Dibanding Pria, Wanita Lebih Berisiko Meninggal Setahun Setelah Serangan Jantung

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal update Mei 7, 2020
Bagikan sekarang

Serangan jantung adalah salah satu penyebab kematian terbesar pada wanita. Bahkan, meski pria lebih rentan terhadap serangan jantung, wanita memiliki risiko kematian lebih tinggi dibanding pria. Mengapa bisa begitu? Apakah tingkat kematian pada wanita bisa dicegah? Simak ulasannya berikut ini.

Dibanding pada pria, serangan jantung pada wanita lebih riskan

Jika boleh dibandingkan, serangan jantung yang dialami oleh wanita dan pria cukup berbeda. Salah satu yang cukup jelas terlihat adalah gejala serangan jantung pada wanita dan pria. Pada pria, gejala umum yang sering muncul adalah nyeri pada bagian dada. Saat mengalaminya, sangat mudah bagi pria untuk yakin bahwa ia mengalami serangan jantung.

Sementara, pada wanita, gejala umum seperti nyeri dada justru jarang terjadi. Bahkan, gejala serangan jantung yang dirasakan wanita biasanya terlalu samar dan tidak mengarah ke penyakit jantung. Sebagai contoh, mual, pusing kepala, dan tubuh terasa lelah.

Oleh karena itu, tidak jarang wanita enggan memeriksakan kondisinya ke dokter spesialis jantung karena merasa gejala yang dialaminya kurang relevan terhadap penyakit jantung. Bahkan, wanita bisa saja menghabiskan waktu selama 54 jam untuk akhirnya memeriksakan kondisinya ke dokter. Padahal, pria hanya butuh kurang lebih 16 jam untuk segera mendapatkan penanganan.

Selain gejala yang dialami, penanganan terhadap serangan jantung pada wanita dan pria juga cukup berbeda. Salah satu contohnya adalah wanita mungkin tidak akan diresepkan penggunaan obat-obatan tertentu yang biasanya diresepkan untuk pasien pria.

Di samping itu, lebih sedikit jumlah wanita yang disarankan untuk menjalani rehabilitasi jantung dibandingkan pria. Padahal, rehabilitasi jantung merupakan salah satu metode yang cukup baik untuk meningkatkan kesehatan jantung  dan membantu pemulihan penyakit jantung lebih cepat.

Risiko kematian akibat serangan jantung pada wanita

Menurut Texas Heart Institute, setelah satu tahun mengalami serangan jantung, lebih dari 50% pasien wanita lebih berisiko mengalami kematian dibanding pria. Selain itu, risiko wanita mengalami serangan jantung kedua juga lebih tinggi dibanding pria. Ada beberapa hal yang menjadi penyebab risiko kematian akibat serangan jantung pada wanita lebih tinggi dibanding pada pria.

1. Penyebaran plak dalam pembuluh arteri

Plak terbentuk karena ada penumpukan kolesterol dalam pembuluh darah. Pada pria, plak tersebut menyumbat pembuluh darah dalam bentuk gumpalan-gumpalan, sehingga lebih mudah ditemukan. Hal ini yang kemudian membuat penyumbatan penyebab serangan jantung bisa segera diatasi.

Sementara itu, pada wanita plak tersebar ke seluruh dinding arteri, sehingga hasil studi angiografi pada wanita sering kali disalahartikan sebagai kondisi jantung normal. Hal ini yang sering kali menyebabkan penanganan serangan jantung pada wanita menjadi terlambat.

2. Gejala serangan jantung yang dialami

Gejala serangan jantung yang paling umum adalah nyeri pada bagian dada. Sayangnya, serangan jantung yang dialami wanita sering kali tidak disertai oleh gejala tersebut. Justru, gejala yang sering muncul saat wanita mengalami serangan jantung adalah kepala terasa ringan, sakit perut, sensasi terbakar pada perut bagian atas, dan berkeringat.

Maka tak heran jika saat menjalani pemeriksaan kondisi kesehatan jantung, dokter dan ahli medis sedikit merasa kesulitan untuk memahami kondisi kesehatannya. Belum lagi karena jarang terjadi perubahan pada EKG yang membuat dokter membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan tanda-tanda serangan jantung.

Semakin banyak waktu yang dibutuhkan, semakin lama pula penanganan terhadap serangan jantung yang dilakukan oleh dokter. Hal ini bisa menjadi penyebab tingginya angka kematian akibat serangan jantung pada wanita.

3. Reaksi terhadap prosedur operasi bypass jantung

Meski belum dapat diketahui dengan pasti apa penyebabnya, tapi wanita memiliki risiko hingga 2-3 kali lipat lebih besar mengalami kematian setelah menjalani operasi bypass jantung. Selama menjalani proses operasi yang satu ini, wanita memang sering mengalami komplikasi yang menjadi penyebab kematian akibat serangan jantung.

Wanita dengan usia yang lebih muda, yaitu sekitar 40-59 tahun bahkan memiliki risiko hingga 4 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan pria pada kelompok usia yang sama.

4. Usia

Saat mengalami serangan jantung, usia pria umumnya memang masih tergolong lebih muda dibandingkan dengan usia wanita saat mengalaminya. Artinya, pria memiliki kecenderungan untuk mengalami kondisi ini lebih awal.

Namun, justru karena lebih banyak wanita yang mengalami serangan jantung saat sudah memasuki usia lanjut, masalah jantung yang dimilikinya pun menjadi lebih rumit. Umumnya, pada usia lanjut, wanita juga memiliki masalah kesehatan jantung lainnya.

Hal tersebut menyebabkan penanganan terhadap serangan jantung yang dialami wanita menjadi lebih sulit. Itulah penyebab tingginya angka kematian akibat serangan jantung pada wanita.

Mencegah serangan jantung pada wanita dengan berolahraga

Salah satu cara mencegah serangan jantung pada wanita adalah rutin berolahraga. Anda tidak perlu melakukan olahraga yang terlalu berat, karena yang terpenting adalah tubuh tetap aktif bergerak.

Demi memerangi faktor risiko dari serangan jantung, setidaknya cobalah berolahraga selama 150 menit setiap minggu dengan aktivitas fisik yang tidak terlalu berat. Namun, jika Anda ingin melakukan aktivitas yang sedikit lebih berat, 75 menit berolahraga selama satu minggu pun sudah cukup untuk meningkatkan kesehatan jantung Anda.

Jika dilakukan, Anda mungkin hanya butuh melakukan olahraga sebanyak 30 menit selama 5 hari dalam satu minggu. Namun, Anda bisa memulai aktivitas fisik perlahan, dari yang ringan terlebih dahulu. Baru setelah terbiasa, Anda bisa meningkatkan aktivitas fisik yang Anda lakukan.

Selain baik untuk membantu menjaga kesehatan jantung Anda, berolahraga juga memiliki beberapa manfaat lainnya. Berolahraga rupanya dapat membantu Anda menjaga berat badan dan meningkatkan tekanan darah. Keduanya adalah kondisi yang dapat mengurangi risiko serangan jantung pada wanita. Anda juga bisa melakukan olahraga sembari menjalani aktivitas sehari-hari.

Sebagai contoh, saat berada di luar rumah, hindari eskalator atau lift dan cobalah memilih untuk naik tangga. Tak hanya itu, saat bepergian ke tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah, pilihlah untuk berjalan kaki daripada naik kendaraan.

Anda bahkan bisa tetap berolahraga sambil menonton televisi di rumah. Caranya, alih-alih duduk bersantai sambil menyaksikan tayangan kesukaan Anda di televisi, coba untuk melakukan gerakan olahraga ringan. Bisa saja, karena dilakukan sambil menonton acara televisi kesukaan, olahraga yang Anda lakukan jadi tidak terasa terlalu melelahkan.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Langkah Pertolongan Pertama Ketika Serangan Jantung Terjadi

Serangan jantung bisa datang kapan saja. Supaya tak panik, kenali gejala khas serta langkah pertolongan pertama ketika serangan jantung terjadi.

Ditulis oleh Nimas Mita Etika M
dr. Vito Anggarino Damay, SpJP (K), M.Kes, FIHA, FICA

Bisakah Penyakit Sindrom Koroner Akut (SKA) Disembuhkan?

Penyakit sindrom koroner akut adalah penyebab kematian tertinggi. Tak heran jika banyak orang bertanya-tanya tentang peluang kesembuhan penyakit ini.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Fakta Unik Februari 21, 2019

Sering Nyeri Dada Saat Olahraga? 6 Kondisi Ini Bisa Jadi Penyebabnya

Banyak orang mengira kalau nyeri dada saat olahraga disebabkan karena terkena serangan jantung. Padahal, belum tentu! Cari tahu penyebabnya di sini.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Kebugaran, Hidup Sehat Januari 12, 2019

Mengulik Cara Kerja Otot Jantung dan Beragam Fungsi Pentingnya

Otot jantung dianggap sebagai otot terkuat karena mampu bekerja sepanjang waktu tanpa istirahat untuk memompa darah. Apa yang terjadi jika otot ini rusak?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Fakta Unik Desember 18, 2018

Direkomendasikan untuk Anda

Amankah Jika Penderita Penyakit Jantung Ikut Berpuasa?

Amankah Jika Penderita Penyakit Jantung Ikut Berpuasa?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M
Tanggal tayang Mei 18, 2020
Ashraf Sinclair dan Fenomena Serangan Jantung di Usia Muda

Ashraf Sinclair dan Fenomena Serangan Jantung di Usia Muda

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Februari 18, 2020
Kenapa Wanita Lansia Makin Enggan Berhubungan Intim?

Kenapa Wanita Lansia Makin Enggan Berhubungan Intim?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Novi Sulistia Wati
Tanggal tayang Agustus 29, 2019
Jangan Sampai Kena Serangan Jantung Kedua Kali, Begini Cara Tepat Mencegahnya

Jangan Sampai Kena Serangan Jantung Kedua Kali, Begini Cara Tepat Mencegahnya

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Annisa Hapsari
Tanggal tayang Juni 5, 2019