home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Penis Patah

Penis Patah

Pernahkah Anda mengetahui kalau penis juga bisa patah? Kondisi ini jarang terjadi, tetapi penis patah merupakan kondisi darurat medis yang perlu penanganan segera untuk menghindari komplikasi, termasuk disfungsi ereksi permanen. Lantas, apa saja gejala, penyebab, dan metode pengobatan yang tepat? Simak penjelasannya berikut ini.

Apa itu penis patah?

Penis patah atau juga dikenal dengan istilah fraktur penis adalah kondisi umum yang terjadi akibat dari bengkoknya penis saat ereksi secara tiba-tiba. Paksaan ini mengakibatkan robekan pada tunica albuginea, lapisan bagian dalam pada penis ereksi. Kondisi ini bisa menyebabkan hilangnya ereksi seketika, bahkan dalam kasus ekstrem robekan uretra bisa terjadi.

Fraktur penis adalah kondisi darurat medis, sehingga Anda harus sesegera mungkin ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Perawatan cepat bisa membantu Anda mencegah masalah seksual permanen.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Kasus penis patah ini jarang terjadi dan belum ada data yang cukup mengenai kondisi ini. Namun, University of Washington’s Harborview Medical Center, Seattle seperti dikutip dari Scientific American menyebutkan ada sekitar satu atau dua kasus per bulan.

Kalangan yang cenderung terkena kondisi ini adalah pria muda berusia 20 hingga 30 tahunan, yang lebih sering terlibat dalam aktivitas seksual. Pria dengan usia 40 hingga 50 tahunan juga dapat terlibat, tetapi risikonya lebih rendah. Hal ini karena pria yang lebih tua umumnya akan mengalami penurunan frekuensi dan kekuatan aktivitas seksual, sehingga jaringan penis mereka cenderung tidak cukup kaku.

Apa saja tanda dan gejala penis patah?

Penis patah terjadi akibat robeknya lapisan tunica albuginea. Lapisan ini mengelilingi corpora cavernosa, yakni jaringan spons khusus dalam inti penis yang akan terisi dengan darah selama ereksi. Ketika tunica albuginea robek saat penis patah, maka darah yang biasanya berada di dalam ruang ini bocor keluar ke jaringan lain.

Oleh karena itu, saat Anda mengalami penis patah akan timbul beberapa gejala, antara lain:

  • sakit dan nyeri penis parah,
  • penis bengkak dan memar,
  • suara patahan atau retak,
  • kehilangan ereksi seketika, dan
  • perubahan warna batang penis akibat perdarahan di bawah kulit.

Kondisi ini bisa juga mencederai uretra, yakni saluran pada penis tempat keluarnya urine dan air mani. Sehingga, Anda juga bisa merasakan keluarnya darah dari lubang saluran kencing pada penis. Jika merasakan gejala-gejala tersebut, segera cari perawatan darurat.

Kapan sebaiknya harus periksa ke dokter?

Kondisi fraktur penis termasuk dalam kedaruratan urologi, sehingga apabila seseorang pria merasakan gejala maka memerlukan konsultasi dan penanganan dokter sesegera mungkin. Kegagalan untuk memperbaiki cedera tunica albuginea dalam kurun waktu tertentu bisa menyebabkan disfungsi ereksi pada pria yang mengalaminya.

Apa penyebab dan faktor risiko penis patah?

Penis patah terjadi ketika trauma atau pembengkokan penis tiba-tiba yang mematahkan tunica albuginea, bahkan corpora cavernosa yang berada di dalamnya. Sejumlah penyebab umum dari penis patah yang mungkin seorang pria alami, meliputi:

Kondisi ini bisa terjadi pada setiap situasi selama berhubungan seksual. Termasuk saat penis mendorong tidak pada tempat yang seharusnya, sehingga menabrak sesuatu yang keras, seperti perineum.

Fraktur penis dapat terjadi saat berhubungan seks vaginal dengan posisi wanita di atas. Posisi seks yang meningkatkan risiko terjadinya fraktur ini bisa terjadi saat penis tidak sengaja keluar dari vagina sehingga wanita menumpukan seluruh berat badannya ke bawah pada penis. Namun, hal ini bisa juga terjadi pada posisi misionaris atau akrobat seksual.

Dalam mekanisme lain, kondisi ini mencakup hubungan penetratif anal, mastrubasi agresif, dan secara tidak sengaja berguling ke penis yang ereksi saat pria tidur. Dalam etnis tertentu, praktik “Taqaandan” yang dengan sengaja memaksakan membengkokkan penis ereksi selama masturbasi juga dapat menjadi penyebabnya.

Bagaimana dokter mendiagnosis kondisi ini?

Dokter harus segera mendiagnosis kondisi pasien yang merasakan gejala penis patah. Untuk mendapatkan diagnosis yang tepat, beberapa tes yang akan dokter lakukan seperti berikut ini.

  • Riwayat kesehatan dan pemeriksaan medis untuk mengetahui gejala yang pasien alami.
  • Tes rontgen atau sinar-X khusus yang disebut kavernosografi yang memerlukan penyuntikan zat pewarna khusus ke dalam pembuluh darah penis.
  • Ultrasound (USG) pada penis untuk mengetahui struktur internal penis berdasarkan pencitraan melalui gelombang suara.
  • Magnetic resonance imaging (MRI) dengan pencitraan melalui medan magnet dan pulsa energi radio untuk menghasilkan gambaran detail bagian dalam penis.

Dalam beberapa pemeriksaan, pasien mungkin juga perlu menjalani tes urine khusus untuk memeriksa saluran uretra rusak atau tidak. Berdasarkan sebuah studi dari Canadian Urological Association Journal, sekitar 38 persen pria yang mengalami patah tulang penis juga mengalami kerusakan pada saluran uretra mereka.

Bagaimana cara mengobati kondisi penis patah?

Pengobatan fraktur penis umumnya akan melalui prosedur pembedahan. Tujuan utama dari pengobatan ini adalah untuk memulihkan atau mempertahankan kemampuan Anda untuk ereksi dan berkemih dengan normal.

Dokter akan memberi bius lokal pada pasien, lalu membuka kulit melalui satu atau lebih sayatan pada penis. Kemudian dokter menemukan tepi robekan dan menutupnya dengan jahitan. Kadang-kadang robekan ini sangat luas, sekitar setengah lingkar penis, sehingga membutuhkan sekitar 10 jahitan.

Dokter akan menutup semua luka robek pada penis, baik pada tunica albuginea atau corpora cavernosa. Operasi ini memakan waktu sekitar 1 jam, serta kebanyakan orang butuh satu hingga tiga hari sebelum pulang setelahnya.

Apabila Anda merasakan gejala penis patah lebih baik segera ke dokter, karena kondisi ini bisa menimbulkan komplikasi di masa depan. Robek parsial atau menyeluruh dari tunica albuginea bisa menyebabkan jaringan parut jangka panjang.

Penumpukan jaringan parut ini selain bisa menyebabkan disfungsi ereksi, juga menimbulkan penyimpangan penis yang dikenal sebagai penyakit Peyronie, yakni sebuah kondisi seperti lengkungan kronis pada penis yang menyebabkan ereksi membengkok ke samping dan terkadang pada sudut 45 derajat.

Apa saja langkah pemulihan penis patah pascaoperasi?

Setelah menjalani pengobatan, dokter akan meresepkan obat pereda nyeri dan antibiotik untuk memulihkan luka pascaoperasi. Fraktur penis akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sembuh total. Anda pun memerlukan pemeriksaan dan konsultasi lanjutan untuk memeriksa aliran pembuluh darah dan arteri di penis, serta kemungkinan komplikasi lainnya.

Pembedahan pada kondisi penis patah umumnya memiliki hasil yang baik dalam 90 persen kasus. Sejumlah pria mungkin mengalami efek samping setelah operasi, seperti mengalami disfungsi ereksi, kelengkungan penis, dan ereksi yang menyakitkan.

Sebagian besar pria belum boleh melakukan hubungan seksual dalam waktu kurang lebih satu bulan setelah operasi. Selalu tanyakan ke dokter mengenai hal-hal yang bisa Anda lakukan untuk membantu penyembuhan luka.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Penile Fracture. Center for Male Reproductive Medicine & Microsurgery. Retrieved 9 July 2021, from https://maleinfertility.org/sexual-medicine/peyronies-disease/penile-fracture

Ziegelmann, M. (2020). Penis fracture: Is it possible?. Mayo Clinic. Retrieved 9 July 2021, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/sexual-health/expert-answers/penis-fracture/faq-20058154 

Pendick, D., & Murrell, D. (2017). Penile Fracture: Symptoms, Treatment, Recovery, and More. Healthline. Retrieved 9 July 2021, from https://www.healthline.com/health/mens-health/penile-fracture

Ballantyne, C. (2009). Ouch! Can You Really Break Your Penis?. Scientific American. Retrieved 9 July 2021, from https://www.scientificamerican.com/article/can-you-really-break-your/ 

Diaz KC, Cronovich H. Penis Fracture. (2020). In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK551618/  

Amit, A., Arun, K., Bharat, B., Navin, R., Sameer, T., & Shankar, D. U. (2013). Penile fracture and associated urethral injury: Experience at a tertiary care hospital. Canadian Urological Association journal = Journal de l’Association des urologues du Canada, 7(3-4), E168–E170. https://doi.org/10.5489/cuaj.475

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Adinda Rudystina Diperbarui 09/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x