home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Kapan Waktu yang Tepat untuk Mengganti Sikat Gigi?

Kapan Waktu yang Tepat untuk Mengganti Sikat Gigi?

Sikat gigi memiliki kualitas yang berbeda-beda, ada yang cepat rusak bulu sikatnya, ada yang tahan dipakai untuk waktu yang lama. Terkadang kita tidak terlalu memperhatikan seberapa sering kita mengganti sikat gigi. Ketika kita melihat bulu sikat gigi sudah rusak, saat itulah biasanya kita mengganti sikat gigi. Namun, benarkah tindakan tersebut? Mari kita simak fakta-faktanya.

Mengapa harus mengganti sikat gigi?

Tahukah Anda bahwa mulut adalah salah satu sumber bersarangnya bakteri? Ya, itulah mengapa menjaga kesehatan mulut sangatlah penting, sebab mulut menjadi tempat pertama terjadinya pencernaan makanan.

Makanan yang kita makan akan dicerna di mulut dengan enzim-enzim yang ada pada mulut. Lalu proses pencernaan makanan dilanjutkan ke kerongkongan, dicerna oleh lambung, lalu diserap oleh usus. Terbayang bukan jika mulut kita tidak sehat? Bakteri akan ikut masuk ke dalam bagian tubuh lainnya.

Menjaga kesehatan mulut dapat dilakukan dengan rajin menyikat gigi. Menyikat gigi pun harus dilakukan dengan benar dan mencapai ke ujung gigi, sebab bakteri dapat berkembang biak di tempat-tempat tersembunyi pada bagian gigi.

Gerakannya harus dilakukan dengan cara memutar, tidak hanya searah. Kita pun harus memilih sikat gigi yang nyaman dipakai dan tidak melukai gusi.

Nah, Anda mungkin tidak sadar ketika sedang menyikat gigi, bakteri atau mikroorganisme dapat berpindah ke sikat gigi. Tempat untuk menaruh atau menyimpan sikat gigi pun belum tentu steril.

Seperti yang biasanya orang-orang lakukan, sikat gigi biasanya disimpan di tempat terbuka di dekat toilet, hal ini tentu yang bisa menjadi salah satu penyebab sikat gigi kita dihinggapi mikroorganisme.

Belum lagi, setelah menyikat gigi, sikat gigi akan basah, menyebabkan risiko bakteri berkembang cukup besar. Itulah mengapa penting bagi setiap orang untuk rutin mengganti sikat gigi.

Tetapi Anda tidak perlu khawatir, sebab belum cukup banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa bakteri yang bersarang pada sikat gigi mampu menyebabkan penyakit pada bagian mulut. Masalah gigi dan mulut biasanya disebabkan karena bakteri yang ada pada mulut sendiri.

Odol atau pasta gigi yang digunakan biasanya memiliki komponen anti-germ, di mana komponen ini mampu membuat mikroorganisme sulit bertahan. Tetapi, mikroorganisme menyukai tempat yang lembap sehingga Anda harus memastikan sikat gigi selalu kering setelah dipakai dan taruhlah sikat gigi pada tempat yang kering.

Kapan sebaiknya mengganti sikat gigi?

Berdasarkan informasi dari American Dental Association, ternyata sebaiknya kita mengganti sikat gigi setiap tiga sampai empat bulan sekali.

Jika Anda menggunakan sikat gigi yang dapat diganti kepalanya atau sikat gigi elektrik, gantilah kepala sikat itu dalam jangka waktu tiga sampai empat bulan.

Jika bulu sikat telah rusak, sebaiknya juga segera diganti. Bulu sikat yang telah rusak dapat melukai gusi, membuat gusi menjadi berdarah.

Namun, selain karena bulu sikat yang rusak, gusi yang berdarah bisa juga disebabkan karena gusi yang sensitif. Jika hal ini terjadi berkali-kali, periksakan ke dokter sehingga Anda tahu produk perawatan gigi dan gusi yang baik untuk Anda.

Jadi, jika gusi Anda sensitif, jangan sampai menunggu bulu sikat rusak baru mengganti sikat gigi. Perdarahan pada gusi tidak boleh disepelekan.

Selain itu, sikat gigi anak-anak harus lebih sering diganti dibanding orang dewasa. Anak-anak sering menggigit sikat gigi, jadi kemungkinan bulu sikat giginya akan lebih cepat rusak dibanding dengan milik orang dewasa.

Tidak hanya tekstur bulu sikat, Anda juga harus memperhatikan perubahan warna pada sikat. Jika sikat sudah berubah warna, saat itulah Anda sudah harus mengganti sikat gigi.

Bagaimana cara merawat dan membersihkan sikat gigi?

Selain memperhatikan bulu sikat dan rajin mengganti dengan yang baru, Anda juga perlu memperhatikan cara merawat dan membersihkan sikat gigi.

Berikut ini adalah tips untuk merawat dan membersihkan sikat gigi.

  • Jangan menaruh sikat gigi pada tempat yang tertutup. Sebaiknya sikat gigi ditaruh di tempat yang terbuka agar cepat kering. Hal ini untuk mencegah bakteri semakin bersarang di sikat gigi Anda.
  • Jika sikat gigi Anda memiliki penutup sikat, seperti kebanyakan produk yang ditawarkan, ada baiknya menunggu sikat kering dulu sebelum memakaikan penutupnya.
  • Bersihkan sikat gigi dengan air keran. Jika Anda memang khawatir kuman berkembang biak di sikat gigi Anda. Anda bisa membersihkannya dengan memakai obat kumur yang memiliki kandungan antiseptik atau alkohol. Obat kumur dengan kandungan hidrogen peroksida dikatakan ampuh untuk mencegah mikroorganisme berkembang di bulu sikat.
  • Taruh di tempat terbuka. Seperti yang sudah disebutkan di atas, hal ini dilakukan supaya sikat lebih cepat kering. Tidak masalah jika sikat ditaruh bersamaan dengan sikat gigi orang lain, tetapi yang perlu diingat adalah jangan pernah memakai sikat gigi yang sama bersama orang lain.

Itulah beberapa tips seputar mengganti sikat gigi serta perawatannya. Yuk, selalu perhatikan kebersihan gigi dan mulut, termasuk menjaga kebersihan sikat gigi yang Anda gunakan sehari-hari.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Toothbrushes – American Dental Association. (2019). Retrieved September 29, 2021, from https://www.ada.org/en/member-center/oral-health-topics/toothbrushes 

How Often Should You Change Your Toothbrush? – Retired Indiana Public Employees Association. (2021). Retrieved September 29, 2021, from https://ripea.org/index.php/news-updates/blog/2021/how-often-should-you-change-your-toothbrush 

Use & Handling of Toothbrushes – CDC. (2016). Retrieved September 29, 2021, from https://www.cdc.gov/oralhealth/infectioncontrol/faqs/toothbrush-handling.html 

Tangade, P. S., Shah, A. F., Ravishankar, T. L., Tirth, A., & Pal, S. (2013). Is plaque removal efficacy of toothbrush related to bristle flaring? A 3-month prospective parallel experimental study. Ethiopian journal of health sciences, 23(3), 255–264. https://doi.org/10.4314/ejhs.v23i3.8

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Shylma Na'imah Diperbarui 27/10/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.