backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

3

Tanya Dokter
Simpan

Pahami Kebocoran Cairan Otak, Penyebab Hidung Meler Seperti Pilek

Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto · General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 25/11/2022

Pahami Kebocoran Cairan Otak, Penyebab Hidung Meler Seperti Pilek

Hidung meler atau berair menjadi penyakit langganan pada beberapa orang. Penyebabnya pun beragam, mulai dari pilek, flu, alergi, atau sinusitis. Namun, ada kondisi lain yang bisa menimbulkan gejala tersebut, yaitu kebocoran cairan otak.

Lalu, apa yang membedakan penyebab hidung terus-menerus meler karena kebocoran cairan otak dengan kondisi lainnya? Cari jawabannya pada ulasan berikut ini.

Apa itu kebocoran cairan otak?

Cairan otak atau cairan serebrospinal (cerebrospinal fluid/CSF) adalah cairan bening yang menyelimuti otak dan sumsum tulang belakang.

Cairan ini tersusun dari tiga lapisan membran. Fungsinya, sebagai bantalan yang melindungi sumsum tulang belakang dari cedera.

Kebocoran cairan serebrospinal dapat terjadi saat ada robekan atau lubang pada lapisan terluar membran atau disebut juga dengan duramater. Akibatnya, cairan akan keluar dengan sendirinya.

Kondisi ini dapat terbagi menjadi dua jenis berikut ini.

  • Kebocoran cairan otak spinal, yakni kebocoran yang terjadi di sumsum tulang belakang.
  • Kebocoran cairan otak kranial, yakni kebocoran yang terjadi di sekitar saraf kranial di otak.

Gejala kebocoran cairan otak

penyebab pilek

Biasanya, gejala hidung meler akibat pilek, flu, alergi, atau sinusitis akan sembuh bila diobati dan menghindari pemicunya.

Berbeda dengan hidung meler akibat kebocoran cairan serebrospinal yang akan terus terjadi dan tidak membaik dengan pengobatan biasa.

Selain itu, ada gejala lain akibat bocornya cairan otak yang perlu diwaspadai. Setiap pasien dengan kondisi ini bisa memiliki gejala yang berbeda-beda.

Jika cairan yang bocor cukup banyak, gejala yang dialami bisa cukup parah bahkan hingga mengganggu kegiatan sehari-hari.

Gejala yang timbul juga akan bergantung pada jenis kebocoran cairan serebrospinal yang dialami. Berikut ini adalah gejala dari masing-masing jenisnya.

Kebocoran cairan otak spinal

Gejala paling umum dari kondisi ini adalah sakit kepala.

Pada kondisi ini, biasanya kepala akan terasa sangat sakit ketika menundukkan kepala, bangun dari posisi duduk, dan sebaliknya. Gejala tersebut juga akan bertambah parah saat batuk atau mengejan.

Selain sakit kepala, gejala lain juga bisa menyertai, di antaranya sebagai berikut.

Kebocoran cairan otak kranial

kebocoran yang terjadi di sekitar saraf kranial bisa ditandai dengan hidung meler atau berair.

Cairan yang keluar berwarna jernih dan akan semakin banyak keluar saat memiringkan kepala, menundukkan kepala, atau ketika mengejan.

Selain dari hidung, cairan juga bisa bocor atau keluar dari salah satu telinga.

Beberapa gejala lain pun juga dapat dialami, yang meliputi berikut ini.

  • Kehilangan kemampuan pendengaran.
  • Rasa seperti logam di mulut.
  • Meningitis.

Dilansir dari Cleveland Clinic, cairan otak yang bocor bisa menyebabkan penurunan tekanan cairan di dalam kepala. Kondisi ini disebut juga dengan hipotensi intrakranial.

Jika kondisi tersebut terjadi, otak akan turun ke dasar tengkorak. Hal ini bisa menyebabkan tekanan yang terlalu besar pada bagian bawah otak. Akibatnya, fungsi bagian otak tersebut dapat terganggu dan timbul gejala.

Kebocoran cairan otak yang terlalu banyak juga bisa menyebabkan cairan mengalir masuk ke dalam sinus, hidung, telinga, atau bagian belakang tenggorokan. Pada kondisi ini, gejala berupa hidung meler atau berair bisa terjadi.

Oleh karena itu, penyebab hidung meler bukan hanya sinusitis, pilek, flu, atau alergi. Cairan yang keluar dari hidung bisa jadi merupakan cairan serebrospinal yang mengalami kebocoran.

Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti jumlah penderita kondisi ini. Namun, para ahli menduga jumlahnya lebih banyak dari yang diketahui.

Hal ini mungkin terjadi mengingat kondisi ini cukup sulit untuk didiagnosis atau terkadang dapat disalahartikan sebagai kondisi lain, seperti migrain, infeksi sinus, atau alergi.

Penyebab kebocoran cairan otak

Terdapat sejumlah penyebab kebocoran cairan otak. Terkadang, kondisi ini bisa terjadi saat melakukan kegiatan ringan sehari-hari, seperti,

  • bersin,
  • batuk,
  • mengejan,
  • mengangkat benda berat,
  • terjatuh,
  • peregangan, dan
  • aktivitas olahraga.

Pada beberapa kasus, cairan serebrospinal juga bisa mengalami kebocoran tanpa diketahui penyebabnya, Hal ini umumnya dialami oleh ibu hamil saat menjalani persalinan.

Meski begitu, bocornya cairan otak biasanya terjadi akibat kondisi yang lebih serius, misalnya cedera otak atau kelainan pada otak atau sumsum tulang belakang.

Rata-rata orang yang mengalami kondisi ini pernah mengalami trauma di kepala, operasi di kepala, atau memiliki tumor otak.

Bagaimana dokter mendiagnosis kebocoran cairan otak?

kebocoran cairan otak

Pertama-tama, cairan yang keluar dari hidung akan diuji di laboratorium. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa cairan tersebut memang cairan serebrospinal pada otak.

Tes laboratorium tersebut umumnya dilakukan untuk mendeteksi tau, yaitu protein yang terkandung di dalam cairan otak, tetapi tidak ada pada lendir hidung.

Selain itu, tes glukosa juga dapat dilakukan untuk mendeteksi kadar glukosa di dalam cairan. Cairan otak memiliki kadar glukosa yang sama banyak dengan darah, sedangkan lendir hidung memiliki sedikit atau tidak sama sekali kadar glukosa.

Kemudian, mengetahui di bagian mana kebocoran cairan otak terjadi tidaklah mudah.

Pasien harus menjalani berbagai tes pencitraan (scan) resolusi tinggi untuk melihat aliran cairan otak. Pewarna fluorescent juga dapat disuntikan, sehingga memungkinkan ahli bedah untuk menentukan lokasi kebocoran dengan lebih jelas.

Beberapa tes pencitraan yang dapat dilakukan meliputi berikut ini.

  • Computed tomography atau (CT) scan.
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI).
  • Tes khusus, seperti mielografi, dengan mengambil gambar tulang belakang, sumsum tulang belakang, dan struktur di sekitarnya untuk mendeteksi kelainan.
  • Cisternogram, untuk menentukan apakah ada aliran cairan serebrospinal yang tidak normal di dalam otak atau kanal tulang belakang.

Bagaimana mengatasi kebocoran cairan otak?

Kebocoran cairan otak umumnya dapat sembuh dengan sendirinya dengan beristirahat.

Pada kasus yang ringan, kondisi ini dapat ditangani dengan langkah berikut ini.

  • Beristirahat penuh (bed rest) dan mengangkat kepala lebih tinggi dari permukaan kasur.
  • Menggunakan obat pelunak tinja untuk mencegah mengejan saat buang air besar (BAB).

Jika gejala yang dialami cukup berat, maka pengobatan ke dokter perlu dilakukan.

Mengatasi kondisi ini secara medis dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut ini, tergantung dari keparahan kondisi masing-masing.

1. Penutup darah epidural

Metode ini melibatkan pengambilan sampel darah, lalu disuntikkan ke kanal tulang belakang. Sel-sel darah akan membentuk gumpalan yang menciptakan tambalan untuk menutupi area yang bocor.

2. Tambalan

Tambalan khusus dapat dibuat sendiri atau digabungkan dengan metode penutup darah epidural untuk menutup lubang dan menghentikan kebocoran.

3. Operasi

Beberapa kasus kebocoran cairan otak memerlukan operasi. Namun, tindakan ini hanya dilakukan jika pilihan perawatan lain tidak berhasil dan lokasi kebocoran yang tepat diketahui.

Ada beberapa jenis operasi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kebocoran CSF. Pembedahan dapat dilakukan dengan membuat jahitan atau cangkok yang terbuat dari potongan otot atau lemak.

4. Embolisasi transvena

Ini dilakukan dengan menggunakan kateter untuk membuat perekatan yang menutup lubang dari dalam vena penyebab kebocoran.

Untuk mendapat tindakan medis yang tepat pada kebocoran cairan otak, Anda bisa mengunjungi fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan ini. Misalnya rumah sakit khusus otak atau umum.

Cek fasilitas kesehatan terdekat dari lokasi Anda dan booking layanannya melalui via Hello Sehat.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Carla Pramudita Susanto

General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 25/11/2022

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan