Minum dengan Sedotan, Kenali Pengaruhnya bagi Kesehatan

Minum dengan Sedotan, Kenali Pengaruhnya bagi Kesehatan

Mengonsumsi minuman biasanya dilakukan dengan dua cara, yakni menyeruput melalui bibir gelas ataupun menggunakan sedotan. Alat ini memang mempermudah Anda untuk minum. Namun, ternyata minum dengan sedotan memiliki efek untuk kesehatan.

Keuntungan minum dengan sedotan

Sedotan biasanya digunakan untuk minuman dengan topping atau disajikan dalam kemasan kotak karton.

Minum melalui sedotan juga lebih praktis dibanding dengan meneguknya langsung.

Inilah manfaat kesehatan yang bisa Anda dapatkan jika minum pakai sedotan.

1. Mencegah penyebaran infeksi dari mulut

Minum dengan sedotan membantu Anda mencegah penyakit infeksi. Pasalnya, banyak orang yang memegang kemasan minuman tanpa cuci tangan.

Terlebih, kebersihan kemasan saat didistribusikan hingga disimpan sebelum sampai ke konsumen pun sulit diketahui.

Ada berbagai jenis bakteri berbahaya yang bisa menempel pada kemasan minuman, seperti:

Jika Anda langsung minum dari kemasan, berbagai bakteri, virus, dan parasit bisa langsung menyentuh mulut, bahkan tertelan.

Hal ini bisa meningkatkan risiko penyakit infeksi, seperti:

  • muntaber,
  • salmonelosis,
  • infeksi mulut, dan
  • peritonitis.

2. Mengurangi risiko tersedak

sering tersedak air liur

Orang dengan gangguan saraf, seperti stroke, demensia, dan multiple sclerosis bisa kesulitan menelan karena gangguan saraf motorik.

Minum pakai sedotan bisa membantu mendorong cairan agar mudah masuk ke kerongkongan dan saluran cerna bawah. Jadi, risiko tersedak pun berkurang.

Tersedak pada orang yang sulit menelan bisa berbahaya. Cairan bisa menghalangi saluran udara sehingga kesulitan untuk bernapas.

3. Membantu orang dengan masalah anggota gerak

Sedotan juga bisa menjadi alat bantu makan untuk orang difabel atau memiliki masalah gerak pada bagian lengan, pergelangan tangan, serta jari-jari tangan.

Dengan sedotan, Anda tidak perlu mengangkat minuman dengan tangan. Anda hanya perlu meletakkan minuman di meja dan mulut yang aktif menelan cairan.

Sedotan pun mempermudah orang lain saat memberikan minuman kepada yang sakit. Oleh karena itu, Anda bisa segera meminum tanpa perlu menggerakkan anggota tubuh.

Kekurangan minum dengan sedotan

Memang, minum pakai sedotan mengurangi risiko infeksi dan berguna bagi orang dengan kondisi kesehatan tertentu.

Akan tetapi, ada pula dampak menggunakan sedotan yang memengaruhi kesehatan. Apa sajakah itu?

1. Perut kembung

Siapa sangka jika minum dengan sedotan menyebabkan perut kembung? Ya, kondisi ini sangat mungkin terjadi.

Hal ini dikarenakan udara ikut masuk ketika Anda menyeruput minuman dengan sedotan. Udara ini nantinya ikut masuk ke mulut dan sampai ke perut.

Hal tersebut menyebabkan gas berkumpul dan menyebabkan perut kembung. Hindari minum dengan sedotan jika Anda ingin mengatasi masuk angin.

2. Kulit berkerut

Ketika minum dengan sedotan, otot bibir Anda akan mengerucut agar bisa menyedot dengan mudah. Gerakan ini ternyata akan membentuk lekukan pada kulit pada bagian sekitar mulut dan bibir

Jika sering menggunakan sedotan saat minum, lekukan ini akan membentuk garis-garis halus hingga timbul kerutan.

Ketika usia bertambah, kadar kolagen pun berkurang sehingga kulit tak lagi elastis. Hal ini menyebabkan kerutan akibat minum dengan sedotan pun bisa permanen.

3. Gigi berlubang

Minum pakai sedotan ternyata bisa mengganggu kesehatan gigi. Perlu Anda ketahui, sedotan menyebabkan cairan menumpuk di bagian gigi.

Penumpukan ini menunjukkan adanya jumlah gula yang berkumpul di bagian gigi tertentu sehingga bisa mengikis email gigi.

Lama-kelamaan, tingginya kadar gula di titik tertentu inilah yang membuat gigi keropos hingga gigi berlubang pun muncul.

Risiko ini sebenarnya bisa diakali bila Anda mengurangi minuman manis.

Aturan minum dengan sedotan yang sehat

Agar kesehatan tetap terjaga, ada beberapa cara yang bisa Anda coba saat minum pakai sedotan.

1. Jangan pakai sedotan plastik berkali-kali

Jika Anda menggunakan sedotan plastik, pastikan Anda hanya menggunakannya untuk satu jenis minuman. Setelah minuman habis, segera buang sedotan.

Menggunakan sedotan plastik berkali-kali hanya akan meningkatkan jumlah bakteri berbahaya. Bukan tidak mungkin bila Anda justru mengalami penyakit akibat infeksi bakteri.

Sama seperti menggunakan botol air berulang, pemakaian sedotan berkali-kali meningkatkan risiko tercampurnya minuman dengan kandungan plastik. Tentunya ini berbahaya bagi kesehatan.

2. Cuci sedotan logam atau bambu

air kelapa untuk ginjal

Jika Anda tidak ingin minum dengan sedotan plastik, Anda bisa memilih jenis lain yang terbuat dari logam atau bambu.

Sedotan ini bisa digunakan berkali-kali. Oleh karena itu, Anda sebaiknya mencuci jenis sedotan ini secara rutin.

Sebelum membeli sedotan jenis ini, pastikan Anda mendapatkan sikat khusus untuk membersihkan bagian dalam sedotan.

Sikat ini berguna untuk membersihkan sisa-sisa minuman yang menempel di rongga dalam sedotan. Jadi, risiko pertumbuhan bakteri di sedotan pun berkurang.

3. Hindari minum air panas dengan sedotan plastik

Konsumsi minuman panas dengan sedotan plastik sebaiknya dihindari. Suhu panas bisa membuat kandungan kimia pada sedotan bercampur dengan minuman Anda.

Paparan kimia berbahaya dari sedotan plastik ini sangat berkaitan dengan efek samping, seperti:

  • kanker,
  • masalah kekebalan tubuh,
  • terganggunya sistem endokrin, serta
  • masalah reproduksi.

Ini sama bahayanya dengan membungkus makanan panas dengan plastik.

Minum dengan sedotan bisa jadi praktis dan berguna bagi beberapa orang yang sulit menelan atau menggerakan tangan.

Meski demikian, ada pula beberapa risiko kesehatan yang ditimbulkan. Oleh karena itu, gunakan sedotan sebijak mungkin. Hindari pula berbagi alat makan, termasuk sedotan.

Penting Anda Ingat

Kurangi pemakaian sedotan sebaik mungkin. Sedotan plastik, logam, maupun bambu diketahui tidak ramah untuk lingkungan. Limbah produksi maupun sampah sedotan plastik mencemari tanah, air, dan udara.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Patricia Lukas Goentoro

General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)


Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari · Tanggal diperbarui 24/06/2022

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan