backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan · General Practitioner · None


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 14/12/2022

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Perusahaan dan pekerja perlu memahami tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja. Hal ini tentu bertujuan untuk menghindari risiko terjadinya bahaya dalam lingkungan pekerjaan.

Apa itu keselamatan dan kesehatan kerja?

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah bidang kesehatan masyarakat yang mempelajari kemungkinan penyakit atau kecelakaan di lingkungan kerja.

Hal ini selanjutnya menentukan langkah pencegahan risiko tersebut untuk memastikan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan untuk pekerja.

Pasal 87 UU Ketenagakerjaan menyebutkan perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan.

Maka dari itu, setiap perusahaan perlu memperhatikan beberapa faktor yang dapat memengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja berikut ini.

  • Beban kerja yang terdiri dari beban fisik, mental, dan sosial untuk memastikan pekerja melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuannya.
  • Kapasitas kerja yang diberikan kepada pekerja lakukan bergantung pada tingkat pendidikan, keterampilan, kebugaran jasmani, dan faktor lainnya.
  • Lingkungan kerja yang aman bagi pekerja untuk meminimalkan bahaya fisik, biologis dan kimiawi, hingga psikososial.

Tujuan K3

ILO memperkirakan lebih dari 2,3 juta pekerja di seluruh dunia meninggal dunia setiap tahun karena kecelakaan atau penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan.

Tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah untuk mencegah terjadinya kecelakaan atau sakit akibat kerja sehingga menumbuhkan lingkungan kerja yang aman.

Untuk memenuhi tujuan tersebut, terdapat beberapa prinsip yang harus setiap perusahaan lakukan dalam penerapan K3.

  • Menyediakan alat pelindung diri (APD) di tempat kerja.
  • Menyediakan buku petunjuk penggunaan alat atau isyarat bahaya.
  • Memastikan adanya peraturan pembagian tugas dan tanggung jawab.
  • Memastikan tempat kerja yang aman sesuai standar lingkungan kerja yang aman.
  • Memberikan sarana penunjang kesehatan jasmani dan rohani.
  • Memberikan sarana dan prasarana lengkap di tempat kerja.
  • Memiliki kesadaran dalam menjaga keselamatan dan kesehatan kerja.
  • Melakukan pendidikan dan pelatihan tentang kesadaran K3.   

Mengenal jenis-jenis bahaya di tempat kerja

pertolongan pertama saat jatuh

Ada sejumlah bahaya di lingkungan kerja yang membawa risiko K3. Hal ini termasuk bahaya fisik, biologis dan kimiawi, hingga psikososial.

1. Bahaya fisik

Jatuh merupakan penyebab umum dari cedera atau kematian akibat kerja. Hal ini melibatkan lantai tempat kerja yang licin atau pekerjaan konstruksi yang tidak terlindungi.

Permesinan juga bisa membahayakan pekerja bila tidak dilakukan secara aman. Bagian ini juga berisiko terhadap bahaya, seperti tersengat listrik atau luka bakar.

Pekerja juga mungkin bekerja dalam tempat bersuhu ekstrem. Bekerja di suhu panas dapat memicu dehidrasi, sedangkan suhu dingin berisiko hipotermia dan frostbite.

Sementara itu, tingkat kebisingan tinggi dalam lingkungan kerja berisiko menimbulkan kerusakan pada indra pendengaran.

2.  Bahaya biologis dan kimiawi

Bahaya biologis melibatkan mikroorganisme menular, seperti virus atau bakteri. Salah satu yang paling umum terjadi pada lingkungan kerja adalah paparan virus influenza.

Keselamatan dan kesehatan kerja perlu diperhatikan bagi pekerja luar ruangan. Petani atau pekerja kebun berisiko terkena racun dari gigitan serangga atau tanaman beracun.

Beberapa serangga dapat menularkan penyakit, seperti demam berdarah (DBD) dan malaria.

Lingkungan kerja yang berinteraksi dengan hewan juga lebih berisiko terkena zoonosis, yakni penyakit yang menular dari hewan ke manusia.

Sementara itu, bahaya kimiawi dapat terjadi akibat pengaruh asam, logam berat, atau bahan kimia mudah terbakar yang bisa menimbulkan cedera bahkan kematian.

3. Bahaya psikososial

Bahaya psikososial dapat terjadi saat pekerja mengalami jam kerja panjang, perasaan tidak aman saat bekerja, dan keseimbangan kehidupan kerja (work life balance) yang buruk.

Hal yang menyangkut kesejahteraan mental dan emosional ini juga dapat terjadi saat pekerja mendapatkan pelecehan seksual atau perundungan di tempat kerja.

Adanya rokok, minuman beralkohol alkohol, atau zat terlarang yang menimbulkan kecanduan juga dapat berpengaruh keselamatan dan kesehatan kerja.

Beragam cara menjaga kesehatan saat bekerja

Selain sebagai keharusan perusahaan, keselamatan dan kesehatan kerja menjadi tanggung jawab bagi masing-masing pekerja.

Di bawah ini merupakan sejumlah langkah yang dapat pekerja lakukan untuk menjaga kesehatan di lingkungan kerja.

  • Konsumsi makanan sehat dan bernutrisi seimbang, termasuk buah dan sayuran.
  • Lebih baik menghindari atau membatasi konsumsi junk food, seperti makanan cepat saji, camilan kemasan, dan minuman ringan.
  • Minum air putih secukupnya agar tubuh tetap terhidrasi selama melakukan pekerjaan.
  • Pertahankan postur tubuh yang baik saat bekerja di depan komputer dalam waktu lama.
  • Gunakanlah waktu istirahat semaksimal mungkin dan lakukan peregangan ringan selama beberapa menit pada sela-sela jam kerja.
  • Pastikan menjaga kebersihan ruangan kerja sebelum dan sesudah bekerja.
  • Selalu menyediakan pembersih tangan atau hand sanitizer di ruangan kerja.
  • Kelola stres dengan memanfaatkan cuti untuk melakukan hobi atau menghabiskan waktu bersama keluarga, pasangan, dan teman.
  • Jika merasa sakit, lebih baik ambil izin untuk tidak bekerja dan memulihkan diri agar tidak menyebarkan infeksi ke orang lain.
  • Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada dasarnya dilakukan untuk memastikan lingkungan kerja yang aman dan meminimalkan risiko yang mungkin terjadi.

    Hal ini merupakan tanggung jawab bersama, baik untuk perusahaan dan pekerja di dalamnya.

    Catatan

    Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Andreas Wilson Setiawan

    General Practitioner · None


    Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 14/12/2022

    advertisement iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    advertisement iconIklan
    advertisement iconIklan