Risiko untuk meninggal dunia karena sakit gigi sering dianggap sebelah mata oleh banyak orang. Memang, sakit gigi biasanya terasa ringan dan dianggap sepele. Lantas, bagaimana sakit gigi bisa menyebabkan kematian? Simak penjelasannya di bawah ini.
Risiko untuk meninggal dunia karena sakit gigi sering dianggap sebelah mata oleh banyak orang. Memang, sakit gigi biasanya terasa ringan dan dianggap sepele. Lantas, bagaimana sakit gigi bisa menyebabkan kematian? Simak penjelasannya di bawah ini.

Sakit gigi biasanya diartikan sebagai rasa nyeri yang terjadi di dalam atau di sekitar gigi hingga rahang. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh gigi berlubang (karies).
Jika tidak diobati, pulpa atau bagian dalam gigi bisa terinfeksi. Infeksi ini bisa menyebar ke bagian tubuh lain, termasuk leher, jantung, atau otak, yang berisiko membuat pengidapnya meninggal dunia.
Dikutip dari American Academy of Periodontology, sakit gigi dan gusi juga berhubungan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan seperti berikut ini.
Pengidap diabetes lebih berisiko untuk mengalami penyakit gusi (periodontitis) karena penyakit ini menurunkan kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.
Begitu pun sebaliknya, infeksi pada gigi dan gusi juga bisa menyebabkan peningkatan kadar gula darah sehingga diabetes menjadi lebih sulit dikendalikan.
Infeksi pada rongga mulut juga dapat menyebar melalui pembuluh darah dan menyerang organ vital, termasuk jantung.
Hal ini dapat meningkatkan risiko endokarditis, yakni infeksi yang menyerang endokardium atau lapisan dalam ruang jantung dan katup jantung.

Bakteri yang menyebabkan infeksi gigi dan gusi juga bisa menyebar ke paru-paru dan memicu gangguan pernapasan, seperti pneumonia.
Penelitian dari Korea Selatan menunjukkan risiko pneumonia cenderung meningkat pada orang dengan masalah kesehatan dan kebersihan mulut yang buruk.
Kanker merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Salah satu faktor yang meningkatkan angka insiden kanker adalah penyakit gigi dan gusi.
Beberapa studi menemukan bahwa pria dengan penyakit gusi berisiko lebih tinggi terhadap beberapa jenis kanker, yakni sebesar 49% untuk kanker ginjal, 54% untuk kanker pankreas, dan 30% untuk kanker darah.
Porphyromonas gingivalis merupakan bakteri yang sering berkaitan dengan masalah gigi dan gusi. Bakteri mulut yang ini juga diduga dapat mencapai otak dan meningkatkan risiko penyakit Alzheimer.
Studi terhadap hewan dalam jurnal Sciences Advances (2019) menemukan bakteri ini pada 51 dari 53 otak subjek dengan riwayat penyakit Alzheimer yang telah diautopsi.
Meski kasusnya langka, meninggal dunia karena sakit gigi adalah komplikasi yang tetap harus Anda waspadai.
Menurut studi dari Australian Journal of General Practice (2020), sakit gigi yang menyebabkan kematian sering digambarkan sebagai rasa sakit yang terjadi dalam hitungan minggu atau bulan.
Sakit gigi yang tidak diobati ini pada akhirnya bisa memicu abses gigi. Infeksi gigi juga berisiko menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Kondisi ini bisa memicu kemunculan sejumlah gejala serius, antara lain:
Segera kunjungi dokter gigi bila Anda merasakan gejala di atas. Perawatan dini dengan metode yang tepat akan mengurangi risiko komplikasi infeksi gigi dan gusi serta mempercepat proses pemulihan Anda.

Dokter akan menentukan cara mengobati sakit gigi berdasarkan penyebab dan keparahannya.
Jika sakit gigi disebabkan oleh gigi berlubang, dokter akan melakukan perawatan restoratif, seperti tambal gigi.
Lubang pada gigi dan jaringan yang rusak akan dibor dan dibersihkan, kemudian dokter akan mengisinya dengan bahan tambalan yang aman, seperti resin komposit.
Apabila lubang pada gigi sudah mencapai pulpa atau bahan sudah terjadi komplikasi infeksi, seperti abses gigi, dokter terlebih dahulu akan menyayat benjolan pada gusi untuk mengeluarkan dan mengeringkan nanah di dalamnya.
Selanjutnya, perawatan saluran akar (root canal treatment) dapat dilakukan pada gigi yang bermasalah untuk mengeluarkan jaringan pulpa gigi yang sudah terinfeksi.
Dokter juga mungkin melakukan prosedur cabut gigi. Ini dilakukan sebagai pilihan tindakan terakhir bila kerusakan gigi sudah parah dan gigi tidak bisa dipertahankan lagi.
Untuk melengkapi pengobatan abses gigi, dokter akan meresepkan antibiotik untuk mencegah penyebaran infeksi ke bagian tubuh lain.
Pastikan Anda meminum antibiotik sesuai anjuran dokter untuk mengurangi risiko resistensi antibiotik.
Selain antibiotik, dokter juga bisa meresepkan pereda nyeri untuk mengurangi rasa sakit dan nyeri setelah perawatan gigi.
Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Beberapa kebiasaan yang harus diubah untuk mencegah sakit gigi adalah sebagai berikut.
Intinya, jangan pernah meremehkan sakit gigi yang Anda alami. Terlambat mengobatinya dapat menyebabkan infeksi dan berbagai komplikasi serius, termasuk kematian.
Segera konsultasi dengan dokter saat Anda merasakan sakit gigi. Jangan lupa juga untuk rutin periksa gigi minimal setiap enam bulan sekali.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Abscess. (n.d.). American Dental Association. Retrieved July 17, 2025, from https://www.mouthhealthy.org/all-topics-a-z/abscess/
Gum disease and other diseases. (2019). American Academy of Periodontology. Retrieved July 17, 2025, from https://www.perio.org/for-patients/gum-disease-information/gum-disease-and-other-diseases/
Cavities and tooth decay. (2022). Mayo Clinic. Retrieved July 17, 2025, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cavities/symptoms-causes/syc-20352892
Type 2 diabetes. (2023). Mayo Clinic. Retrieved July 17, 2025, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/type-2-diabetes/symptoms-causes/syc-20351193
Bayetto, K., Cheng, A., & Goss, A. (2020). Dental abscess: A potential cause of death and morbidity. Australian Journal Of General Practice, 49(9), 563-567. https://doi.org/10.31128/ajgp-02-20-5254
Son, M., Jo, S., Lee, J., & Lee, D. (2020). Association between oral health and incidence of pneumonia: a population-based cohort study from Korea. Scientific Reports, 10(1). https://doi.org/10.1038/s41598-020-66312-2
Dominy, S., Lynch, C., Ermini, F., Benedyk, M., Marczyk, A., & Konradi, A. et al. (2019). Porphyromonas gingivalis in Alzheimer’s disease brains: Evidence for disease causation and treatment with small-molecule inhibitors. Science Advances, 5(1). https://doi.org/10.1126/sciadv.aau3333
Kim, J., Baker, L., Davarian, S., & Crimmins, E. (2013). Oral health problems and mortality. Journal Of Dental Sciences, 8(2), 115-120. https://doi.org/10.1016/j.jds.2012.12.011
Versi Terbaru
31/07/2025
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko
Ditinjau secara medis oleh drg. Maurany Annisa Haque
Diperbarui oleh: Diah Ayu Lestari