Waspadai Gejala Demam Berdarah Dengue (DBD) Pada Anak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Juli 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Indonesia merupakan negara dengan kasus demam berdarah dengue (DBD) tertinggi di Asia Tenggara. Tidak mengherankan karena Indonesia adalah negara beriklim tropis yang menjadi habitat ideal nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk DBD dapat menggigit siapa pun tanpa pandang bulu. Namun menurut Infodatin Kemenkes 2017, anak-anak berusia kurang dari 15 tahunlah yang paling rentan kena DBD. Jika Anda mencurigai gejala demam berdarah pada anak Anda, sebaiknya segera bawa ke dokter.

Ada 3 jenis penyakit demam berdarah, yakni demam dengue, demam berdarah dengue (DBD), dan dengue shock syndrome. Berikut adalah ulasan ciri-ciri demam berdarah pada anak sesuai jenis keparahan penyakitnya.

Gejala demam dengue pada anak

Demam dengue adalah bentuk DBD ringan yang tidak atau belum menyebabkan perdarahan.

Demam dengue pada awalnya sering tidak menimbulkan gejala atau ciri apa pun. Terlebih jika anak Anda sama sekali tidak pernah kena demam berdarah sebelumnya. Kadang, gejala demam dengue dapat disalahartikan sebagai flu atau infeksi virus lain. 

Berikut adalah gejala demam dengue pada anak yang harus diwaspadai:

  • Demam tinggi akut 3-14 hari setelah digigit nyamuk
  • Anak mengeluh sakit kepala
  • Anak mengeluh nyeri otot dan pegal linu di sekujur tubuh
  • Muncul ruam merah pada kulit anak
  • Anak mengeluh mual 
  • Kelenjar getah bening anak bengkak

Selain itu, anak Anda mungkin terjangkit demam dengue apabila saat tes darah jumlah sel darah putihnya rendah.

Gejala demam berdarah dengue (DBD) pada anak

Apabila demam dengue anak bertambah parah, gejala dapat disertai perdarahan pada beberapa bagian tubuh sehingga disebut sebagai demam berdarah dengue (DBD).

Kemunculan gejala demam berdarah dengue pada anak bisa disebabkan oleh diagnosis yang terlambat. Demam berdarah dengue juga dapat terjadi karena sistem imun anak tidak cukup kuat untuk melawan virus dengue meski sudah mendapat perawatan medis.

Risiko DBD pada anak bisa fatal apabila tidak terdiagnosis atau terlambat mendapatkan penanganan dari dokter.

Maka, orangtua harus memperhatikan betul ciri-ciri demam berdarah dengue pada anak di rumah. Gejala demam berdarah dengue pada anak umumnya dimulai dalam 24-48 jam setelah suhu tubuh menurun.

Berikut adalah gejala DBD pada anak yang harus Anda waspadai:

  • Anak mengeluh sakit perut, atau perutnya terasa nyeri saat ditekan
  • Suhu tubuhnya berubah drastis, dari kondisi demam bisa menjadi hipotermia
  • Anak terus-terusan muntah.
  • Muntah anak berupa darah, atau feses yang keluar saat BAB mengandung darah
  • Anak mimisan terus
  • Gusi anak berdarah tiba-tiba tanpa sebab
  • Dokter menemukan adanya kebocoran plasma saat diperiksa
  • Jumlah trombosit darah anak menurun
  • Kerusakan pada sistem kerja organ limpa
  • Anak kelihatan lelah, merasa gelisah, lekas marah, atau mudah tersinggung

Anak yang daya tahan tubuhnya lemah atau sebelumnya pernah kena demam dengue berisiko lebih besar terkena demam berdarah dengue dibanding yang belum pernah terkena sama sekali.

Ciri-ciri demam berdarah pada anak yang disertai syok (dengue shock syndrome)

Gejala demam berdarah dengue pada anak yang tidak ditangani dapat berubah fatal. Kondisi ini dikenal sebagai Dengue Shock Syndrome atau DSS.

Dengue shock syndrome adalah jenis demam berdarah paling parah. Pada anak, gejala dari kondisi ini meliputi semua gejala demam dengue dan demam berdarah dengue. Ditambah pula dengan syok yang ditandai dengan:

  • Perdarahan tiba-tiba dan terus menerus dari bagian tubuh mana pun (hidung, gusi, mulut, feses)
  • Tekanan darah menurun drastis yang menyebabkan kesadaran anak menurun cepat
  • Adanya kebocoran pada pembuluh darah.
  • Adanya kegagalan fungsi organ dalam
  • Jumlah trombosit bisa merosot hingga di bawah angka 100.000/mm3
  • Denyut nadi anak melemah

Ciri-ciri demam berdarah syok pada anak ini dapat menyebabkan kematian bila tidak segera mendapat penanganan medis.

Berdasarkan data Kemenkes yang dihimpun selama Januari-Februari 2019, DBD sudah mengakibatkan kematian 207 orang. Di antaranya kemungkinan besar termasuk anak-anak.

Mengumpulkan bukti dari pelbagai sumber berita, wabah DBD pada awal 2019 menyebabkan kematian seorang balita di Kediri dan dua anak SD; di Jakarta Barat dan di Mojokerto.

Fase demam berdarah pada anak

Kemunculan gejala demam berdarah dengue pada anak terbagi dalam tiga tahapan fase yang sering disebut “Siklus Pelana Kuda”. Fase ini menggambarkan kondisi naik dan turunnya demam yang menandakan proses perlawanan tubuh menghadapi infeksi virus dengue.

Berikut ciri-ciri fase demam berdarah pada anak yang harus diketahui para orangtua:

1. Fase demam

Fase demam adalah tahap pertama yang akan dilalui setiap pengidap DBD, baik anak dan orang dewasa.

Gejala demam berdarah berdarah pada anak di fase ini berupa suhu tubuh yang tinggi. Anak akan mengalami demam secara tiba-tiba hingga mencapai 40 ºCelsius selama 2 sampai 7 hari.

Selain itu, anak yang terkena demam berdarah pada fase ini akan menunjukkan ciri-ciri bintik atau ruam merah di beberapa bagian tubuh dan nyeri otot. Beberapa anak mungkin sampai dapat mengalami kejang.

Pada fase awal ini, anak juga rentan mengalami dehidrasi. Gejala satu inilah yang paling membedakan antara kasus demam berdarah pada anak dan orang dewasa. Pasalnya, anak-anak cenderung lebih mudah kekurangan cairan saat demam tinggi dibanding orang dewasa.

2. Fase kritis

Setelah 2-7 hari terserang demam, si kecil bisa memasuki fase kritis. Fase ini seringkali mengecoh, karena suhu tubuh menurun hingga 37 ºC sehingga anak dianggap sudah sembuh. Banyak pula anak yang sudah merasa bisa beraktivitas dan ceria kembali.

Padahal, ciri-ciri demam berdarah pada anak di fase ini justru berpotensi bahaya. Pada fase kritis, anak kecil sangat berisiko mengalami kebocoran pembuluh atau plasma darah. Plasma darah yang bocor bisa menyebabkan kerusakan organ dan perdarahan hebat dalam tubuh. 

Gejala perdarahan di fase ini bisa ditandai dengan kondisi anak yang mengalami muntah, mimisan, pembesaran organ hati, atau nyeri perut yang parah. Segera bawa ke rumah sakit atau ke dokter apabila gejala demam berdarah pada anak ini terjadi. 

3. Fase penyembuhan

Setelah si kecil berhasil melewati fase kritis, umumnya ada beberapa tanda yang menandakan bahwa ia sudah sehat kembali.

Ciri-ciri demam berdarah pada anak di fase penyembuhan adalah kadar trombositnya sudah mulai kembali naik normal. Demam pada anak juga berangsur-angsur hilang.

Kadang, si kecil mungkin akan merasakan demam kembali. Namun orangtua tidak perlu terlalu khawatir, hal ini normal pada tahap penyembuhan demam berdarah.

Setelah fase penyembuhan muncul, jumlah cairan di tubuh anak kemungkinan akan kembali normal secara perlahan pada 48-72 jam ke depan. 

Harus bagaimana jika anak kena DBD?

Jika anak Anda tiba-tiba mengalami demam tinggi, muncul bintik-bintik merah pada tubuhnya, atau mengalami pegal linu dan nyeri otot, sebaiknya segera bawa anak ke dokter.

Dokter akan melakukan sejumlah tes untuk memeriksa apakah ciri-ciri tersebut benar menunjukkan demam berdarah pada anak atau bukan.

Tidak ada pengobatan spesifik yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan DBD. Dokter mungkin akan meresepkan paracetamol untuk menurunkan demam anak. Selain itu, untuk membantu menyembuhkan DBD pada anak, Anda juga bisa:

  • Memastikan anak cukup istirahat.
  • Memberikan anak makanan yang bergizi, terutama makanan yang mudah ditelan dan dicerna (makanan yang tidak digoreng, asin, atau pedas), serta makanan yang banyak mengandung vitamin C.
  • Memberikan jus jambu untuk menaikkan trombosit.
  • Beri anak minum air putih atau cairan elektrolit yang banyak untuk mencegah dehidrasi.

Jangan sepelekan gejala demam berdarah dengue pada anak. Oleh karena itu, para orangtua disarankan untuk selalu memerhatikan kebersihan lingkungan sekitar anak. Pastikan anak tidak tergigit nyamuk, terutama selama musim hujan. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Penggunaan Ibuprofen untuk Anak di Masa Pandemi, Apakah Aman?

Penggunaan Ibuprofen untuk anak dalam mengatasi nyeri, misalnya demam telah terbukti aman diminum di tengah pandemi COVID-19. Berikut penjelasan lengkapnya.

Ditulis oleh: Roby Rizki
Parenting, Tips Parenting 26 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

Begini Pengaruh Kesehatan terhadap Kebahagiaan Anak

Hasil penelitian menemukan hubungan antara kesehatan dan kebahagiaan anak. Yuk, simak detail dan cara menjaga kesehatan buah hati sekarang.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
kesehatan dan kebahagiaan anak
Parenting, Nutrisi Anak 10 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit

Penyebab Demam Naik Turun Pada Bayi (dan Cara Mengatasinya)

Semua orangtua mungkin panik dan takut menghadapi bayi demam naik turun. Sebenarnya apa yang menyebabkan bayi demam naik turun? Bagaimana mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kesehatan Anak, Parenting 21 Juli 2020 . Waktu baca 3 menit

Yang Harus Anda Lakukan Saat Anak Anda Kejang

Saat anak kejang, ini pasti adalah hal yang sangat menakutkan bagi orang tua. Jangan panik, ini yang harus segera Anda lakukan untuk menolongnya.

Ditulis oleh: Thendy Foraldy
Parenting, Tips Parenting 21 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

memaksa anak olahraga

Memaksa Anak Jago Olahraga

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 9 September 2020 . Waktu baca 5 menit
cara menghilangkan dahak pada anak

4 Cara Menghilangkan Dahak pada Anak Secara Alami

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 9 September 2020 . Waktu baca 3 menit
pneumonia pada anak

11 Gejala Pneumonia Pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Dipublikasikan tanggal: 3 September 2020 . Waktu baca 3 menit
Konten Bersponsor
potret anak bahagia bebas dari alergi karena orangtua menjaga keseimbangan mikrobiota usus

Apa Peran Keseimbangan Mikrobiota Usus dalam Cegah Alergi Anak?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 31 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit