Mengenal Papiloma Intraduktal, Tumor Jinak di Payudara

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 03/02/2020
Bagikan sekarang

Benjolan di payudara memiliki banyak jenis. Tak selalu kanker, ada pula benjolan pada payudara yang disebut dengan papiloma intraduktal. Apa itu papiloma intraduktal? Apakah benjolan ini berbahaya? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Apa itu papiloma intraduktal?

Papiloma intraduktal adalah tumor yang sifatnya jinak. Tumor ini berasal dari saluran susu di payudara.

Tumor ini terbentuk dari kelenjar, jaringan fibrosa, dan pembuluh darah. Tumor ini paling sering terjadi pada wanita antara usia 35-55 tahun.

Tak dipungkiri, benjolan pada payudara atau tumor di payudara dapat membuat takut dan resah semua orang. Namun, tak perlu buru-buru khawatir berlebihan. Tumor payudara tidak selalu berarti kanker, dan papiloma intraduktal adalah tumor yang bersifat jinak.

Ketika tumor tunggal tumbuh pada saluran susu besar (biasanya tumbuh di dekat puting), tumor ini biasanya berbentuk benjolan kecil ini disebut dengan papiloma intraduktal soliter.

Bentuknya biasanya berupa benjolan kecil dan dapat menyebabkan keluarnya cairan atau perdarahan dari puting.

Sejauh ini, papiloma intraduktal diketahui tidak ada kaitannya dengan kemungkinan terkena risiko kanker payudara yang lebih tinggi. Belum diketahui pula apa yang menyebabkan munculnya tumor jinak ini.

Papiloma intraduktal tunggal umumnya tumbuh di dekat puting. Namun, ada pula tumor yang tumbuh pada saluran susu, yang lebih jauh dari puting. Biasanya memunculkan sekumpulan tumor kecil.

Kondisi ini disebut dengan multiple papilloma. Kondisi papiloma intraduktal yang semacam ini bisa membuat risiko Anda terkena kanker payudara menjadi lebih tinggi.

Selain papiloma intraduktal, ada juga tumor yang disebut dengan papilomatosis. Papilomatosis adalah kondisi yang menunjukkan adanya pertumbuhan berlebih atau abnormal pada sel-sel yang berada di saluran susu.

Kondisi tersebut juga bisa menjadi cikal bakal meningkatnya risiko penyebab kanker payudara.

Apa saja gejala papiloma intraduktal?

Gejala atau kondisi papiloma intraduktal agak sulit dikenali. Itu sebabnya sangat penting untuk mediskusikan hal ini dengan dokter.

Papiloma intraduktal juga dapat menyebabkan pembesaran payudara, benjolan, ataupun rasa sakit, meskipun terkadang benjolan tidak bisa dirasakan.

Kondisi ini biasanya ditandai dengan munculnya satu benjolan lebih besar di dekat puting. Bisa pula ditandai dengan munculnya beberapa benjolan kecil yang terletak lebih jauh dari puting Anda.

Benjolan ini biasanya berukuran 1-2 cm atau lebih besar. Ukuran papiloma intraduktal biasanya tergantung pada ukuran saluran di mana dia tumbuh. Terkadang, Anda bahkan tidak merasakan adanya benjolan.

Gejala kondisi ini sangat mirip dengan jenis-jenis tumor payudara lainnya. Dokter yang memeriksa Anda harus melihat dan merasakan benjolan pada payudara Anda, sehingga bisa menentukan diagnosis terhadap kondisi tersebut.

Bagaimana mendiagnosis papiloma intraduktal?

Jika dokter mencurigai adanya papiloma intraduktal, dokter dapat merekomendasikan USG payudara untuk pasien. Dibandingkan mamografi, tes ini lebih efektif untuk mendiagnosis papiloma.

Beberapa tes lain yang mungkin juga dilakukan untuk mendiagnosis papiloma intraduktal, antara lain:

Biopsi payudara

Biopsi payudara adalah prosedur pengambilan sampel jaringan dari benjolan payudara untuk kemudian diperiksa lebih lanjut di laboratorium.

Biopsi payudara dapat dilakukan untuk memeriksa sel-sel kanker. Dalam prosedur ini, dokter akan memasukkan jarum tipis ke jaringan payudara dan mengangkat beberapa sel. Jenis biopsi ini disebut aspirasi jarum halus.

Dokter mungkin akan melakukan biopsi bedah jika Anda mengalami perubahan pada puting.

Pemeriksaan mikroskopis

Jika Anda mengalami keluar cairan dari puting susu, dokter mungkin ingin melakukan pemeriksaan mikroskopis untuk mencari sel-sel kanker.

Ductogram atau sinar-X

Ductogram juga dapat membantu dokter melakukan diagnosis. Ini adalah jenis sinar-X yang dapat menentukan penyebab keluarnya cairan pada puting.

Dalam prosedur ini, pewarna kontras disuntikkan ke saluran payudara, sehingga dokter dapat dengan mudah melihatnya di sinar-X. Meskipun tes ini dapat digunakan dalam beberapa kasus, sebagian besar telah digantikan oleh USG.

Bagaimana mengobati papiloma intraduktal?

Standar pengobatan untuk kondisi ini biasanya melibatkan operasi payudara untuk menghilangkan papiloma dan bagian saluran susu yang terkena.  Jaringan ini kemudian akan diuji untuk mendeteksi apakah ada sel kanker atau tidak.

Bergantung dengan keparahan kondisi ini, Anda mungkin membutuhkan atau tidak membutuhkan perawatan semalaman di rumah sakit. Anda mungkin akan memiliki luka kecil dari sayatan, biasanya di dekat puting. Bekas lukanya akan memudar seiring dengan berjalannya waktu.

Jika tes pada jaringan yang telah  diangkat tersebut menunjukkan sel-sel kanker, Anda mungkin akan membutuhkan tindakan lebih lanjut.

Apakah saya perlu perawatan setelah operasi papiloma intraduktal?

Operasi pengangkatan papiloma intraduktal biasanya hanya dilakukan untuk satu papiloma saja, dan hasilnya hampir selalu baik.

Namun, wanita yang memiliki multiple papilloma dan berusia di bawah 35 tahun yang didiagnosis memiliki papiloma harus berkonsultasi dengan dokter.

Konsultasi ini berfungsi  untuk mengetahui sejauh mana risiko Anda kena kanker payudara.

Orang dengan papiloma intraduktal memiliki harapan hidup yang baik jika sudah melalui operasi pengangkatan.

Cara mencegah papiloma intraduktal

Tidak ada cara khusus untuk mencegah papiloma intraduktal. Namun, deteksi dini payudara di rumah dengan cara SADARI (periksa payudara sendiri) setiap bulan, memeriksakan payudara secara rutin di dokter, dan menjalani mamogram rutin dapat mengurangi risiko dan membantu Anda mengatasi kanker lebih dini. Jika ada kekhawatiran tentang kesehatan payudara, segera  hubungi dokter.

Dikutip dari Medical News Today, American College of Physicians merekomendasikan pada wanita untuk melakukan tes skrining pada usia sekitar 40 tahun.

Untuk mereka yang memiliki risiko sedang, tes mammografi patut dilakukan setiap dua tahun sekali mulai usia 50-74 tahun.

Setiap orang berbeda, dan beberapa orang memiliki risiko terkena kanker payudara yang lebih tinggi daripada yang lainnya. Itu sebabnya penting untuk melakukan tes skrining dengan dokter.

Orang dengan risiko kanker payudara yang tinggi biasanya punya:

  • Riwayat mengidap kanker payudara atau risiko tinggi terkena kanker payudara
  • Faktor genetik, seperti mutasi gen BRCA1 atau BRCA2
  • Pernah terpapar radiasi di bagian dada saat masih anak-anak.

Konsultasikan dengan dokter tentang perubahan pada payudara Anda, secepatnya. Perawatan dini kanker payudara merupakan cara yang efektif.

Papiloma intraduktal dapat dikaitkan dengan kondisi lain yang disebut hiperplasia atipikal yang berarti pertumbuhan sel yang tak normal. Kondisi ini dapat berkembang menjadi kanker payudara seiring waktu jika tidak diobati.

Sel-sel atipikal dalam papiloma intraduktal akan terlihat ketika Anda dibiopsi. Beberapa papiloma intraduktal cenderung dikaitkan dengan hiperlasia atipikal, tetapi hal ini tidak selalu terjadi.

Anda perlu berbicara dengan dokter tentang hasil biopsi untuk memastikan kondisi Anda.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

7 Tips Merawat Pasien Kanker Payudara dalam Pengobatan

Merawat pasien kanker payudara membutuhkan kesabaran dan tanggung jawab yang begitu besar. Berikut tips yang bisa membantu Anda.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu

Kanker Usus Besar

Kanker usus besar adalah penyakit yang menyerang sistem pencernaan. Yuk, pelajari lebih dalam mengenai gejala, penyebab, dan cara mengatasiny berikut ini.

Ditulis oleh: Aprinda Puji

Seberapa Sering Wanita Perlu Melakukan Tes Mamografi?

Rutin melakukan tes mamografi dapat mendeteksi dini kanker payudara. Namun, kapan perlu memulai dan seberapa sering tes mamografi perlu dilakukan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila

Pewarna Rambut Permanen Ternyata Dapat Meningkatkan Risiko Kanker Payudara

Selain dapat menimbulkan kerontokan parah, ternyata pewarna rambut juga bisa meningkatkan risiko kanker payudara. Benarkah demikian?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi

Direkomendasikan untuk Anda

gerimis bikin sakit

Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 31/05/2020

Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
diagnosis hiv

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020
mengukur tekanan darah anak

Panduan Lengkap Mengukur Tekanan Darah Anak di Rumah

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 22/04/2020