home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Membongkar Manfaat dan Bahaya di Balik Tradisi Menyirih

Membongkar Manfaat dan Bahaya di Balik Tradisi Menyirih

Saat mengunjungi kota-kota di Indonesia bagian timur atau desa-desa di pulau Jawa, jangan kaget kalau Anda disuguhi daun sirih dan biji pinang. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, menyirih sudah menjadi gaya hidup dan tradisi yang mendarah daging. Hampir semua orang di desa atau kota tertentu menyirih, anak-anak sekalipun. Maka, senyuman yang dihiasi gigi berwarna merah atau keunguan karena menyirih bukan pemandangan yang asing lagi. Saking merebaknya tradisi menyirih, para ahli mencoba mempelajari lebih jauh apa saja manfaat dan bahaya menyirih bagi kesehatan. Simak informasi berikut untuk mencari tahu pandangan medis seputar tradisi menyirih.

Mengenal tradisi menyirih di Indonesia

Menyirih adalah suatu kebiasaan yang sudah dikenal masyarakat di Asia Tenggara sejak berabad-abad lalu. Tidak diketahui kapan tepatnya para nenek moyang memulai kebiasaan ini. Untuk menyirih, masyarakat Indonesia biasanya akan menumbuk, menghancurkan,atau membelah biji pinang. Setelah itu, biji pinang akan dilinting atau dibungkus daun sirih.

Sebagai penguat rasa, kadang masyarakat menambahkan rempah-rempah, perasan jeruk, kapur, atau tembakau. Bahan-bahan tersebut akan kemudian dikunyah-kunyah dan disesap. Rasanya begitu unik, yaitu agak pedas, sepat, dan manis.

BACA JUGA: 5 Perawatan Kecantikan Tradisional Warisan Leluhur

Manfaat menyirih

Menyirih dipercaya baik untuk menjaga kesehatan gigi dan sistem pencernaan. Ini karena mengunyah daun sirih dan biji pinang bisa memicu produksi air liur. Air liur mengandung beragam jenis protein dan mineral yang baik untuk menjaga kekuatan gigi serta mencegah penyakit gusi. Selain itu, air liur juga senantiasa membersihan gigi dan gusi dari sisa-sisa makanan atau kotoran yang menempel.

Bagi sistem pencernaan Anda, air liur berfungsi untuk mengikat dan melembutkan makanan. Dengan begitu, Anda bisa menelan dan mengirimkan makanan menuju kerongkongan, usus, dan lambung dengan lancar. Hal ini tentu membantu memudahkan kerja sistem pencernaan Anda.

BACA JUGA: 7 Fakta Mengejutkan Tentang Sistem Pencernaan Anda

Selain itu, menyirih juga diyakini sebagai sumber energi. Pasalnya, biji pinang mengandung zat psikoaktif yang sangat mirip dengan nikotin, alkohol, dan kafein. Tubuh akan memproduksi hormon adrenalin. Anda pun jadi merasa lebih segar, waspada, dan berenergi.

Bahaya menyirih

Meskipun tradisi menyirih bisa memberikan manfaat, para ahli kesehatan masyarakat mulai menyuarakan kekhawatiran terkait bahaya menyirih. Dari laporan-laporan para peneliti, diketahui bahwa menyirih ternyata berisiko menyebabkan berbagai penyakit yang tidak bisa disepelekan, misalnya kanker. Berikut adalah penjelasan bahaya menyirih bagi kesehatan.

1. Kanker mulut

Dilansir dari situs resmi Badan Kesehatan Dunia (WHO), menyirih berisiko tinggi menyebabkan kanker, terutama di daerah mulut. Kesimpulan ini diperoleh berdasarkan penelitian yang dilakukan International Agency for Research on Cancer di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Ternyata campuran daun sirih, biji pinang, kapur, dan tembakau bersifat karsinogenik (memicu kanker). Jika dikonsumsi terlalu sering dalam jangka waktu yang panjang, Anda rentan mengalami kanker mulut, kanker esofagus (kerongkongan), kanker tenggorokan, kanker laring, dan kanker pipi.

BACA JUGA: Awas, Makanan Gosong Bisa Jadi Pemicu Kanker

2. Luka di rongga mulut

Mengunyah sirih pinang meningkatkan risiko Anda mengalami lesi mukosa mulut, yaitu munculnya luka (lesi) di dalam rongga mulut. Luka atau iritasi terbentuk karena campuran bahan-bahan menyirih sifatnya sangat keras bagi mulut. Apalagi kalau menyirih sudah jadi kebiasaan yang tidak bisa dihentikan. Efek buruknya pun jadi makin cepat timbul dan sulit ditangani.

Jika sudah cukup parah, kondisi ini menyebabkan mulut terasa kaku dan pada akhirnya rahang Anda akan sulit digerakkan. Hingga saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan lesi mukosa mulut. Pengobatan yang ditawarkan hanya mampu meringankan gejala yang muncul.

BACA JUGA: 10 Penyakit yang Bisa Dideteksi Lewat Bau Mulut

3. Gangguan pada janin

Belum banyak diketahui bahwa ibu hamil harus waspada terhadap bahaya menyirih. Menyirih saat hamil berisiko menyebabkan perubahan genetik pada DNA janin. Perubahan genetik akibat menyirih ini membahayakan kandungan, seperti halnya merokok bisa mengakibatkan kecacatan janin. Ibu hamil yang menyirih juga berisiko melahirkan bayi dengan berat badan di bawah normal. Oleh sebab itu, WHO dan para ahli kesehatan masyarakat menghimbau agar ibu hamil tidak menyirih.

BACA JUGA: Bolehkah Ibu Hamil Makan Durian?

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

IARC Monographs Programme finds betel-quid and areca-nut chewing carcinogenic to humans. http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2003/priarc/en/ Diakses pada 12 Januari 2017.

Betel Nut. https://www.drugs.com/npc/betel-nut.html Diakses pada 12 Januari 2017.

Asia’s deadly secret: The scourge of the betel nut. http://www.bbc.com/news/health-31921207 Diakses pada 12 Januari 2017.

How Dangerous Is Betel Nut? http://www.healthline.com/health/betel-nut-dangers Diakses pada 12 Januari 2017.


Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Irene Anindyaputri Diperbarui 05/11/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x