home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Alergi Air: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Alergi Air: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Air adalah salah satu kebutuhan hidup manusia yang tidak dapat digantikan. Bayangkan jika Anda harus bertahan satu hari saja tanpa air, terdengar mustahil bukan?

Sayangnya, ada segelintir orang yang justru harus berhati-hati ketika menggunakannya. Mereka biasanya menderita alergi pada kulit yang disebabkan oleh air.

Apa itu alergi air (aquagenic urtikaria)?

Spyrocon obat antijamur gatal

Alergi air merupakan jenis reaksi alergi yang cukup langka, tetapi dapat terjadi siapa saja. Alergi yang memiliki istilah medis berupa aquagenic urticaria ini menimbulkan reaksi alergi berupa gatal-gatal dan ruam.

Reaksi alergi pada kulit tersebut terjadi ketika penderitanya bersentuhan dengan air, terlepas dari suhunya. Kondisi ini merupakan salah satu dari bentuk urtikaria dan penyebabnya masih belum diketahui dengan pasti.

Menurut laporan tahun 2011 dari Annals of Dermatology, kurang dari 100 kasus urtikaria aquagenik telah dilaporkan. Masalah kulit ini juga lebih sering terjadi pada wanita yang telah melewati masa pubertas.

Sebagian besar kasus terjadi secara tidak merata. Namun, ada beberapa laporan yang menunjukkan anggota keluarga penderita alergi air juga mengalami hal yang sama. Oleh sebab itu, hal ini yang membuat urtikaria aquagenik terbilang cukup langka.

Penyebab aquagenic urtikaria

Hingga saat ini, para ahli dan spesialis kulit masih berusaha mempelajari penyebab alergi kulit akibat air lebih lanjut. Pasalnya, kasus reaksi alergi yang satu ini terbilang cukup langka dan banyak ahli yang percaya bahwa kondisi ini tidak diturunkan melalui gen dalam keluarga.

Walaupun demikian, ada beberapa hal yang sangat mungkin memicu reaksi alergi ketika seseorang menyentuh pemicunya.

Pertama, senyawa kimia adiktif yang terkandung dalam air, seperti klorin, disinyalir dapat menyebabkan reaksi. Artinya, gejala alergi kulit yang muncul tidak terjadi akibat kontak air itu sendiri, melainkan adanya zat kimia di dalamnya.

Kedua, ada kemungkinan kulit Anda mengandung zat yang menghasilkan senyawa beracun ketika berinteraksi dengan air. Akibatnya, sistem imun akan melepaskan histamin sebagai respons untuk melawan zat yang dianggap berbahaya (alergen).

Pelepasan histamin ini kemudian memicu gejala yang mirip dengan reaksi alergi, seperti ruam, gatal, dan perih pada kulit. Para peneliti sampai saat ini belum mengetahui dengan pasti, mengapa reaksi antara air dengan partikel atau zat alami tubuh dapat menghasilkan racun.

Gejala alergi air

ruam di pergelangan tangan

Pada umumnya, gejala alergi pada kulit tidak hanya akan muncul ketika Anda berkontak langsung dengan air ketika mandi. Anda juga bisa mengalami reaksi alergi ketika berkeringat, kehujanan, atau bahkan saat menangis.

Pada beberapa kasus, tanda-tanda jenis alergi ini juga dapat terjadi ketika penderitanya minum air dalam jumlah banyak. Berikut ini ada beberapa reaksi yang mungkin muncul ketika penderita alergi air bersentuhan langsung dengan pemicunya.

  • ruam dan bentol,
  • kulit terasa gatal dan perih, serta
  • mengalami sensasi terbakar di kulit.

Gejala yang telah disebutkan di atas biasanya akan terjadi di leher, lengan, dan tubuh bagian atas. Kondisi ini juga muncul 30 menit hingga satu jam setelah Anda mengeringkan diri. Kebanyakan pasien akan mengalami gejala jika terpapar dalam waktu yang cukup lama dan jumlah air yang cukup banyak.

Ada kalanya paparan pemicu alergi yang sebentar dengan jumlah yang tidak terlalu banyak tidak menimbulkan reaksi apapun.

Kapan saya harus ke dokter?

Selain kulit yang bersentuhan langsung dengan air, alergi air juga dapat muncul ketika Anda minum. Kasus yang cukup jarang terjadi ini mungkin akan mengalami gejala berupa tenggorokan terasa perih, gatal, dan terbakar saat minum air dalam jumlah banyak.

Pada kasus yang lebih parah, reaksi alergi dapat menimbulkan gejala:

  • ruam di sekitar mulut,
  • kesulitan menelan, dan
  • sulit bernapas.

Jika Anda mengalami beberapa tanda-tanda di atas, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Bagaimana mendiagnosis kondisi ini?

Awalnya, diagnosis alergi air atau aquagenic urtikaria ini dilakukan berdasarkan tanda dan gejala yang muncul. Kemudian, dokter mungkin akan melakukan tes kulit alergi dengan menguji air pada tubuh pasien.

Pada saat proses pengujian berlangsung, tubuh bagian atas akan dikompres dengan air bersuhu 35ºC selama 30 menit. Tubuh bagian atas dipilih karena daerah lain, seperti kaki, diyakini lebih jarang terkena air.

Sebelum tes dimulai, dokter juga akan memberitahu Anda untuk tidak mengonsumsi obat-obatan anti alergi, seperti antihistamin.

Jika hasil pengujian kompres air negatif, dokter mungkin akan membasuh area tubuh tertentu dengan air atau meminta Anda untuk mandi. Tes lanjutan ini dilakukan untuk benar-benar memastikan apakah reaksi alergi yang dialami bukan disebabkan oleh air.

Obat dan perawatan alergi air

obat antihistamin untuk alergi

Akibat kelangkaan dan keterbatasan kasus, para ahli sampai saat ini masih mencari cara efektif untuk mengatasi alergi air. Berbeda dengan pengobatan alergi pada umumnya, menghindari pemicu alergi, yaitu air, memang tidak mudah.

Oleh sebab itu, dokter biasanya akan memberikan terapi dan obat alergi kulit dengan dosis tinggi yang perlu diminum setiap hari. Apa saja?

  • Antihistamin untuk mengendalikan gejala yang muncul, seperti gatal dan ruam.
  • Krim atau salep untuk mengurangi jumlah air yang masuk ke kulit.
  • Terapi sinar ultraviolet (fototerapi) untuk mengatasi gejala yang terjadi.
  • Omalizumab, obat suntik yang digunakan untuk penderita asma yang parah.

Silakan konsultasikan ke dokter terlebih dahulu sebelum menggunakan obat-obatan di atas.

Cara mencegah reaksi alergi kambuh

Selain mendapatkan pengobatan dari dokter, Anda juga perlu mencegah alergi kulit dan memperhatikan pola hidup serta lebih hati-hati. Berikut ini ada beberapa hal yang perlu diwaspadai ketika Anda mengalami alergi terhadap air.

  • Mandi dengan air dan dilakukan beberapa kali dalam seminggu.
  • Gunakan tisu basah atau hand sanitizer saat cuci tangan.
  • Batasi waktu berolahraga dan beraktivitas fisik agar tidak banyak berkeringat.
  • Langsung mengeringkan diri dan ganti baju usai berolahraga.

Apabila memiliki pertanyaan, hubungi dokter untuk mendapatkan solusi yang terbaik bagi Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Skin Allergy. (2014). American College of Allergy, Ashtma, and Immunology. Retrieved 22 December 2016, from http://acaai.org/allergies/types/skin-allergies 

Park, H., Kim, H. S., Yoo, D. S., Kim, J. W., Kim, C. W., Kim, S. S., Hwang, J. I., Lee, J. Y., & Choi, Y. J. (2011). Aquagenic urticaria: a report of two cases. Annals of dermatology, 23(Suppl 3), S371–S374. https://doi.org/10.5021/ad.2011.23.S3.S371. Retrieved 6 August 2020. 

Aquagenic Urticaria. (2016). National Center for Advancing Translational Sciences. Retrieved 6 August 2020, from https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/10901/aquagenic-urticaria

Hadlow, C., Verheyden, M., & Wain, T. (2019). Aquagenic urticaria. DermNet NZ. Retrieved 6 August 2020, from https://dermnetnz.org/topics/aquagenic-urticaria/ 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Irene Anindyaputri Diperbarui 13/11/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro