Obat dan Pengobatan Medis untuk Mengatasi Penyakit Parkinson

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 November 2020 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Parkinson memang bukanlah penyakit mematikan. Namun, penderitanya akan mengalami penurunan kualitas hidup, sehingga sulit dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, penderita Parkinson perlu mendapat penanganan untuk mengatasi kondisinya. Adapun cara utama dalam mengobati penyakit Parkinson adalah melalui pengobatan medis, baik itu obat-obatan maupun prosedur lain. Lantas, apa saja obat dan prosedur pengobatan tersebut? Apakah dengan pengobatan ini Parkinson bisa disembuhkan?

Obat-obatan untuk mengatasi penyakit Parkinson

Penyakit Parkinson adalah kelainan sistem saraf progresif yang menyebabkan keterbatasan gerak serta gangguan alat gerak. Pada tahap awal, gejala Parkinson yang timbul biasanya masih ringan, kemudian bisa menjadi lebih parah seiring dengan perkembangan penyakitnya. 

Sama seperti diabetes, Parkinson adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Namun, gejala yang muncul masih dapat dikontrol sehingga bisa terhindar dari komplikasi yang mungkin saja timbul pada kemudian hari. Adapun salah satu cara paling ampuh untuk mengontrol gejala Parkinson adalah melalui obat-obatan. 

Namun perlu digarisbawahi, tidak semua obat-obatan yang tersedia dapat bekerja pada setiap orang, termasuk efek samping yang mungkin ditimbulkan. Oleh karena itu, sebaiknya Anda selalu berkonsultasi dengan dokter mengenai konsumsi obat anti-Parkinson ini. Dokter akan menentukan jenis obat yang tepat sesuai dengan gejala yang Anda rasakan. 

Berikut adalah beberapa obat yang biasa diberikan dokter sebagai salah satu cara untuk mengobati penyakit Parkinson:

  • Carbidopa-levodopa

obat sakit maag cair tablet

Levodopa adalah obat yang dianggap paling efektif untuk mengatasi gejala utama penyakit parkinson. Obat ini akan diserap oleh sel-sel saraf di otak dan diubah menjadi dopamin, yaitu zat kimia penting yang berperan dalam sistem gerak tubuh manusia. Dengan konsumsi levodopa, kadar dopamin yang hilang atau berkurang dapat meningkat sehingga bisa memperbaiki masalah gerakan yang Anda alami. 

Pemberian obat levodopa seringkali dikombinasikan dengan carbidopa. Obat ini diberikan untuk mencegah konversi levodopa menjadi dopamin di luar bagian otak, serta mengurangi efek samping yang mungkin timbul, seperti mual, pusing, atau kelelahan.

Meski demikian, mengonsumsi carbidova-levodopa dalam waktu yang lama dan dengan dosis yang tinggi bisa menyebabkan gerakan tubuh menjadi tidak terkontrol. Untuk mengatasi hal tersebut, dokter biasanya akan menyesuaikan dosis dengan melihat efek samping yang mungkin muncul.

  • Dopamine agonist

Tidak seperti levodopa yang menggantikan dopamin di dalam otak, obat dopamine agonist bekerja dengan meniru efek dari dopamin tersebut. Walaupun tidak seefektif levodopa dalam mengobati gejala Parkinson, tetapi dopamine agonist lebih aman dikonsumsi dalam waktu yang lama. Obat ini pun terkadang diberikan bersamaan dengan levodopa, untuk memungkinkan penggunaan levodopa dengan dosis yang lebih rendah. 

Namun, dopamine agonist juga dapat menimbulkan efek samping, seperti kelelahan atau pusing, serta dapat menyebabkan halusinasi dan kebingungan, terutama pada pasien lansia. Oleh karena itu, meski obat Parkinson ini dapat ditemukan di apotik, pembelian dan penggunaannya harus sesuai dengan resep dokter. Adapun beberapa contoh obat dopamine agonist, yaitu pramipexole, ropinirole, atau rotigotine.

  • MAO-B inhibitors

Monoamine oxidase-B (MAO-B) inhibitors, seperti selegiline, rasagiline, dan safinamide, adalah alternatif lain dari obat levodopa untuk mengobati Parkinson pada tahap awal. Obat ini bekerja dengan cara memblokir efek dari enzim monoamine oxidase-B yang dapat memecah dopamin. 

Obat ini pun tidak seefektif levodopa dalam meringankan gejala Parkinson. Meski demikian, MAO inhibitors umumnya dapat ditoleransi dengan sangat baik oleh tubuh, dan juga sering diberikan bersama dengan levodopa atau dopamine agonist agar lebih efektif. Adapun efek samping yang ditimbulkan bisa berupa, sakit kepala, mual atau sakit perut, tekanan darah tinggi, hingga insomnia

  • Catechol O-methyltransferase (COMT) inhibitors

Obat kelas COMT inhibitors, yaitu entacapone (Comtan), biasanya diresepkan untuk orang yang menderita penyakit Parkinson tahap lanjut. Jenis obat ini bekerja dengan memperpanjang efek levodopa dengan memblokir enzim COMT yang bisa memecah dopamin.

Beberapa efek samping yang mungkin timbul dari obat ini, seperti diare, mual, atau muntah. Adapun obat jenis COMT inhibitor lainnya, seperti Tolcapone, jarang diresepkan dokter karena berisiko menimbulkan kerusakan hati yang serius dan gagal hati.

  • Antikolinergik

obat covid-19 pengobatan

Obat antikolinergik, seperti benztropine atau trihexyphenidyl, sering diresepkan dokter untuk mengontrol tremor dan kekakuan otot yang kerap terjadi pada penderita Parkinson. Meski demikian, obat ini tidak direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang pada pasien lanjut usia karena komplikasi atau efek samping serius yang mungkin timbul. 

Adapun efek samping yang mungkin timbul dari konsumsi obat antikolinergik adalah penglihatan kabur, gangguan memori, kebingungan, halusinasi, mulut kering, konstipasi atau sembelit, dan gangguan buang air kecil.

  • Amantadine

Obat amantadine biasanya diberikan pada penderita Parkinson tahap awal untuk meredakan gejala ringan dalam jangka pendek. Namun, pemberian obat ini terkadang dibarengi dengan antikolinergik atau levodopa-carbidopa pada tahap lanjut. Amantadine pun disebut efektif untuk mengontrol gerakan tak terkendali pada tubuh yang terkait dengan Parkinson. 

Adapun efek samping yang mungkin timbul dari konsumsi amantadine, yaitu timbulnya bintik keunguan pada kulit, pembengkakan di pergelangan kaki, sulit berkonsentrasi atau kebingungan, insomnia, hingga halusinasi. 

  • Duopa

Pada kondisi yang parah dan sudah stadium lanjut, penderita Parkinson mungkin saja diberikan obat Doupa. Ini merupakan obat jenis levodopa-carbidopa berbentuk gel yang langsung dimasukkan ke usus kecil Anda melalui selang atau infus khusus. 

Penempatan selang dan tabung untuk memasukkan obat ini membutuhkan prosedur pembedahan kecil. Adapun risiko atau efek samping yang mungkin muncul dengan adanya tabung tersebut, yaitu tabung yang jatuh atau infeksi di sekitar tempat infus atau selang. 

  • Inbrija

Selain Doupa, jenis obat levodopa-carbidopa juga memiliki bentuk yang dihirup, yang bernama Inbrija. Dilansir dari Mayo Clinic, Inbrija merupakan pengobatan bermerek terbaru yang mungkin dapat membantu mengontrol gejala penyakit Parkinson, terutama jika obat oral tiba-tiba berhenti bekerja.

Jenis obat-obatan di atas merupakan obat bermerek yang umumnya bisa didapat dengan resep dokter. Dilansir dari Parkinson’s Foundation, obat Parkinson versi generik dari levodopa-carbidopa, dopamine agonist, MAO-B inhibitors, dan antikolinergik, pun sudah tersedia, meski standarnya tidak cukup tinggi. Sebaiknya selalu konsultasikan dengan dokter mengenai konsumsi obat-obatan tersebut.

Prosedur pengobatan penyakit Parkinson lain yang mungkin dilakukan

Selain dengan obat-obatan, cara lain untuk mengobati atau mengatasi penyakit Parkinson adalah dengan prosedur operasi. Biasanya, prosedur ini dilakukan bagi pasien Parkinson yang sudah pada tahap lanjut, mengalami gejala yang sudah parah, dan tidak memiliki respon yang stabil terhadap obat-obatan, termasuk levodopa.

Meski demikian, risiko operasi lebih tinggi dibandingkan dengan obat-obatan. Oleh karena itu, dokter akan menimbang manfaat operasi yang akan didapat dibandingkan dengan risiko yang mungkin terjadi. Prosedur ini pun akan ditentukan berdasarkan jenis dan tingkat keparahan gejala, kemerosotan kualitas hidup pasien, serta kesehatan pasien secara keseluruhan.

  • Deep brain stimulation (DBS)

operasi kanker usus besar

Selain pembedahan kecil untuk memasang tabung dan memasukkan obat doupa langsung ke area usus, jenis prosedur operasi yang sering dilakukan untuk penderita penyakit Parkinson adalah deep brain stimulation (DBS).

Pada prosedur ini, ahli bedah akan menanamkan elektroda ke bagian tertentu di otak Anda. Elektroda tersebut akan terhubung ke generator yang dipasang di dada dekat tulang selangka. Generator ini kemudian menghasilkan arus listrik untuk dikirim ke bagian otak dan menstimulasi area yang terkena penyakit Parkinson.

Meski tidak dapat menyembuhkan, cara ini dapat meringankan gejala penyakit Parkinson pada sebagian orang, termasuk tremor, gerakan tak terkendali (dyskinesia), kekakuan, serta memperbaiki gerakan yang lambat. Namun, pengobatan ini pun tidak mencegah penyakit Parkinson untuk berkembang.

  • Pallidotomy

Prosedur pallidotomy biasanya direkomendasikan untuk mengobati Parkinson agresif atau pasien yang tidak merespon obat-obatan. Prosedur pembedahan ini dilakukan dengan memasukkan probe kawat ke dalam globus pallidus, yaitu bagian yang sangat kecil di otak, yang juga berperan dalam mengendalikan gerakan.

Para ahli berpendapat, bagian otak ini menjadi hiperaktif karena hilang atau berkurangnya dopamin. Adapun dengan pengobatan tersebut, gejala Parkinson, seperti dyskinesia, tremor, kekakuan otot, dan hilangnya gerakan tak sadar dapat berkurang secara bertahap.

  • Thalamotomy

Prosedur thalamotomy umumnya dilakukan untuk mengatasi gejala tremor di tangan atau lengan yang kerap dirasakan penderita Parkinson. Prosedur operasi ini menggunakan arus energi frekuensi radio untuk menghancurkan bagian kecil dari talamus di otak yang menyebabkan tremor terjadi.

  • Pengobatan tambahan

Selain cara-cara di atas, dokter mungkin akan memberi obat dan pengobatan tambahan untuk membantu mengatasi gejala nonmotorik yang sering timbul. Misalnya, jika Anda mengalami masalah kognitif, termasuk demensia, dokter mungkin akan memberi obat-obatan atau terapi untuk mengatasi kondisi tersebut. Namun, bila Anda memiliki gejala psikologis, seperti depresi, psikoterapi atau obat untuk depresi mungkin saja diberikan.

Selain itu, terapi untuk penyakit Parkinson, termasuk penerapan gaya hidup sehat yang dianjurkan, pun mungkin akan direkomendasikan sebagai pengobatan suportif untuk kondisi Anda. Pastikan selalu berkonsultasi dengan dokter setiap gejala yang Anda rasakan dan bagaimana cara mengatasinya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Sehatkah Kalau Makan Makanan yang Sama Terus Setiap Hari?

Adakah dampak kesehatan tertentu jika kita makan makanan yang sama tiap harinya? Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebiasaan tersebut?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Tips Makan Sehat, Nutrisi 26 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Tiba-Tiba Susah Kentut? Tak Perlu Pusing, Begini Cara Mengatasinya

Pernah merasakan tidak bisa kentut? Tentu rasanya sangat mengganggu dan membuat perut terasa sakit. Tenang, atasi masalah susah kentut dengan cara alami ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Kesehatan, Gejala dan Kondisi Umum 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

9 Cara Jitu untuk Mengusir Semut Bandel di Rumah

Setiap rumah pasti ada semutnya. Apalagi rumah yang kotor. Jangan panik dulu, air lemon ternyata bisa jadi cara mengusir semut di rumah yang terjamin ampuh.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kebersihan Diri, Hidup Sehat 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Kenapa Lidah Terasa Pahit saat Anda Sedang Sakit?

Saat Anda sakit, makan dan minum apapun jadi tak selera. Hal ini karena mulut dan lidah terasa pahit. Nah, ini dia alasan dan cara ampuh mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Penyakit Gusi dan Mulut, Gigi dan Mulut 25 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

gula darah turun

Habis Makan, Gula Darah Malah Turun Drastis? Apa Sebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Angelina Yuwono
Dipublikasikan tanggal: 26 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
ciri dan gejala infeksi parasit

Mengenal Jenis-Jenis Parasit dan Penyakit Infeksi yang Disebabkannya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit
badan sakit setelah olahraga

Badan Sakit Setelah Olahraga, Apakah Artinya Olahraga Anda Ampuh?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 26 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
tidak enak badan

6 Cara Mengurangi Rasa Tidak Enak Badan saat Demam

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit