home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mitos dan Fakta Masturbasi di Masa Pandemi COVID-19

Mitos dan Fakta Masturbasi di Masa Pandemi COVID-19

Banyak mitos seputar masturbasi yang telanjur dipercayai banyak orang, beberapa bertolak belakang dengan fakta medisnya. Masturbasi berlebihan memang bisa berakibat pada perubahan fisik, psikologis, dan sosial seseorang. Tapi apakah perubahan tersebut memiliki dampak buruk?

Mitos dan fakta seputar masturbasi yang perlu diketahui

Masturbasi adalah upaya pemenuhan dorongan seksual yang dilakukan oleh diri sendiri dengan merangsang alat kelamin sendiri atau bagian-bagian sensitif lainnya. Seseorang melakukan masturbasi untuk mendapatkan kepuasan seksual secara sengaja tanpa melakukan hubungan badan.

Menurut Penelitian Alfred C.Kinsey, 70-90% anak laki-laki melakukan masturbasi selama masa remaja, sedangkan anak perempuan mencakup 30-70%.

Asal kata dari masturbasi berasal dari bahasa latin, yaitu manus stuprate yang berarti self-abuse atau self-defile oleh tangan.

Beberapa penulis lain mengklaim bahwa kata ini berasal dari kata manus turbare yang diartikan sebagai mempercepat atau mengganggu oleh tangan. Masturbasi bisa dilakukan dengan cepat, di manapun dan kapanpun asal ada privasi.

Faktor-faktor yang berperan terhadap timbulnya kebiasaan masturbasi pada remaja yaitu meningkatnya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media massa, baik dari internet maupun rangsangan seksual melalui phone sex. Selain itu, pendidikan seksual yang masih minim juga dapat memengaruhi pemahaman anak tentang masturbasi.

Apa akibat seringnya masturbasi?

Efek masturbasi yang berlebihan dapat berakibat pada perubahan fisik, psikologi, dan sosial seseorang. Perubahan fisik yang dapat dialami adalah kelemahan motorik, rasa letih, pandangan buruk, serta impotensi.

Dalam hal psikologis, dampak yang timbul akibat masturbasi berlebihan dapat berupa kurangnya daya pikir dan ingatan, serta lebih mudah marah dan mengamuk. Seseorang yang sering masturbasi juga akan merasa kesepian dan tidak nyaman untuk berada dalam aktivitas sosial.

Masturbasi di masa pandemi

Masturbasi dianggap sebagai cara mencapai kepuasan seksual yang paling aman di saat pandemi. Karena hubungan seksual konvensional (penetrasi ataupun oral) tidak disarankan terutama apabila salah satu pasangan dinyatakan reaktif atau terpapar virus tersebut.

Hal ini didukung dengan temuan penelitian yang melaporkan bahwa didapatkannya komponen virus COVID-19 pada mulut, cairan semen (sperma), dan lubang anus seseorang yang terpapar virus tersebut. Temuan tersebut menunjukkan kemungkinan penularan melalui hubungan seksual, walaupun penelitian ini masih perlu didukung dengan penelitian yang lebih besar.

Walaupun dikatakan paling aman saat pandemi, tetapi masturbasi harus memperhatikan kebersihan jika tidak ingin mendapat dampak buruk. Cuci tangan sebelum masturbasi dan pembersihan alat bantu seksual yang tepat sangat dianjurkan.

Bahkan, badan kesehatan di Spanyol menganjurkan bahwa masturbasi saat pandemi merupakan sesuatu yang normal dan memutus rantai penularan virus COVID-19 melalui aktivitas seksual.Tentu saja hal ini harus ditinjau lebih lanjut melihat perbedaan aspek budaya dan norma agama di negara masing-masing.

Artikel ini ditulis oleh: dr. Yudo Irawan Sp.KK, dan dr. Dionisius Ivan YH

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Mahmud, D. (2018). Psikologi Suatu Pengantar (Maya, ed.). Yogyakarta. 
  • Masturbation in a Generational Perspective [Internet]. Taylor & Francis. 2020 [cited 18 December 2020]. Available from: https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1300/J056v14n02_05. 
  • Eliyanti. (2010). Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Masturbasi Pada Remaja SMA di Kecamatan Indralaya Utara. Ilmu Kesehatan Masyarakat, 3 No. 01. Retrieved from https://media.neliti.com. 
  • Warlenda, S. V., Wahyudi, A., & Siregar, Z. S. (2018). Determinan Masturbasi pada Remaja di SMA Negeri 3 Tapung Kabupaten Kampartahun 2017. Jurnal Kesehatan Komunitas, 4(2), 46–51. https://doi.org/10.25311/keskom.Vol4.Iss2.257
  • Shekarey A, Rostami M, Mazdai K, Mohammadi A. Masturbation: Prevention& Treatment. Procedia – Social and Behavioral Sciences. 2011;30:1641-1646. 
  • Cabello F, Sánchez F, Farré J, Montejo A. Consensus on Recommendations for Safe Sexual Activity during the COVID-19 Coronavirus Pandemic. Journal of Clinical Medicine. 2020;9(7):2297.
Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yudo Irawan, Sp. KK
Ditulis oleh dr. Yudo Irawan, Sp. KK
Tanggal diperbarui 24/12/2020
x