelah

Infeksi bakteri akibat malas gosok gigi dapat menyebar ke pembuluh darah dan jantung. Kondisi tersebut meningkatkan risiko Anda untuk terserang penyakit berikut.

  • Penyakit arteri koroner: gangguan fungsi jantung akibat tersumbatnya arteri koroner.
  • Aterosklerosis: terhambatnya aliran darah menuju jantung karena sumbatan atau pengerasan pembuluh darah arteri.
  • Stroke: perdarahan dan peradangan gusi dapat mengurangi aliran darah ke otak sehingga terjadilah stroke.
  • 8. Pneumonia

    Pneumonia akibat jarang sikat gigi terjadi saat bakteri mulut masuk ke tubuh dan menginfeksi paru-paru. Masuknya bakteri ke paru-paru berlangsung ketika Anda bernapas melalui mulut.

    Dilansir dari laman Geisinger Health, sejumlah penelitian menyebut bahwa meningkatkan kesehatan mulut dapat membantu mengurangi risiko pneumonia hingga 40 persen.

    9. Demensia

    Beberapa peneliti menemukan bahwa orang yang tidak sikat gigi 65% lebih berisiko mengalami demensia. Kondisi ini terjadi ketika bakteri mulut mulai menyerang otak.

    Demensia membuat fungsi otak Anda menjadi terganggu. Penyakit ini akan memengaruhi kemampuan kognitif, berpikir, bertingkah laku, hingga berbicara.

    10. Komplikasi kehamilan

    Ketika Anda hamil, tubuh menjadi lebih rentan terhadap bakteri dan virus. Infeksi tersebut tidak hanya membahayakan nyawa ibu hamil, tetapi juga janin.

    Umumnya, infeksi bakteri atau virus menyerang lewat aliran darah yang terhubung ke janin. Akibatnya, Anda berisiko mengalami komplikasi kehamilan, seperti:

    • preeklampsia, 
    • terhambatnya pertumbuhan janin,
    • diabetes gestasional,
    • bayi lahir dengan berat badan rendah,
    • bayi lahir mati, dan 
    • keguguran.

    Daftar di atas mungkin belum mencakup semua masalah kesehatan akibat tidak sikat gigi. Untuk mengetahuinya secara lengkap, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter.

    Guna mengurangi risikonya, pastikan Anda menyikat gigi dua kali sehari dengan metode yang benar. Lakukan tiap sesi sikat gigi, minimal dua menit.

    Selain itu, jangan lupa lakukan aktivitas tambahan seperti flossing dan berkumur memakai obat kumur antiseptik. Lakukan juga pemeriksaan rutin ke dokter gigi minimal enam bulan sekali.

    Lewat pemeriksaan rutin, masalah gigi dapat dideteksi dan ditangani sedini mungkin. Dengan begitu, risiko komplikasi dapat dicegah.

    Beragam masalah kesehatan akibat tidak sikat gigi

    • Masalah gigi dan gusi seperti bau mulut, gigi berlubang, hingga infeksi gusi.
    • Penyakit kardiovaskular, mulai dari aterosklerosis, aritmia, serangan jantung, gagal jantung, dan stroke.
    • Infeksi paru-paru (pneumonia).
    • Gangguan fungsi otak (demensia).
    • Komplikasi kehamilan, seperti preeklampsia, bayi lahir prematur, dan keguguran.

    Catatan

    Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

    General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


    Ditulis oleh Bayu Galih Permana · Tanggal diperbarui 21/11/2022

    advertisement iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    advertisement iconIklan
    advertisement iconIklan