KB koyo (birth control patch) merupakan salah satu alat kontrasepsi yang aman dan efektif mencegah kehamilan. Alat ini bisa menjadi alternatif bagi wanita yang tidak ingin mengonsumsi pil KB setiap hari. Sebelum menggunakannya, kenali lebih dalam mengenai kelebihan dan kekurangan KB koyo dalam ulasan berikut.
Apa itu KB koyo?
KB koyo atau KB tempel adalah alat kontrasepsi yang ditempelkan ke kulit yang berbentuk persegi kecil berukuran 5 x 5 cm.
Alat ini bekerja dengan melepaskan hormon estrogen dan progestin ke dalam aliran darah melalui kulit sehingga mencegah ovulasi.
KB tempel juga mengentalkan lendir serviks dan menipiskan lapisan rahim agar sperma sulit mencapai sel telur.
Biasanya, KB koyo ditempelkan di bagian tubuh tertentu seperti lengan atas, punggung, perut, atau bokong.
Koyo digunakan selama 3 minggu, kemudian minggu keempat dilepas selama seminggu dan digunakan kembali jika Anda masih ingin mencegah kehamilan.
Efektivitas KB koyo bisa mencapai 99% jika digunakan dengan benar. Menurut The Faculty of Sexual and Reproductive Healthcare, dalam satu tahun hanya 9 dari 100 wanita yang mengalami kehamilan saat menggunakan contraception patch.
Apabila Anda berhenti menggunakan alat ini, kesuburan akan kembali ke tingkat normal setelah 1 – 3 bulan.
KB koyo belum begitu populer di Indonesia sehingga ketersediaannya mungkin terbatas, hanya di apotek besar, rumah sakit, atau klinik khusus kesehatan reproduksi.
Anda juga memerlukan resep dokter untuk memperoleh KB tempel.
Perbedaan KB koyo dengan KB lainnya
KB tempel memiliki cara kerja, efek samping, dan efektivitas kegunaan yang berbeda dengan metode KB lainnya. Berikut penjelasannya.
1. Mekanisme kerja
KB koyo bekerja dengan melepaskan hormon estrogen dan progestin melalui kulit ke dalam aliran darah untuk mencegah ovulasi dan menebalkan lendir serviks.
Sementara itu, berikut cara kerja KB lainnya.
- Pil KB bekerja dengan melepaskan hormon estrogen dan progestin (atau progestin saja).
- KB suntik melepaskan hormon progestin untuk mencegah ovulasi, menebalkan lendir serviks, dan menipiskan lapisan rahim.
- IUD hormonal yang melepaskan progestin untuk menebalkan lendir serviks dan menipiskan lapisan rahim.
- IUD tembaga yang menciptakan lingkungan tidak bersahabat bagi sperma tanpa menggunakan hormon.
- KB implan bekerja dengan melepaskan hormon progestin secara bertahap untuk mencegah ovulasi.
2. Cara penggunaan
Cara penggunaan KB tempel yaitu ditempelkan pada kulit selama 1 minggu dan diganti setiap minggu selama 3 minggu, lalu 1 minggu bebas koyo (siklus 28 hari).
Berikut cara penggunaan KB lainnya.
- Pil KB: cara minum pil KB harus diminum setiap hari pada waktu yang sama.
- KB suntik: disuntikkan secara berkala (1 atau 3 bulan sekali).
- IUD: dipasang di rahim dan bisa bertahan 5 – 10 tahun, tergantung jenisnya.
- KB implan: dipasang di bawah kulit dan bertahan hingga 3 – 5 tahun.
3. Efektivitas

Dari sisi efektivitas, KB koyo juga memiliki perbedaan dengan jenis KB lainnya.
KB koyo memiliki efektivitas hingga 99% jika digunakan dengan benar. KB pil memiliki efektivitas 91 – 99%, tetapi tergantung pada kepatuhan dalam mengonsumsinya setiap hari.
KB suntik memiliki efektivitas 94 – 99%, tergantung pada ketepatan jadwal suntikan ulang.
Sementara itu, IUD memiliki efektivitas 99% tanpa perlu diingat setiap hari, dan implan juga memiliki efektivitas 99% tanpa memerlukan perawatan khusus.
4. Efek samping
Perbedaan KB koyo dengan KB lainnya juga terletak pada efek sampingnya. KB tempel dapat menyebabkan efek samping seperti iritasi kulit, mual, nyeri payudara, dan perubahan siklus menstruasi.
Efek samping pil KB bisa menimbulkan pusing, mual, perubahan mood, serta bercak darah di luar siklus haid. Lain halnya dengan KB suntik, metode ini sering dikaitkan dengan peningkatan berat badan dan gangguan siklus haid.
Sementara itu, efek samping IUD dapat menyebabkan nyeri saat pemasangan, bercak darah, dan kram. Implan juga dapat memengaruhi siklus haid serta menimbulkan nyeri di area pemasangan.
5. Kenyamanan penggunaan
Dari segi kenyamanan dan kemudahan, KB koyo lebih praktis dibandingkan pil karena tidak perlu dikonsumsi setiap hari, tetapi tetap harus diganti setiap minggu.
Pil KB mudah ditemukan, tetapi penggunaannya memerlukan disiplin tinggi karena harus diminum secara teratur setiap hari.
IUD, KB implan, dan KB suntik cukup dipasang sekali dan dapat bertahan selama bertahun-tahun tanpa perlu diingat setiap hari.
Namun, pemasangan IUD, implan, dan KB suntik harus melibatkan prosedur medis dan kunjungan berkala ke dokter.
Berapa lama KB koyo digunakan?
KB koyo digunakan selama 3 minggu, lalu dilepas selama 1 minggu sebelum diganti kembali.
Kelebihan dan kekurangan KB koyo
Berikut ini kelebihan dan kekurangan KB tempel yang perlu Anda ketahui sebelum memakainya.
Kelebihan KB Koyo
- Mudah digunakan. Hanya perlu ditempel di kulit dan diganti setiap minggu, tidak perlu diminum setiap hari seperti pil KB.
- Efektivitas tinggi. Jika digunakan dengan benar, efektivitasnya bisa mencapai 99%.
- Tidak memerlukan prosedur medis. Tidak perlu suntikan atau pemasangan alat seperti IUD atau implan.
- Mengatur siklus haid. Dapat membantu membuat menstruasi lebih teratur dan mengurangi nyeri haid.
- Cepat kembali subur. Kesuburan bisa kembali dengan cepat setelah berhenti menggunakannya.
Kekurangan KB Koyo
- Harus diganti setiap minggu sehingga Anda harus disiplin untuk mengganti koyo sesuai jadwal.
- Beberapa orang mengalami kemerahan atau gatal di area yang ditempeli koyo.
- KB tempel tidak cocok untuk wanita dengan berat badan tertentu. Efektivitasnya bisa berkurang pada wanita dengan berat badan di atas 90 kg.
- Meningkatkan risiko efek samping hormon, seperti mual, nyeri payudara, sakit kepala, atau perubahan suasana hati.
- Tidak melindungi dari infeksi menular seksual (IMS). KB koyo Harus dikombinasikan dengan kondom jika ingin perlindungan terhadap IMS.
Dengan memahami cara kerja, penggunaan, serta kelebihan dan efek sampingnya, Anda dapat membuat keputusan yang lebih bijak dalam memilih KB tempel sebagai metode kontrasepsi yang sesuai dengan kebutuhan.
Rangkuman
- KB koyo adalah alat kontrasepsi berbentuk koyo kecil yang ditempelkan pada kulit, bekerja dengan melepaskan hormon untuk mencegah ovulasi.
- Efektivitas KB tempel hingga 99 persen. Metode ini lebih praktis dibanding pil KB karena tidak perlu dikonsumsi setiap hari, tetapi tetap harus diganti setiap minggu.
- Dibandingkan KB suntik, IUD, atau implan yang memerlukan prosedur medis, KB tempel lebih mudah digunakan.
[embed-health-tool-ovulation]