home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

6 Makanan Penyebab Inflamasi yang Ternyata Sering Dikonsumsi

6 Makanan Penyebab Inflamasi yang Ternyata Sering Dikonsumsi

Inflamasi atau peradangan berfungsi melindungi tubuh dari infeksi, tapi secara jangka panjang dapat mengarah pada penyakit kronis. Uniknya, sejumlah makanan sehari-hari ternyata bisa menjadi penyebab inflamasi.

Beragam makanan penyebab inflamasi

makanan manis penyebab radang tenggorokan

Berikut berbagai contoh makanan yang dapat menyebabkan peradangan dan harus Anda batasi asupannya.

1. Makanan tinggi gula

Setelah Anda mencerna makanan, kadar gula darah akan meningkat. Pankreas lalu melepaskan insulin untuk membantu sel mengubah gula menjadi energi.

Namun, jika ada terlalu banyak gula, tubuh akan menyimpannya dalam bentuk sel lemak. Lama-kelamaan, sel lemak terus membesar dan bertambah banyak.

Penumpukan lemak memicu sistem imun untuk mengeluarkan reaksi peradangan.

Seiring waktu, peradangan dalam jangka panjang bisa meningkatkan risiko diabetes, stroke, dan penyakit lainnya.

Inilah mengapa Anda harus membatasi konsumsi makanan manis seperti donat, cake, permen, dan sejenisnya.

Hindari pula minuman tinggi gula seperti kopi dengan krimer dan krim, bubble tea dengan boba, serta minuman bersoda.

2. Makanan mengandung lemak trans

Lemak trans diperoleh dengan menambahkan hidrogen ke dalam lemak tak jenuh hingga bentuknya menjadi padat.

Ada banyak efek negatif dari makanan mengandung lemak trans, salah satunya menjadi penyebab inflamasi dalam tubuh.

Lemak trans meningkatkan kolesterol jahat LDL dan menurunkan kolesterol baik.

Studi juga menunjukkan kaitan konsumsi lemak trans dengan meningkatnya jumlah protein C-reaktif (CRP). Tingginya CRP menandakan tubuh mengalami peradangan.

Guna menghindari dampak lemak trans, Anda harus mengurangi konsumsi gorengan, makanan instan, dan makanan siap saji.

Selain itu, lemak trans banyak terkandung dalam mentega putih, popcorn cepat saji, dan berbagai junk food.

3. Karbohidrat olahan (karbohidrat rafinasi)

roti panggang keju telor resep mpasi 9 bulan

Menurut penelitian dalam jurnal Diabetes, Metabolic Syndrome And Obesity, makanan mengandung karbohidrat olahan dapat menjadi penyebab inflamasi dalam tubuh.

Karbohidrat olahan bisa menyebabkan peradangan karena tidak lagi mengandung banyak serat.

Serat sangatlah penting untuk mengontrol gula darah, memberikan rasa kenyang, dan menjaga keseimbangan bakteri usus.

Sebaliknya, karbohidrat olahan justru mendukung pertumbuhan bakteri usus yang menyebabkan peradangan.

Akibatnya, Anda jadi lebih rentan terhadap obesitas dan penyakit radang usus.

Untuk mencegahnya, batasi konsumsi makanan tinggi karbohidrat olahan seperti pasta instan, sereal manis, dan makanan olahan mengandung gula tambahan.

4. Daging olahan

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa daging olahan merupakan penyebab utama inflamasi dalam tubuh.

Ini karena daging olahan banyak mengandung AGEs, yakni zat yang terbentuk saat tubuh mengalami glikasi.

Glikasi merupakan proses ketika gula dalam darah berikatan dengan lemak atau asam amino. Tubuh sebenarnya mampu membuang AGEs dalam jumlah kecil.

Namun, bila produksinya berlebihan, terutama akibat kadar gula darah yang tinggi, AGEs bisa meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.

Selain itu, jumlah AGEs yang tinggi juga berkaitan dengan komplikasi pada pengidap diabetes.

Zat ini berperan dalam proses terjadinya kerusakan mata, saraf, ginjal, hingga munculnya penyakit jantung terkait diabetes.

5. Minyak nabati

Sebagian besar makanan penyebab inflamasi tergolong sebagai makanan yang tidak menyehatkan.

Akan tetapi, jenis minyak nabati tertentu rupanya juga bisa menimbulkan peradangan dalam tubuh karena kandungan omega-6-nya yang tinggi.

Omega-6 sebenarnya bermanfaat bagi kesehatan tubuh, tetapi asupannya harus sebanding dengan omega-3.

Studi terhadap hewan menunjukkan bahwa asupan omega-6 yang jauh lebih tinggi dari omega-3 justru meningkatkan inflamasi dalam tubuh.

Sebaliknya, makanan tinggi omega-3 seperti minyak ikan, ikan berlemak, dan kacang kenari bisa membantu mengurangi peradangan.

Jadi, jika Anda ingin mengonsumsi makanan tinggi omega-6, imbangilah dengan asupan omega-3.

6. Makanan lain

makan kepiting saat hamil

Selain berbagai makanan tersebut, berikut beberapa zat lain yang bisa menjadi penyebab inflamasi.

  • Monosodium glutamat (MSG): MSG dalam kaldu bubuk, makanan instan, dan junk food memicu reaksi kimia pencetus inflamasi dalam tubuh.
  • Alkohol: semakin banyak Anda mengonsumsi alkohol, semakin tinggi jumlah CRP yang menandakan tubuh mengalami inflamasi.
  • Gluten: protein dalam gandum ini dapat menyebabkan inflamasi pada pengidap penyakit celiac.

Inflamasi merupakan respons tubuh yang alamiah. Reaksi ini dapat menghalau infeksi dan membantu proses pemulihan tubuh dari penyakit.

Meski demikian, inflamasi yang berlangsung dalam jangka panjang juga bisa menimbulkan penyakit kronis.

Untuk menjaga keseimbangan inflamasi dalam tubuh, batasi asupan makanan yang menjadi penyebab reaksi ini.

Selain itu, perbanyak asupan makanan kaya antioksidan, seperti buah, sayuran, dan kacang-kacangan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

8 Food Ingredients That Can Cause Inflammation. (2021). Retrieved 10 November 2021, from https://www.arthritis.org/health-wellness/healthy-living/nutrition/foods-to-limit/8-food-ingredients-that-can-cause-inflammation

5 Foods that Can Cause Inflammation. (2020). Retrieved 10 November 2021, from https://health.clevelandclinic.org/5-foods-that-can-cause-inflammation/

Uribarri, J., Woodruff, S., Goodman, S., Cai, W., Chen, X., & Pyzik, R. et al. (2010). Advanced Glycation End Products in Foods and a Practical Guide to Their Reduction in the Diet. Journal Of The American Dietetic Association, 110(6), 911-916.e12. doi: 10.1016/j.jada.2010.03.018

Patterson, E., Wall, R., Fitzgerald, G., Ross, R., & Stanton, C. (2012). Health Implications of High Dietary Omega-6 Polyunsaturated Fatty Acids. Journal Of Nutrition And Metabolism, 2012, 1-16. doi: 10.1155/2012/539426

Oliveira, A., Rodríguez-Artalejo, F., and Lopes, C. (2010). Alcohol Intake and Systemic Markers of Inflammation—Shape of the Association According to Sex and Body Mass Index. Alcohol and Alcoholism, 45(2), 119-125. doi: 10.1093/alcalc/agp092

Schultz, A., Barbosa-da-Silva, S., Aguila, M., & Mandarim-de-Lacerda, C. (2015). Differences and similarities in hepatic lipogenesis, gluconeogenesis and oxidative imbalance in mice fed diets rich in fructose or sucrose. Food & Function, 6(5), 1684-1691. doi: 10.1039/c5fo00251f

Nestel, P. (2014). Trans Fatty Acids: Are Its Cardiovascular Risks Fully Appreciated?. Clinical Therapeutics, 36(3), 315-321. doi: 10.1016/j.clinthera.2014.01.020

Spreadbury, I. (2012). Comparison with ancestral diets suggests dense acellular carbohydrates promote an inflammatory microbiota, and may be the primary dietary cause of leptin resistance and obesity. Diabetes, Metabolic Syndrome And Obesity: Targets And Therapy, 175. doi: 10.2147/dmso.s33473

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 2 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro