6 Jenis Benjolan Payudara yang Bukan Kanker

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Menemukan benjolan di payudara bisa jadi mimpi buruk bagi semua orang khususnya wanita. Tetapi sebelum cepat-cepat mengambil keputusan, Anda harus mengetahui bahwa tidak semua benjolan di payudara merupakan tanda Anda mengalami kanker payudara. Beberapa benjolan pada payudara juga bisa berupa tumor jinak yang cenderung tidak berbahaya.

Kenapa muncul benjolan di payudara?

Baik wanita dan pria di segala usia bisa memiliki benjolan pada payudaranya, baik di salah satu sisi maupun keduanya. Bahkan tidak menutup kemungkinan bayi juga bisa memilikinya.

Benjolan dapat dirasakan saat ada satu area spesifik pada payudara yang membengkak dan menonjol. Kemunculan benjolan di payudara sering disebabkan oleh perubahan hormon dalam tubuh. 

Benjolan di payudara umum muncul karena kadar estrogen pada tubuh meningkat sementara. Ketika kadar estrogen ini mulai menurun atau pada beberapa kasus menghilang, otomatis benjolan pada payudara pun akan menghilang.

Dikutip dari American Cancer Society, benjolan pada payudara biasanya cenderung jinak dan bersifat non-kanker. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa benjolan juga bisa jadi tanda kanker pada payudara.

Tanda dan gejala benjolan di payudara

Benjolan pada payudara biasanya mudah dikenali karena penampakan satu bagian tertentu di payudara akan lebih menonjol dari area sekitarnya.

Agar lebih jelas, berikut tanda dan gejala yang biasanya muncul pada benjolan di payudara:

  • Munculnya area yang keras di dalam payudara
  • Adanya area yang menebal dan sedikit lebih menonjol di payudara yang berbeda dengan jaringan di sekitarnya
  • Payudara terlihat bertekstur seperti kulit jeruk
  • Salah satu payudara berukuran lebih besar dari yang lain
  • Perubahan pada puting entah itu masuk ke dalam atau keluar cairan dari puting
  • Nyeri pada payudara yang tidak terlalu menusuk tetapi tak kunjung hilang
  • Nyeri payudara yang biasanya meningkat selama haid

Kemungkinan juga ada berbagai tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Jika Anda mengalami berbagai gejala lain yang tak biasa, catat dan segera konsultasikan ke dokter.

Tidak semua benjolan pada payudara berarti kanker. Akan tetapi, Anda tetap perlu memastikannya dengan memeriksakan diri ke dokter.

Penyebab benjolan di payudara

Payudara wanita terdiri dari berbagai jenis jaringan. Dua jaringan utamanya adalah kelenjar penghasil susu dan saluran untuk mengalirkan susu menuju ke puting. Payudara juga mengandung jaringan ikat fibrosa, jaringan lemak, saraf, pembuluh darah, dan kelenjar getah being.

Setiap bagian payudara ini bisa memunculkan reaksi yang berbeda-beda terhadap perubahan hormon dan kimia dalam tubuh. Perubahan tersebut bisa berdampak pada sensasi, ukuran, dan tekstur payudara.

Jenis-jenis benjolan di payudara

Saat melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) dan menemukan benjolan, perhatikan beberapa ciri benjolan pada kelainan payudara di bawah ini. 

1. Kelainan fibrokistik

Kebanyakan benjolan pada payudara merupakan fibrosis atau kista yang merupakan perubahan abnormal di jaringan payudara dan tidak bersifat ganas atau non kanker. Perubahan ini biasa disebut perubahan payudara fibrokistik dan biasanya terdeteksi karena adanya benjolan pada payudara, rasa sakit, atau bahkan bengkak pada payudara. Keadaan dan gejala ini biasanya semakin memburuk seiring dengan dimulainya periode menstruasi wanita.

Benjolan yang terasa di payudara mungkin lebih dari satu dan terkadang dari puting akan keluar sedikit cairan berwarna keruh. Benjolan cenderung umum dialami oleh wanita usia produktif dan dapat terjadi di salah satu payudara atau di kedua payudara.

2. Fibrosis

Jaringan ini hampir mirip dengan jaringan luka. Jika diraba, fibrosis pada payudara akan terasa kenyal, padat, dan keras. Kelainan ini tidak akan menyebabkan atau berkembang menjadi kanker payudara. Penelitian terkait meningkatnya risiko kanker payudara pada mereka yang menderita kelainan fibrokistik menghasilkan kesimpulan yang beragam.

Ada yang mengatakan bahwa jika memiliki kelainan fibrokistik maka risiko kanker payudara di kemudian hari akan meningkat, namun ada juga yang menyatakan bahwa memiliki kelainan fibrokistik tidak akan meningkatkan risiko kanker payudara.

3. Kista

Kista di payudara merupakan benjolan atau kantung yang berisi cairan. Adanya kista biasanya baru terdeteksi ketika ukurannya sudah membesar atau disebut (kista makro) di mana ukurannya mencapai 2,5-5 cm. Pada tahap ini Anda sudah dapat merasakan adanya benjolan pada payudara. Kista cenderung membesar dan menjadi lunak ketika mendekati masa menstruasi.

Benjolan kista di payudara biasanya berbentuk bulat atau lonjong dan mudah digerakkan atau berpindah-pindah ketika disentuh, seperti menyentuh kelereng. Tetapi benjolan kista dan benjolan solid di payudara lainnya susah untuk dibedakan.

Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mendapatkan data yang akurat apakah benjolan di payudara benar-benar kista. Sama seperti fibrosis, kista juga tidak meningkatkan risiko Anda terhadap kanker payudara.

4. Fibroadenoma

Merupakan salah satu jenis tumor jinak yang paling sering dialami wanita. Ciri-cirinya adalah bisa digerakkan atau berpindah-pindah tempat, Jika ditekan, benjolan di payudara ini akan terasa padat atau solid, berbentuk bulat atau oval, serta kenyal. Biasanya benjolan di payudara ini juga tidak menimbulkan rasa sakit pada saat ditekan.

Fibroadenoma biasa dialami oleh mereka yang berusia 20-30 tahun dan ras Afrika-Amerika cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami benjolan di payudara ini di kemudian hari. Selain itu, benjolan di payudara ini biasanya juga cenderung memerlukan waktu lama untuk bertambah besar tetapi bukan tidak mungkin ukurannya akan menjadi sangat besar (atau disebut dengan giant fibroadenoma).

Benjolan di payudara tidak akan berkembang menjadi kanker, dan sama seperti fibrosis serta kista, penelitian terkait apakah fibroadenoma dapat meningkatkan risiko terkena kanker payudara di kemudian hari masih belum memberikan jawaban pasti.

5. Papiloma intraduktal

Merupakan suatu benjolan atau tumor jinak, non kanker, yang terbentuk di payudara. Biasanya papiloma intraduktal teraba berupa satu benjolan cukup besar yang terletak dekat dengan puting, atau bisa juga berbentuk beberapa benjolan kecil yang terletak jauh dari puting. 

Dikutip dari Healthline, ukuran dari benjolan di payudara ini berkisar antara 1-2 cm, bisa lebih besar atau bahkan lebih kecil tergantung dari dimana benjolan tersebut tumbuh. Terbentuk dari kelenjar, sel fibrous, dan pembuluh darah, intraductal papilloma lebih sering terjadi pada mereka yang berusia 35 sampai 55 tahun.

Jika intraductal papilloma terdiri hanya dari satu benjolan saja dan berada dekat dengan puting, kondisi ini biasanya tidak diasosiasikan dengan peningkatan risiko kanker payudara.

Tetapi multiple papillomas alias benjolan yang lebih dari satu dan tersebar di payudara jauh dari puting, dapat membuat risiko Anda untuk menderita kanker payudara di kemudian hari sedikit meningkat. Ini karena benjolan di payudara ini sering dikaitkan dengan suatu keadaan pre-kanker yang disebut atypical hyperplasia.

6. Nekrosis lemak traumatis (traumatic fat necrosis)

Kondisi ini terjadi ketika ada luka pada payudara yang terjadi akibat cedera. Traumatic fat necrosis biasanya menyebabkan jaringan lemak terluka atau rusak. Akibatnya terbentuklah benjolan yang bulat dan keras yang terasa sakit.

Selain benjolan, payudara juga bisa mengeluarkan cairan yang bukan air susu. Untuk menentukan kondisi ini, dokter biasanya akan melakukan biopsi.

Bagaimana mengetahui apakah benjolan payudara saya kanker atau bukan? 

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa biasanya benjolan pada payudara yang jinak dan tidak berbahaya memiliki beberapa karakteristik berikut:

  • cenderung mudah digerakkan atau bergeser jika disentuh
  • memiliki batas yang jelas
  • berbentuk oval atau bulat (biasanya terasa seperti kelereng)
  • aktivitasnya cenderung mengikuti siklus menstruasi
  • bisa terasa sakit atau tidak sama sekali
  • pertumbuhannya lambat

Untuk diagnosis yang lebih jelas, tentu Anda disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter. Pemeriksaan lanjutan (seperti USG dan mammografi) mungkin dibutuhkan dan akan memberikan hasil yang lebih akurat terkait benjolan di payudara Anda.

Kapan harus pergi ke dokter?

Meski sebagian besar benjolan di payudara bukan kanker, Anda perlu berkonsultasi ke dokter jika:

  • Menemukan benjolan baru pada payudara
  • Area payudara terasa berbeda dari biasanya
  • Benjolan di payudara tak kunjung hilang setelah menstruasi
  • Benjolan pada payudara berubah ukuran atau tumbuh lebih besar
  • Payudara memar tanpa alasan yang jelas
  • Kulit payudara berwarna merah atau mulai mengerut seperti kulit jeruk
  • Puting masuk ke dalam atau terbalik
  • Keluar cairan seperti darah dari puting

Jika berbagai gejala ini sudah muncul, tak perlu menunda lagi untuk memeriksakan diri ke dokter. Semakin cepat didiagnosis, semakin cepat pula masalahnya bisa diobati.

Bagaimana cara mendiagnosis benjolan di payudara?

Benjolan di payudara bisa diketahui keberadaannya dengan pemeriksaan diri maupun dari dokter. Berikut pemeriksaan yang bisa Anda lakukan:

Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)

Memeriksa payudara sendiri bisa dengan mudah dilakukan di rumah untuk membantu mengenali perubahannya. Hal ini sebaiknya dilakukan secara rutin sebagai langkah deteksi dini untuk masalah pada payudara termasuk benjolan.

Anda bisa memeriksa payudara sendiri setiap hari atau kapan pun yang Anda ingikan karena cara ini sangat sederhana. Ada tiga cara untuk melakukan SADARI di rumah, yaitu:

Di kamar mandi

Sambil mandi, coba sentuh dan raba area payudara Anda dengan tiga jari, yaitu telunjuk, tengan, dan jari manis. Raba dengan gerakan melingkar mulai dari luar dekat ketiak hingga ke tengah puting.

Coba rasakan adakah benjolan atau perubahan tekstur pada payudara yang sebelumnya tak pernah ada. Jangan lupa juga untuk memeriksa ara atas tulang selangka karena daerah ini juga bisa ditumbuhi sel kanker. Lakukan langkah yang sama untuk memeriksa payudara satunya.

Sambil bercermin

Selain saat sedang mandi, prosedur SADARI juga bisa dilakukan didepan kaca sambil bercermin. Dalam keadaan telanjang, angkat salah satu tangan tinggi-tinggi dan raba payudara Anda dengan tangan yang lain.

Raba dengan gerakan melingkar dari arah luar ke dalam. Kemudian, lihat dan rasakan perubahan bentuk, ukuran, dan tekstur pada kulit payudara maupun puting. Kemudian, lakukan langkah yang sama untuk memeriksa payudara sebelahnya.

Sambil berbaring

Selain sambil berdiri, memeriksa payudara juga bisa dilakukan dengan cara berbaring. Saat berbaring, jaringan payudara berada dalam kondisi menyebar di sepanjang dinding dada. Dengan cara ini, perbedaan yang terdapat pada payudara bisa lebih mudah diamati perbedaannya.

Saat berbaring telentang, selipkan bantal di bahu kanan dan sanggalah kepala dengan lengan kanan. Kemudian, raba seluruh area payudara kanan Anda dengan bantuan tiga jari utama sebelah kiri. Lakukan dengan gerakan melingkar kecil hingga ke ketiak.

Anda bisa sedikit menekan payudara untuk lebih memastikan apakah ada benjolan atau tidak. Periksa juga apakah ada benjolan di sekitar puting dan ada cairan aneh yang keluar ketika puting susu dipencet. Lakukan langkah yang sama untuk memeriksa payudara kiri Anda.

Mammografi

Mammografi adalah prosedur pemeriksaan untuk mencari keberadaan benjolan di payudara dan mencari tahu penyebabnya. Mammografi sering kali bisa mendeteksi benjolan di payudara ketika masih kecil dan belum terasa jika disentuh.

Prosedur ini dilakukan dengan mengambil gambar jaringan pada masing-masing payudara dengan sinar X pada kedua areanya. Mammografi bisa mendeteksi sekitar 90 persen kasus kanker payudara.

Saat mengambil gambar, payudara akan dihimpit oleh dua piring untuk menyangga posisinya. Gambar jaringan biasanya akan diambil dari sudut yang berbeda sehingga bisa menunjukkan area abnormal pada payudara.

Wanita biasanya direkomendasikan untuk melakukan mammogram pertama di usia 45 tahun dan mengulangnya setahun sekali sampai berusia 54 tahun. Di atas usia 55 tahun, wanita disarankan melakukan mammografi paling tidak 2 tahun sekali.

USG payudara

USG atau ultrasonografi di payudara merupakan prosedur yang bisa membedakan antara kista dan benjolan padat. Melalui USG payudara, akan terlihat jelas benjolan yang Anda miliki di payudara apakah berisi cairan atau padatan.

USG dilakukan dengan menggunakan alat yang dinamakan transduser. Sebelumnya, dokter akan mengoleskan gel bening pada payudara. Bagian dalam payudara nantinya bisa terlihat langsung di monitor yang terhubung dengan transduser.

MRI payudara

Magnetic resonance imaging (MRI) payudara adalah prosedur pemeriksaan dengan menggunakan magnet dan gelombang radio. Prosedur ini termasuk yang sangat sensitif terhadap kelainan kecil pada jaringan payudara.

Ketika benjolan di payudara Anda termasuk kanker, MRI akan dengan mudah mengidentifikasinya. Benjolan kanker di payudara biasanya memiliki suplai darah yang lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan non-kanker. Gambar yang terlihat nantinya memiliki kontras yang lebih besar karena area ini memiliki pasokan darah yang banyak.

Biopsi payudara

Biopsi payudara adalah prosedur pemeriksaan benjolan dengan mengambil sampel jaringan di dalamnya. Biopsi dilakukan untuk memastikan apakah benjolan yang ada di payudara Anda menjadi cikal bakal kanker atau tidak.

Pilihan pengobatan untuk benjolan di payudara

Pengobatan untuk benjolan di payudara tergantung pada penyebabnya sehingga tidak bisa disamaratakan. Ini karena tidak semua benjolan payudara membutuhkan perawatan khusus.

Jika Anda mengalami infeksi payudara karena bakteri, dokter akan meresepkan antibiotik untuk mengobatinya. Jika Anda memiliki kista, cairan akan dihilangkan dengan teknik fine-needle aspiration.  Teknik ini dilakukan dengan memasukkan jarum kecil ke dalam benjolan untuk kemudian dikeluarkan cairannya.

Jika benjolan yang muncul di payudara karena cedera misalnya, dokter biasanya tidak akan memberikan perawatan khusus. Setelah beberapa waktu, benjolan di payudara yang membengkak akan mengempes dengan sendirinya.

Namun, jika ternyata benjolan di payudara yang Anda miliki adalah kanker, dokter akan merekomendasikan perawatan seperti:

  • Lumpektomi, mengangkat sebagian jaringan payudara yang memiliki sel kanker
  • Mastektomi, mengangkat seluruh jaringan payudara
  • Kemoterapi, menggunakan kombinasi obat untuk menghancurkan sel kanker
  • Radiasi, menggunakan sinar atau bahan radioaktif untuk melawan kanker

Jenis perawatan yang diberikan disesuaikan dengan jenis kanker yang dimiliki, ukuran, lokasi, dan penyebarannya,

Oleh sebab itu, ketika Anda menemukan benjolan di payudara, jangan dulu panik. Jangan langsung berpikir bahwa Anda terkena kanker payudara. Hal pertama dan paling utama yang Anda perlu lakukan adalah pergi ke dokter untuk berkonsultasi soal benjolan di payudara yang Anda keluhkan. 

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: November 7, 2018 | Terakhir Diedit: Januari 7, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca