Silent Stroke dan Gangguan Apnea Tidur

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Gangguan tidur apnea atau yang dikenal dengan sleep apnea merupakan salah satu kondisi yang dikaitkan dengan faktor risiko stroke. Kabar bahwa apnea tidur merupakan faktor risiko untuk stroke bukanlah hal baru. Kami telah lama mengenal bahwa apnea tidur berhubungan dengan peningkatan risiko stroke. Tetapi penelitian baru menunjukkan betapa apnea tidur sangat umum terjadi pada penderita stroke. Secara khusus, hasil ini menunjukkan seberapa sering tidur apnea muncul pada pasien yang menderita silent stroke.

Apa yang dimaksud dengan silent stroke?

  • Silent stroke tidak memiliki gejala yang terlihat yang dapat  diidentifikasi.
  • Dalam kebanyakan kasus, orang yang menderita silent stroke bahkan tidak tahu mereka memiliki stroke.
  • Silent stroke disebut sebagai “silent” karena mereka tidak menampakan gejala fisik luar yang biasanya dikaitkan dengan stroke, termasuk bicara cadel, kelumpuhan, dan sakit parah.
  • Silent stroke adalah masalah kesehatan yang serius, yang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak, terutama pada daerah otak yang mengatur suasana hati, pikiran, kognisi, dan memori.
  • Silent stroke sendiri merupakan faktor pemicu untuk jenis stroke lain, termasuk stroke berat.

Para peneliti dari University of Alabama, Birmingham dan dari Universitas Teknologi Dresden Jerman bekerja sama untuk menyelidiki frekuensi dan tingkat keparahan apnea tidur obstruktif sebagai faktor risiko untuk silent stroke. Hasil penelitian mereka menunjukkan tingginya tingkat apnea tidur di antara para pasien dengan silent stroke.

Selama periode 18 bulan, peneliti mengevaluasi 56 orang yang telah diidentifikasi mengalami iskemia serebral akut, yang merupakan jenis stroke yang mengganggu aliran darah ke otak. Dalam waktu 5 hari sejak gejala stroke, pasien dievaluasi dengan menggunakan MRI dan CT scan untuk mengidentifikasi rincian spesifik dari efek stroke pada otak selain itu juga dinilai tingkat keparahan apnea tidurnya. Peneliti menemukan:

  • Apnea tidur muncul pada 51 dari 56 pasien stroke yang dievaluasi, dengan persentase 91%
  • Dari 51 pasien tersebut, 29% memiliki apnea tidur parah dan 30% memiliki apnea tidur sedang
  • Apnea tidur parah hadir di 58% dari pasien yang menderita gangguan silent stroke
  • Apnea tidur parah muncul pada  38% dari pasien dengan perubahan mikrovaskuler kronis  luka kecil pada bagian putih di otak yang berhubungan dengan silent stroke)
  • Apnea tidur dan tingkat keparahannya dapat menjadi prediksi yang kuat untuk silent stroke
  • Pasien dengan apnea tidur parah dapat mengalami perkembangan penyembuhan yang lebih lambat dan kurang berhasil pada tahap awal pemulihan stroke daripada pasien tanpa apnea tidur.

Apa yang kita tidak tahu dari hasil penelitian ini adalah apakah apnea tidur adalah faktor yang menyebabkan stroke atau apakah orang-orang yang menderita stroke lebih mungkin untuk mengalami apnea tidur?  Ketika seseorang menderita apnea tidur, saluran pernapasan mereka mengalami gangguan selama tidur. Gangguan saluran napas ini menyumbat pernapasan dan mengurangi kadar oksigen dalam aliran darah secara sementara. Orang yang menderita apnea tidur sedang sampai  parah memiliki banyak gangguan pernapasan, bahkan ratusan, setiap malam. (Dalam studi terbaru, peneliti mendefinisikan apnea tidur parah memiliki gangguan pernapasan 30 kali per jam tidur).

Mempelajari lebih banyak tentang bagaimana gangguan pernapasan mempengaruhi otak dan dapat menyebabkan risiko stroke adalah jalan penting untuk penelitian lanjutan.

Apnea tidur telah diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko untuk berbagai penyakit serius dan kronis. Apnea tidur obstruktif juga telah dikaitkan dengan:

Masalah kardiovaskular. Selain menjadi faktor risiko untuk stroke, apnea tidur juga berkaitan dengan hipertensi, penyakit jantung, dan gagal jantung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa apnea tidur obstruktif meningkatkan risiko seseorang terkena serangan jantung sebesar 30% selama periode 4-5 tahun.

Diabetes. Ada semakin banyak bukti hubungan antara diabetes dan apnea tidur. Studi ini menemukan tingkat tinggi dari apnea tidur obstruktif antara pria dengan diabetes tipe 2. Sebagian besar kasus apnea tidur tersebut terdiagnosis sebelum studi.

Disfungsi seksual. Apnea tidur telah terbukti menyebabkan masalah seksual pada pria dan wanita. Studi ini menunjukkan wanita dengan apnea tidur memiliki tingkat masalah seksual lebih tinggi, baik dengan kinerja seksual maupun dengan kepuasan. Penelitian ini mengungkapkan bahwa pria dengan disfungsi ereksi, lebih dari dua kali lebih rentan untuk mengalami apnea tidur obstruktif.

Kita harus mengetahui tentang bagaimana apnea tidur dapat terjadi, serta perannya sebagai faktor risiko stroke. Yang sudah jelas adalah bahwa apnea tidur adalah peringatan untuk stroke dan masalah kesehatan serius lainnya. Pemeriksaan kondisi apnea tidur dan memeriksa kesehatan tidur secara umum merupakan suatu tindakan yang penting untuk proses penilaian diagnostik dan risiko bagi pasien.

Jika apnea tidur dan gangguan tidur lainnya diabaikan, maka kita mengabaikan kesempatan untuk mengidentifikasi risiko penyakit yang lebih buruk pada pasien.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

13 Komplikasi yang Mungkin Terjadi Akibat Stroke, Apa Saja?

Konsekuensi paling umum akibat stroke adalah lumpuh, biasanya merupakan kelumpuhan hemiplegia atau hemiparesis. Ketahui informasi lebih lanjut di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Stroke, Kesehatan Otak dan Saraf 12 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

8 Sebab Mengapa Seseorang Memiliki Wajah yang Tidak Simetris

Bagaimana bentuk wajah Anda saat berkaca? Apakah posisi mata, telinga, dan bagian muka lainnya sudah tepat atau tidak simetris?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Kesehatan, Informasi Kesehatan 11 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Lebih Baik Kompres Dingin atau Hangat untuk Menurunkan Demam?

Mana yang lebih baik untuk menurunkan demam: kompres dingin atau hangat? Simak masing-masing penjelasannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan, Gejala dan Kondisi Umum 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Daftar Pantangan Makanan untuk Penderita Stroke

Penting bagi Anda untuk mematuhi berbagai pantangan makanan penderita stroke agar penyakit ini tidak kambuh lagi. Yuk, simak daftarnya di sini!

Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Stroke, Kesehatan Otak dan Saraf 10 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Berbagai Tes Medis yang Digunakan Dalam Evaluasi Stroke

Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 3 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit
perut bunyi saat lapar

5 Gejala Umum Gangguan Pencernaan dan Kemungkinan Penyebabnya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit
oral thrush

Meski Tampak Sama, Ini Beda Oral Trush, Lidah Peta, dan Oral Hairy Leukoplakia (OHL)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
sindrom pura-pura sakit

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit