Reaksi alergi bisa muncul berupa kulit gatal, bentol, dan kemerahan. Anda mungkin juga merasakan hidung meler dan bersin-bersin. Namun, ada pula reaksi parah yang disebut syok anafilaksis, apa itu?
Reaksi alergi bisa muncul berupa kulit gatal, bentol, dan kemerahan. Anda mungkin juga merasakan hidung meler dan bersin-bersin. Namun, ada pula reaksi parah yang disebut syok anafilaksis, apa itu?

Syok anafilaksis adalah reaksi sistem imun serius yang terjadi secara tiba-tiba setelah tubuh terkena alergen atau pemicu alergi. Kondisi ini dikenal pula sebagai anafilaksis.
Reaksi yang tergolong sebagai kondisi medis darurat ini dapat terjadi di mana saja dalam hitungan detik hingga menit setelah Anda terkena alergen.
Gejala alergi pada anafilaksis bisa menyebabkan syok hingga kematian bila tidak segera ditangani.

Reaksi anafilaksis dapat memengaruhi banyak sistem tubuh secara bersamaan. Berikut adalah gejala yang paling umum.
Pasien harus segera ditangani dalam waktu 30 – 60 menit karena reaksi yang terjadi bisa berakibat fatal. Gejala anafilaksis dapat muncul tiba-tiba dan bertambah parah dengan sangat cepat.
Segera hubungi dokter jika Anda memiliki gejala seperti berikut ini.
Ketika terpapar zat-zat asing, sistem imun membentuk antibodi untuk melindungi tubuh dari penyakit atau kerusakan.
Respons ini sebetulnya bermanfaat bila zat asing memang berbahaya, seperti virus atau parasit.
Namun, terkadang sistem imun justru bereaksi berlebihan terhadap zat-zat yang tidak berbahaya, seperti kacang atau serbuk sari.
Reaksi tersebut tidak hanya menyebabkan kulit gatal, tetapi dapat membuat tekanan darah turun drastis secara tiba-tiba sehingga menyebabkan syok dan hilangnya kesadaran.
Tidak hanya itu, reaksi anafilaksis bisa menyebabkan saluran pernapasan bengkak. Hal ini akhirnya dapat membuat Anda kesulitan saat bernapas.
Ada banyak alergen yang dapat memicu syok anafilaksis, seperti:
Sementara itu, alergen pemicu syok anafilaksis yang lebih jarang meliputi:.
Syok anafilaksis dapat dialami oleh siapa saja, baik pria maupun wanita. Namun, orang dengan kondisi tertentu bisa berisiko mengalami anafilaksis.
Berikut sejumlah kondisi yang meningkatkan risiko Anda mengalami syok anafilaksis.
Anafilaksis merupakan kondisi serius yang bisa memicu kematian jika tidak ditangani dengan baik.
Pasalnya, kondisi ini bisa menyebabkan seseorang mengalami kesulitan bernapas yang membuat oksigen di tubuh berkurang.
Selain itu, kondisi ini bisa membuat tekanan jantung yang sangat rendah bisa menyebabkan kerusakan organ.
Komplikasi juga bisa muncul akibat overdosis epinefrin dan memicu komplikasi penyakit jantung, seperti tekanan darah tinggi serta detak jantung sangat cepat dan tak beraturan.
Dokter mungkin menanyakan jenis-jenis alergi yang dimiliki dan mengecek apakah tubuh bereaksi terhadap makanan tertentu, obat-obatan, lateks, atau sengatan serangga.
Dokter juga bisa melakukan tes darah untuk mengecek kadar enzim tripase. Enzim ini meningkat hingga tiga jam setelah anafilaksis.
Untuk mencari kemungkinan pemicu anafilaksis lainnya, dokter juga akan melakukan tes kulit atau darah.

Anafilaksis perlu segera ditangani dengan langkah pertolongan pertama dan pengobatan dari dokter. Berikut ini pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi ini.
Berikut cara pemberian pertolongan pertama saat alergi bila syok anafilaksis.
Berikut obat alergi dan lainnya yang mungkin diberikan dokter untuk anafilaksis.
Cara terbaik untuk mencegah anafilaksis adalah dengan mencegah alergi, yakni menjauhi alergen.
Anda dapat mengetahuinya dengan tes alergi sederhana berupa tes tusuk kulit (skin prick test), tes tempel kulit (patch test), ataupun tes darah.
Anda juga perlu memberitahu orang-orang terdekat bahwa Anda berisiko mengalami reaksi alergi parah.
Berikan panduan tentang apa yang harus mereka lakukan bila Anda menderita syok anafilaksis.
Dengan cara ini, orang-orang di sekitar Anda akan lebih waspada dan membantu Anda menghindari berbagai pemicu alergi yang tidak terduga. Hal ini sangat berguna ketika Anda sedang bepergian atau makan di luar rumah.
Syok anafilaksis dapat terjadi di mana saja sehingga penderitanya harus waspada.
Kendati demikian, Anda tetap bisa menikmati kegiatan sehari-hari asalkan menghindari berbagai alergen dan menyiapkan suntikan epinefrin.
Kesimpulan
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Anaphylaxis – Symptoms and causes. (2021). Retrieved 21 November 2024, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/anaphylaxis/symptoms-causes/syc-20351468
First aid for anaphylaxis. (2024). Retrieved 21 November 2024, from https://www.mayoclinic.org/first-aid/first-aid-anaphylaxis/basics/art-20056608
Anaphylaxis Symptoms, Diagnosis, Treatment & Management. AAAAI. (n.d). Retrieved 21 November 2024, from https://www.aaaai.org/Conditions-Treatments/allergies/anaphylaxis
Anaphylaxis | Causes, Symptoms & Treatment | ACAAI Public Website. (2018). Retrieved 21 November 2024, from https://acaai.org/allergies/symptoms/anaphylaxis/
Anaphylaxis. (2023). Retrieved 21 November 2024, from https://www.nhs.uk/conditions/anaphylaxis/
Anaphylaxis (Severe Allergic Reaction). (2017). Retrieved 21 November 2024, from https://aafa.org/allergies/allergy-symptoms/anaphylaxis-severe-allergic-reaction/
McLendon, K., & Sternard, B. (2023). Anaphylaxis. Statpearls Publishing. Retrieved 21 November 2024, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482124/
Versi Terbaru
02/12/2024
Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro
Diperbarui oleh: Fidhia Kemala
Ditinjau secara medis oleh
dr. Patricia Lukas Goentoro
General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)