Bisakah Sariawan Menularkan HIV?

Oleh

Sariawan yang secara medis dikenal sebagai aphthous ulcers adalah salah satu gangguan pada mulut bagian dalam yang sudah sangat umum terjadi. Hampir semua orang pernah mengalaminya. Ketika muncul sariawan, Anda pun akan merasa tidak nyaman ketika makan, minum, atau berbicara. Apalagi jika sariawan Anda berukuran cukup besar dan tidak hanya satu jumlahnya. Rasanya hanya ingin menutup mulut saja selama sariawan masih bertengger pada bagian dalam mulut Anda.  

Karena sering muncul pada siapa pun dan sifatnya yang tidak membahayakan, sariawan biasanya tidak dianggap sebagai masalah yang serius. Namun, sariawan bisa menjadi sebuah kekhawatiran bagi sebagian orang karena banyak yang menyebutkan bahwa ada risiko sariawan menularkan HIV. HIV sendiri adalah virus yang menyerang daya tahan tubuh manusia. Penularannya bisa terjadi melalui cairan tubuh dan darah. Inilah yang menyebabkan banyak orang takut tertular HIV lewat sariawan. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang risiko penularan HIV melalui sariawan, perhatikan dulu beberapa hal berikut ini.

Bagaimana sariawan terbentuk?

Sariawan biasanya terjadi di bagian dalam mulut Anda, misalnya pada bibir dan pipi bagian dalam, lidah, atau tenggorokan. Kemunculan sariawan biasanya ditandai dengan munculnya sejenis bintik atau benjolan kecil kemerahan yang terasa perih dan tidak nyaman. Semakin lama, benjolan kecil tersebut akan membesar dan terisi nanah atau cairan mirip dengan kulit yang melepuh. Rata-rata benjolan ini terbentuk sebesar satu sentimeter, tapi bisa juga lebih besar lagi.

Ada banyak faktor risiko yang mengundang sariawan, misalnya luka karena lidah atau bagian dalam pipi Anda tergigit, kurang tidur, stres, kekurangan vitamin B dan zat besi, alergi, serta efek samping obat-obatan tertentu. Biasanya Anda pun akan jadi lebih rentan jika sariawan sering menyerang anggota keluarga Anda yang lain.

Mungkinkah sariawan menularkan HIV?

Hanya darah dan beberapa jenis cairan tubuh yang bisa membawa dan memindahkan virus HIV kepada orang lain. Cairan tubuh yang dimaksud adalah air mani, cairan praseminal, cairan vagina, cairan rektum, dan air susu ibu (ASI). Penularan juga hanya mungkin terjadi jika ada kontak langsung antara darah atau cairan tubuh orang dengan HIV dengan darah atau cairan tubuh orang lain.

Sariawan adalah luka terbuka pada bagian dalam mulut yang dalam beberapa kasus mengandung darah (blood blisters). Adanya luka yang terbuka dan darah ini memang memungkinkan terjadinya perpindahan virus HIV dari satu orang ke orang lain. Namun, kasus sariawan menularkan HIV ini sangat jarang ditemukan. Perhatikan beberapa kemungkinan yang bisa meningkatkan risiko penularan HIV berikut ini.

Seks oral

Tak seperti ludah yang mengandung enzim, cairan kemaluan seperti air mani dan cairan vagina merupakan sarang bagi virus HIV untuk berkembang biak. Ini berarti jika Anda yang sedang sariawan melakukan seks oral tanpa alat pengaman (kondom) dengan seorang pengidap HIV, Anda berisiko terjangkit virus tersebut. Penularannya terjadi karena air mani atau cairan vagina bersentuhan langsung dengan darah atau luka yang terbuka pada sariawan Anda. Risiko penularan juga akan bertambah besar jika terdapat luka pada kemaluan orang yang mengidap HIV karena bisa terjadi kontak langsung antara darah Anda dengan darah pasangan yang mengidap HIV. Untuk menghindari risiko sariawan menularkan HIV, selalu gunakan kondom meskipun Anda tidak melakukan penetrasi vagina atau seks anal.

Berciuman

Virus HIV tidak bisa berpindah melalui ludah (saliva). Namun, jika orang yang mengidap HIV memiliki sariawan atau luka pada bagian mulut (entah pada gusi, lidah, atau bibir), darahnya yang mengandung virus HIV berisiko berpindah pada orang yang juga sedang sariawan. Dengan kata lain, virus HIV tidak berpindah melalui ludah, melainkan lewat kontak langsung dengan darah dan luka kedua orang yang berciuman. Apabila Anda memiliki sariawan dan berciuman dengan pengidap HIV yang tak punya luka atau sariawan, kemungkinan Anda terjangkit HIV sangat kecil atau bahkan tidak ada sama sekali. Ini dikarenakan ludah pada mulut Anda mengandung enzim yang bisa langsung mematikan virus HIV yang bersarang dalam darah dan luka. Jadi, meskipun memang ada risiko penularan HIV jika kedua orang dengan sariawan atau luka berciuman, kemungkinannya sangat kecil.

Berbagi alat makan

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, ludah tidak membawa virus HIV sehingga kemungkinan Anda tertular HIV dari alat makan orang yang mengidap HIV hampir tak ada. Begitu juga dengan air atau makanan yang menempel pada alat makan. Sejauh ini belum ada kasus penularan HIV yang terjadi akibat saling pinjam alat makan. Jika darah atau luka seorang dengan HIV menempel pada alat makan semisal sendok atau sedotan, virus HIV yang terkandung akan mati dalam waktu beberapa detik. Maka, ketika Anda yang sedang sariawan menggunakan sendok yang sama setelahnya, risiko tertular virus HIV sangatlah kecil karena tidak terjadi kontak langsung antara Anda dan pengidap HIV.

Bagaimana jika saya melakukan hal-hal tersebut?

Jika Anda tidak yakin apakah ada kontak langsung dengan orang yang mengidap virus HIV, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk melakukan tes darah atau tes antibodi. Satu-satunya cara untuk memastikan Anda bebas dari virus HIV hanyalah dengan pemeriksaan HIV. Semakin cepat Anda mendeteksi virus HIV, semakin efektif juga pengendalian gejala yang bisa Anda usahakan.  

BACA JUGA:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca