Bisakah Cuci Darah Sendiri di Rumah?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Cuci darah alias hemodialisis biasanya dilakukan rutin di rumah sakit setidaknya 2-3 kali seminggu. Cuci darah membantu menggantikan fungsi ginjal yang rusak agar tubuh tetap dapat berfungsi baik. Meski begitu, bolak-balik ke rumah sakit dalam kondisi tubuh yang tidak fit bisa sangat melelahkan. Terlebih, setiap sesinya bisa memakan waktu hingga 4 jam. Bisakah cuci darah di rumah saja? Jawabannya, bisa! Namun, tidak boleh sembarangan. Baca dulu panduannya di bawah ini.

Seperti apa prosedur cuci darah di rumah sakit?

Ginjal yang gagal berfungsi tidak lagi mampu membuang zat-zat beracun sepenuhnya keluar dari tubuh. Di sinilah peran cuci darah untuk menggantikan fungsi ginjal tersebut untuk membuang zat-zat sisa dari dalam tubuh.

Cuci darah merupakan prosedur menyaring darah dengan bantuan mesin yang disebut dialisis. Tanpa dialisis, maka produk-produk sisa dan garam dalam tubuh akan terus menumpuk dalam darah sehingga mengendap menjadi racun.

Untuk mengalirkan darah Anda ke mesin, dokter akan membuat sebuah lubang kecil dari pembuluh darah Anda lewat operasi. Akses pembuluh darah ini akan mengalirkan darah yang cukup banyak dari tubuh sehingga darah yang tersaring akan cukup banyak dan dengan mudah keluar dari tubuh. Pembuatan lubang tersebut bisa bersifat sementara atau permanen, tergantung dari seberapa parah kondisi Anda.

Bagaimana cara cuci darah di rumah?

Prosedur cuci darah di rumah disebut sebagai Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). CAPD adalah terapi yang baru hadir belakangan ini untuk memenuhi kebutuhan banyak pasien gagal ginjal yang merasa kesulitan untuk bolak-balik ke rumah sakit.

Berbeda dengan hemodialisis yang menyaring darah lewat mesin, CAPD dilakukan dengan memasukkan cairan khusus ke perut melalui kateter selama beberapa jam untuk mengeluarkan zat-zat sisa dari dalam tubuh.

Apakah aman dan efektif?

Cuci darah dengan CAPD kurang populer digunakan karena ada anggapan masyarakat bahwa metode ini dapat menyebabkan infeksi dan komplikasi. Padahal, sebenarnya tidak seperti itu.

Berdasarkan penelitian, cuci darah di rumah dengan metode CAPD justru sama aman dan efektifnya dengan cuci darah di rumah sakit. Penelitian bahkan membuktikan pasien yang menjalani hemodialisis di rumah sakit dua kali lebih mungkin menjalani rawat inap daripada orang yang cuci darah di rumah. Angka harapan hidup pasien gagal ginjal yang melakukan CPAD juga dilaporkan dua kali lipat lebih baik dibandingkan dengan hemodialisa.

Hal ini akibat kualitas hidup hidup pasien yang menjalani CAPD bisa jauh lebih baik. Cuci darah di rumah dengan CAPD lebih memudahkan akses dan kontrol penggunanya terhadap rencana perawatannya, sekaligus membebaskan mereka untuk tetap melakukan kegiatan sehari-hari. Pasalnya selama proses CPAD, Anda tidak tidak perlu berbaring dalam waktu lama. Cuci darah di rumah bisa dilakukan sambil duduk dan tetap beraktivitas seperti biasa.

Selain itu, cuci darah di rumah juga membutuhkan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan hemodialisis di rumah sakit. Dilansir dari Kompas, biaya rata-rata cuci darah di rumah sakit adalah sekitar Rp 115 juta per tahun. Dengan CAPD, biaya yang diperlukan setidaknya hanya Rp 130 juta per tahun. Dengan CAPD, Anda cukup sebulan sekali kontrol ke dokter untuk memantau perkembangannya.

Agar bisa cuci darah di rumah sendiri, Anda perlu ikut pelatihan dulu

Meski lebih nyaman dan fleksibel, cuci darah dengan CAPD di rumah bisa sedikit merepotkan karena Abda harus mengganti cairan dialisat hingga empat hingga lima kali sehari.

Selain itu, cara melakukannya pun tidak boleh sembarangan. Anda dan pihak keluarga sebagai pendamping diharuskan terlebih dulu mengikuti pelatihan agar terampil melakukan cuci darah sendiri dengan CAPD. Pelatihan juga termasuk bagaimana cara memasukkan cairan melalui kateter dan cara menjaga kebersihan alat agar tidak terjadi infeksi. Pelatihan, pemahaman dan kepatuhan pasien yang baik sangat penting agar terapi ini bisa berjalan secara efektif.

Anda juga tidak boleh lupa untuk kontrol ke dokter, baik untuk memantau perkembangannya atau untuk mengganti kateter. Kateter bagian luar diganti secara berkala setiap enam bulan sekali, sementara kateter bagian dalam (yang ada di sekitar perut) diganti setiap enam sampai delapan tahun.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Mei 1, 2018 | Terakhir Diedit: November 15, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca