Waspadai Karakteristik Gejala dari Setiap Jenis Stroke, Adakah Perbedaaanya?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Stroke adalah kondisi medis gawat darurat yang terjadi ketika aliran darah ke otak terputus. Tanpa asupan darah, sel-sel otak akan mati. Ini dapat menyebabkan komplikasi yang fatal, dari kelumpuhan permanen hingga kematian. Terdapat setidaknya tiga jenis stroke yang umum dialami, yaitu stroke iskemik, stroke hemoragik, dan stroke ringan. Apakah ketiganya memiliki gejala stroke yang berbeda?

Laporan Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI tahun 2008 menunjukkan bahwa stroke naik dari peringkat keempat menjadi penyakit penyebab kematian nomor satu di Indonesia.

Maka dari itu, penting untuk bisa membedakan gejala stroke dari ketiganya agar Anda bisa mendapatkan pertolongan medis yang tepat sebelum terlambat.

Gejala stroke iskemik?

Stroke iskemik adalah jenis stroke yang terjadi ketika pembuluh darah yang menyuplai darah ke area otak terhalang oleh bekuan darah. Stroke iskemik bertanggung jawab atas 87 persen dari total kasus stroke.

Bekuan darah sering diakibatkan oleh aterosklerosis, yang merupakan penumpukan timbunan lemak di lapisan dalam pembuluh darah.

Sebagian dari timbunan lemak ini bisa lepas dan memblokir aliran darah di otak Anda. Konsepnya mirip dengan serangan jantung, di mana gumpalan darah menghalangi aliran darah ke sebagian jantung Anda.

Stroke iskemik bisa bersifat embolik, yang berarti bekuan darah berasal dari bagian lain di tubuh Anda dan kemudian berpindah menuju ke otak — biasanya dari jantung dan arteri besar di dada bagian atas dan leher.

Diperkirakan 15 persen kasus stroke embolik disebabkan oleh kondisi yang disebut fibrilasi atrium, sebuah kondisi yang membuat jantung Anda berdetak tidak teratur.

Ini menciptakan kondisi di mana gumpalan bisa terbentuk di jantung, terlepas, dan berjalan ke otak.

Bekuan darah yang menyebabkan stroke iskemik tidak akan hilang tanpa pengobatan.

Apa saja tanda-tanda dan gejala stroke iskemik?

Kerusakan pada sel-sel otak akibat serangan stroke iskemik akan memunculkan sejumlah masalah kesehatan atau gejala yang biasanya berhubungan dengan gangguan fungsi saraf. 

Jenis gejala yang muncul bergantung pada bagian otak yang mengalami kerusakan. Sehingga setiap orang bisa mengalami gejala spesifik yang berbeda-beda. 

Namun, secara umum gejala stroke non hemoragik yang terjadi adalah:

  • Mengalami kelumpuhan atau rasa kebas di sebagian tubuh, terutama pada wajah dan salah satu tangan dan kaki
  • Kesulitan berbicara 
  • Sulit mengendalikan gerakan mata
  • Kesulitan melihat dengan kedua mata
  • Kesulitan berjalan
  • Sulit mengkoordinasi gerakan tubuh 
  • Kehilangan keseimbangan
  • Pernapasan tidak teratur
  • Hilang kesadaran
  • Sakit kepala
  • Muntah

Penting untuk diketahui bahwa gejala stroke iskemik umumnya muncul dengan cepat dan dapat berlangsung dalam beberapa menit hingga hitungan jam. 

Gejala stroke hemoragik

Stroke hemoragik terjadi saat pembuluh darah di otak mengalami kebocoran atau pecah. Stroke hemoragik menyumbang sekitar 13 persen dari total kasus stroke.

Stroke jenis ini berawal dari pembuluh darah yang melemah, kemudian pecah dan menumpahkan darah ke sekitarnya.

Darah yang bocor jadi menumpuk dan menghambat jaringan otak di sekitarnya. Kematian atau koma panjang akan terjadi jika pendarahan berlanjut.

Ada dua penyebab stroke hemoragik. Yang pertama adalah aneurisma, yang menyebabkan sebagian pembuluh darah melemah hingga mengembang layaknya balon dan kadang pecah.

Yang lainnya adalah malformasi arteriovenosa, yaitu kondisi pembuluh darah yang terbentuk secara abnormal. Jika pembuluh darah semacam itu pecah, bisa menyebabkan stroke hemoragik.

Apa saja tanda-tanda dan gejala dari stroke hemoragik?

Tanda-tanda dan gejala stroke hemoragik bervariasi dari satu penderita dan penderita lainnya. Hal ini tergantung pada jenis stroke dan tingkat keparahannya.

Penderita stroke akan merasakan pula kesulitan dalam menjaga keseimbangan tubuh, sehingga berjalan biasa pun terasa berat untuk dilakukan.

Apabila penderita mengalami pendarahan jenis intraserebral, gejala yang muncul biasanya berupa:

  • Beberapa bagian tubuh terasa lemah mendadak
  • Kelumpuhan atau mati rasa di beberapa bagian tubuh
  • Sulit berbicara
  • Sulit mengendalikan gerakan mata
  • Muntah dengan cairan yang menyembur
  • Kesulitan berjalan
  • Pernapasan tidak teratur
  • Pingsan
  • Hilang kesadaran

Sementara itu, stroke jenis subarachnoid akan menunjukkan gejala-gejala yang tidak jauh berbeda, seperti:

  • Sakit kepala yang sangat parah dan tiba-tiba (beberapa orang menggambarkannya seperti “tersambar petir”)
  • Mual dan muntah dengan cairan yang menyembur
  • Ketidakmampuan untuk melihat cahaya terang
  • Leher kaku
  • Pusing
  • Kebingungan
  • Kejang
  • Koma

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Gejala stroke ringan

Transient ischemic attack (TIA) atau yang lebih dikenal dengan stroke ringan merupakan gangguan fungsi otak dalam sesaat yang disebabkan oleh terhambatnya aliran darah yang mengarah ke bagian otak. 

Serangan stroke ringan hanya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam, atau bahkan hanya terjadi dalam beberapa menit, sehingga tidak menyebabkan kerusakan otak permanen.

Kondisi ini menyebabkan sistem saraf otak tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup dalam beberapa waktu, sehingga menyebabkan gangguan pada indera, kemampuan kognitif otak, dan sistem motorik.

Apa saja tanda-tanda dan gejala dari TIA?

Penyakit ini memiliki gejala yang identik dengan penyakit stroke secara umum yang kerap muncul dengan cepat secara tiba-tiba. 

Salah satu karakteristik yang paling membedakan adalah gejala TIA hanya muncul dalam beberapa saat dan akan hilang dengan sendirinya. 

Dalam kebanyakan kasus gejala hanya berlangsung kurang dari sepuluh menit dan hilang dalam waktu kurang dari 24 jam.

Gejala yang ditunjukkan sebenarnya sangat bervariasi bergantung dari bagian otak yang terpengaruh dari penyumbatan aliran darah.

Namun, secara umum TIA memengaruhi bagian otak yang mengontrol sistem motorik, kemampuan berpikir, dan indera penglihatan. 

Berikut ini merupakan daftar gejala stroke ringan yang paling umum dialami:

  • Pusing dan kehilangan keseimbangan secara mendadak
  • Mengalami kelemahan otot pada satu sisi tubuh terutama pada bagian wajah lengan dan kaki
  • Mengalami kelumpuhan atau rasa kebas pada satu sisi tubuh terutama pada bagian wajah, lengan, atau kaki
  • Kebingungan atau kesulitan memahami perkataan orang lain
  • Mengalami gangguan penglihatan seperti rabun, penglihatan ganda, atau kebutaan pada salah satu atau kedua mata
  • Sakit kepala parah tanpa diketahui penyebab pastinya
  • Kesulitan untuk berbicara sehingga artikulasi menjadi tidak jelas
  • Kesulitan untuk mengatur koordinasi sistem gerak tubuh
  • Kesulitan berjalan dan bergerak 
  • Kesulitan menelan makanan

Meskipun gejala TIA hanya berlangsung singkat dan dapat menghilang dengan sendirinya, kondisi tersebut tetap tidak bisa diabaikan. Pasalnya, orang yang mengalami stroke ringan berisiko tinggi untuk terkena serangan stroke yang sebenarnya.

Memeriksa setiap gejala stroke

Jenis stroke yang berbeda bisa menyebabkan gejala yang sama karena masing-masing memengaruhi aliran darah di otak Anda. Satu-satunya cara untuk menentukan jenis stroke yang mungkin Anda hadapi adalah dengan mendapatkan pertolongan medis. Dokter akan menjalankan tes pencitraan CT-Scan untuk membaca otak Anda.

National Stroke Association merekomendasikan metode FAST untuk membantu Anda mengidentifikasi tanda-tanda peringatan stroke:

  • F (Face/Wajah): Saat Anda tersenyum, apakah satu sisi wajah Anda turun ke bawah (senyum mencong)? Apakah ada rasa baal di sekitar mulut?
  • A (Arms/Lengan): Bila Anda mengangkat kedua lengan, apakah salah satu lengan terkulai lemas jatuh ke bawah?
  • S (Speech/Bicara): Apakah ucapan Anda tidak jelas — suara pelo/parau/cadel/sengau? Apakah ada perubahan dari volume suara Anda? Apakah Anda sulit untuk bicara?
  • T (Time/Waktu): Jika Anda mengalami gejala ini, segera hubungi 119 atau pergi ke UGD terdekat. Hal ini diperlukan agar Anda dapat menerima perawatan di unit stroke rumah sakit dalam waktu 3 jam sejak kedatangan.

Adakah perbedaan dari setiap gejala stroke?

Gejala stroke di atas merupakan tanda stroke secara umum, sehingga tidak cukup spesifik untuk membedakan antara stroke iskemik dan mana yang hemoragik.

Namun, sejumlah gejala umum, termasuk mual, muntah, dan sakit kepala, serta tingkat kesadaran yang berubah, dapat mengindikasikan peningkatan tekanan intrakranial (tekanan otak normal) dan lebih umum terjadi pada stroke hemoragik dan stroke iskemik yang parah.

Kejang lebih sering terjadi pada stroke hemoragik dibandingkan dengan iskemik. Kejang terjadi pada 28% kasus stroke hemoragik, umumnya pada awal perdarahan intraserebral atau dalam 24 jam pertama.

Tingkat keparahan stroke umumnya lebih parah pada kasus hemoragik. Dalam 3 bulan pertama setelah stroke, stroke hemoragik dikaitkan dengan peningkatan angka kematian yang cukup besar, yang secara khusus terkait dengan sifat kerusakan yang rentan mengalami perdarahan hebat.

Beda jenis stroke, beda pula cara penanganannya

Stroke adalah keadaan genting. Sangat penting untuk memindahkan pasien ke unit stroke terdekat sehingga mereka dapat menerima perawatan dalam waktu 3 jam dari saat kedatangan ke rumah sakit.

Untuk mengobati stroke iskemik, dokter harus segera mengembalikan aliran darah ke otak Anda. Aspirin adalah perawatan darurat yang diberikan di UGD untuk mengurangi kemungkinan terkena stroke kambuhan.

Aspirin mencegah terbentuknya penggumpalan darah. Terapi dengan obat penghancur bekuan darah harus dimulai dalam waktu 3 jam jika diberikan lewat pembuluh darah vena. Terapi semakin cepat, semakin baik.

Perawatan darurat stroke hemoragik lebih ditekankan pada pengendalian perdarahan dan mengurangi tekanan di otak. Jika Anda menggunakan obat warfarin (Coumadin) atau anti-platelet seperti clopidogrel (Plavix) untuk mencegah pembekuan darah, Anda mungkin diberi obat-obatan atau transfusi darah untuk melawan efek pengencer darah.

Anda mungkin juga diberi obat untuk menurunkan tekanan di otak, menurunkan tekanan darah, mencegah vasospasme, atau mencegah kejang.

Pembedahan juga dapat dilakukan untuk membantu mengurangi risiko stroke di masa depan. Upaya ini akan meningkatkan kesempatan pasien stroke untuk bisa kembali hidup normal seperti sebelumnya.

Baca Juga:

Yang juga perlu Anda baca