backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Daftar Makanan Penyebab Panas Dalam yang Perlu Anda Waspadai!

Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto · General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Fatin Nur Jauhara · Tanggal diperbarui 2 minggu lalu

Daftar Makanan Penyebab Panas Dalam yang Perlu Anda Waspadai!

Anda mungkin sering mendengar istilah panas dalam. Kondisi ini merujuk pada sekumpulan keluhan, seperti tenggorokan kering serta gatal, sakit tenggorokan, bibir pecah-pecah, dan sariawan. Dalam masyarakat, panas dalam sering dikaitkan dengan konsumsi makanan tertentu. Lantas, benarkah ada jenis makanan penyebab panas dalam? Berikut penjelasannya.

Jenis makanan penyebab panas dalam

Panas dalam bisa menyerang siapapun. Mulai dari anak-anak hingga dewasa. Kondisi ini mengganggu aktivitas sehari-hari karena rasa tidak nyaman di tenggorokan.

Dalam dunia medis, panas dalam disebut juga faringitis. Faringitis umumnya disebabkan oleh infeksi virus, seperti Influenza atau Rhinovirus. 

Selain itu, kondisi ini juga bisa disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti bakteri golongan Streptococcus.

Tahukah Anda?

Penyebab utama dalam panas dalam adalah infeksi virus dan bakteri. Namun, gaya hidup juga dapat meningkatkan risiko panas dalam, misalnya konsumsi makanan tertentu terlalu sering. 

Berikut adalah beberapa makanan penyebab panas dalam yang perlu diwaspadai.

1. Makanan pedas

Makanan pedas dapat menjadi penyebab panas dalam. Makan makanan yang pedas secara berlebihan dapat menyebabkan iritasi pada tenggorokan, karena makanan ini dapat meningkatkan produksi lendir dan menyebabkan peradangan di dalam tenggorokan. 

2. Makanan yang digoreng dan berminyak

Salah satu jenis makanan yang digoreng dan berminyak adalah gorengan. Jenis makanan ini sering menjadi camilan yang digemari banyak orang karena rasanya yang gurih. 

Namun, makanan ini dapat menjadi penyebab panas dalam karena gorengan umumnya memiliki tekstur kering, kasar, dan berminyak sehingga dapat mengiritasi tenggorokan terlebih jika dikonsumsi secara berlebihan.

Selain itu, kandungan minyak yang berlebih dalam gorengan menjadikan makanan ini tinggi lemak, sehingga akan lebih sulit dicerna tubuh dan dapat menekan sistem kekebalan tubuh. Hal ini dapat memperburuk gejala panas dalam.

3. Makanan asin

Makanan kemasan yang memiliki rasa asin dan renyah, seperti keripik kentang, juga dapat menjadi penyebab panas dalam. 

Kandungan garam dalam camilan ini dapat membuat tenggorokan menjadi kering dan iritasi sehingga meningkatkan risiko panas dalam.

4. Makanan dengan santan 

Indonesia memiliki banyak jenis makanan yang diolah menggunakan santan, seperti gulai, rendang, dan opor. Makanan yang diolah dengan santan ini umumnya banyak dikonsumsi saat hari raya. 

Namun, konsumsi makanan dengan santan yang berlebihan dapat menjadi penyebab panas dalam. Hal ini disebabkan santan dan susu dapat meningkatkan produksi lendir dalam tubuh hingga memicu rasa gatal pada tenggorokan.

5. Minuman bersoda

Minuman bersoda memiliki kandungan gula yang tinggi. Dalam satu kaleng minuman bersoda rata-rata mengandung 39 gram gula atau setara dengan 10 sendok teh gula. 

Konsumsi minuman tinggi gula dapat melemahkan sistem imun tubuh sehingga infeksi virus atau bakteri penyebab panas dalam dapat lebih mudah masuk. 

6. Minuman beralkohol

Ada banyak masalah kesehatan yang bisa timbul akibat konsumsi alkohol, salah satunya panas dalam. 

Konsumsi alkohol dapat menyebabkan iritasi pada tenggorokan dan memicu terjadinya gastroesophageal reflux disease (GERD). 

Minuman beralkohol juga bisa membuat tubuh dehidrasi, sehingga suhu tubuh meningkat dan memperparah keluhan sakit tenggorokan.

Cara mengatasi panas dalam

Beberapa daftar makanan penyebab panas dalam di atas mungkin tidak bisa dihindari. Oleh sebab itu, Anda perlu tahu cara mengatasi panas dalam,sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Berikut adalah beberapa cara mengatasi panas dalam yang bisa Anda lakukan.

1. Berkumur dengan air garam

Berkumur dengan air garam dan mengurangi rasa nyeri di tenggorokan untuk beberapa orang. Anda bisa membuat air garam untuk berkumur dengan cara mencampurkan seperempat sampai setengah sendok teh garam ke dalam 200 mililiter air hangat. 

Setelah air garam siap, berkumurlah dengan air garam setiap tiga jam sekali. Namun, cara ini tidak bisa digunakan untuk anak usia di bawah enam tahun. 

2. Minum obat pereda nyeri

Salah satu cara mengatasi panas dalam lainnya adalah dengan konsumsi obat untuk meringankan demam, nyeri atau rasa tidak nyaman akibat panas dalam. 

Anda bisa mengonsumsi paracetamol atau ibuprofen. Namun, bila panas dalam tak kunjung mereda, konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan resep obat yang sesuai.

Pastikan Anda mengonsumsi obat sesuai dengan dosis atau aturan pakai yang tertera pada kemasan obat.

3. Cukupi asupan cairan tubuh

Dalam mengatasi panas dalam, penting untuk mencukupi cairan tubuh dan membuat tenggorokan tetap terhidrasi. 

Pastikan Anda minum air putih yang cukup, atau sebanyak delapan gelas perhari. Selain itu, Anda bisa tambahkan dengan konsumsi larutan yang mengandung mineral alami, seperti Cap Kaki Tiga. 

mencegah panas dalam

Cap Kaki Tiga merupakan minuman legendaris yang mengandung batu mineral alami, seperti gypsum fibrosum dan calcitum. Kedua batu mineral alami ini bermanfaat dalam mengatasi panas dalam.

Gypsum fibrosum merupakan mineral yang terdiri dari kalsium, sulfur, zat besi, dan beberapa jenis mineral lainnya yang bermanfaat untuk membantu menyembuhkan tenggorokan kering, bibir pecah-pecah, dan sariawan.

Sementara itu, calcitum merupakan mineral yang terdiri dari kalsium dan magnesium yang bermanfaat untuk menurunkan panas dalam.

Cap Kaki Tiga telah menjadi teman lawan panas masyarakat Indonesia selama lebih dari 80 tahun.

Anda akan merasakan sensasi tubuh terasa lebih segar bahkan setelah konsumsi makanan penyebab panas dalam.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Carla Pramudita Susanto

General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Fatin Nur Jauhara · Tanggal diperbarui 2 minggu lalu

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan