Awas! Jika Tidak Diobati, Herpes Zoster Dapat Mengakibatkan Stroke

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 9 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Penyakit herpes zoster biasa menyerang seseorang yang sudah pernah terkena cacar air sebelumnya. Jika Anda mengalami tanda dan gejala yang mengarah ke herpes zoster, segeralah ke dokter untuk mendapatkan pengobatan. Menurut penelitian terbaru, jika herpes zoster tidak diobati dengan baik, komplikasinya bisa meningkatkan risiko Anda terkena stroke iskemik dan serangan jantung. Berikut penjelasannya.

Sekilas tentang penyakit herpes zoster

Herpes zoster (shingles; cacar ular) adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh virus Varicella zoster. Gejalanya berupa kemunculan lenting-lenting berisi cairan yang terasa nyeri, berkumpul membentuk suatu area kecil di permukaan kulit — mirip cacar air. Bedanya, kumpulan lenting ciri penyakit herpes zoster hanya terpusat di salah satu sisi wajah atau tubuh.

Herpes zoster terjadi ketika virus yang menyebabkan cacar air menjadi aktif kembali di tubuh Anda. Setelah Anda sembuh dari cacar air, virus tersebut akan tetap berada di dalam tubuh Anda dalam keadaan “tidur” alias tidak aktif. Namun pada beberapa orang, khusunya yang memiliki sistem imun lemah, virus ini bisa aktif kembali. Beberapa obat juga dapat memicu virus untuk aktif kembali dan menyebabkan herpes zoster.

Kebanyakan orang yang menderita herpes zoster akan sembuh dan tidak akan terkena lagi, namun tetap ada kemungkinan untuk terkena herpes zoster lebih dari satu kali.

Herpes zoster yang tidak diobati dengan baik dapat meningkatkan risiko stroke

Sebuah penelitian di Inggris mencoba mencari tahu kaitan antara komplikasi penyakit herpes zoster dan risiko stroke serta serangan jantung. Peneliti mengumpulkan data dari 42.954 partisipan yang terdiagnosis herpes zoster dan stroke iskemik, serta 24.237 partisipan yang terdiagnosis herpes zoster dan serangan jantung. Setelahnya mereka menghitung besarnya risiko terkena stroke atau serangan jantung dalam waktu 12 bulan setelah terdiagnosis herpes zoster.

Peneliti menemukan bahwa orang yang terdiagnosis dengan herpes zoster memiliki peningkatan risiko sebanyak 2,4 kali lebih tinggi untuk terkena stroke iskemik dan 1,7 kali lebih tinggi untuk terkena serangan jantung dalam waktu satu minggu setelah terkena herpes zoster. Tetapi risiko ini akan berkurang secara bertahap setelah waktu enam bulan dari diagnosis herpes zoster. Angka kejadian stroke iskemik dan serangan jantung tidak berbeda pada individu yang sudah divaksin herpes zoster ataupun belum.

Bagaimana herpes zoster dapat menyebabkan stroke dan serangan jantung?

Di dalam tubuh, virus varicella zoster menyebabkan peradangan pada pembuluh darah dan saraf. Peradangan pada pembuluh darah dapat menyebabkan penggumpalan darah sehingga mungkin menyebabkan stroke atau serangan jantung. Peradangan pada saraf dapat menyebabkan rasa nyeri yang hebat, yang disebut dengan neuralgia pasca herpetika.

Apa yang harus dilakukan apabila terkena herpes zoster?

Peneliti menemukan bahwa penyakit herpes zoster yang ditangani secepat mungkin dengan obat antiviral oral dapat mengurangi risiko stroke dan serangan jantung secara dramatis. Pasien herpes zoster yang tidak diobati dengan antivirus memiliki hampir dua kali lipat risiko stroke lebih besar dibandingkan dengan pasien yang mendapatkan pengobatan.

Peneliti menyarankan orang-orang yang terkena herpes zoster untuk berkonsultasi dengan dokter mereka tentang pengobatan antiviral. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) juga merekomendasikan agar setiap orang berusia 60 tahun atau lebih untuk mendapatkan vaksin herpes zoster sehingga risiko stroke atau serangan jantung dapat dicegah.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengapa Sebagian Orang Mudah Dihipnotis, Sementara yang Lain Tidak?

Anda mungkin waspada ketika berjalan sendirian, takut dihipnotis oleh orang tak dikenal. Tahukah Anda tidak semua orang mudah dihipnotis?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Penyakit Saraf Lainnya 4 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit

Mengenal Angiosarkoma, Kanker yang Sering Menyerang Kulit Kepala dan Leher

Anda mungkin sudah sering mendengar tentang kanker payudara, kanker serviks, dan jenis kanker lainnya. Bagaimana dengan angiosarkoma?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Penyakit Kanker Lainnya 4 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit

9 Bahaya yang Bisa Terjadi Jika Nekat Bikin Tato di Mata

Tertarik ingin mata Anda berwarna tidak hanya warna putih saja? Tato mata bisa jadi jawabannya. Sebelum lakukan, cari tahu dulu bahayanya di sini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Kesehatan Mata, Penyakit Mata 3 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit

Apakah Produk Pembersih di Rumah Anda Sebabkan Masalah Pernapasan?

Kandungan dalam berbagai produk pembersih rumah bisa menimbulkan masalah kesehatan. Bagaimana cara memilih dan mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Kebersihan Diri, Hidup Sehat 3 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Mengenal Misophonia

Misophonia, Alasan Mengapa Anda Benci Suara Tertentu

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Monika Nanda
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
manfaat pisang

9 Manfaat Pisang yang Jadi Buah Favorit Banyak Orang

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit
berhenti minum pil kb

7 Hal yang Bisa Terjadi Pada Tubuh Jika Anda Berhenti Minum Pil KB

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 4 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
mencium bau

Kenapa Beberapa Orang Cenderung Susah Mencium Bau?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 4 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit