Meluruskan 10 Mitos yang Salah Tentang HIV/AIDS

Oleh

HIV/AIDS adalah salah satu penyakit yang masih saja diselimuti berbagai macam mitos dan kesalahpahaman. Pemahaman keliru mengenai penyakit ini telah mendorong sejumlah perilaku yang justru menyebabkan makin banyak orang terjangkit HIV positif. Mitos-mitos menyesatkan tentang HIV dan AIDS juga membantu melekatkan stigma negatif kepada setiap pengidapnya sehingga mereka merasa enggan untuk mendapatkan pengobatan.

Sudah saatnya untuk meluruskan mitos paling umum seputar HIV/AIDS dengan fakta-fakta pendukung.

Mitos #1: HIV sama dengan AIDS

Fakta: HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS adalah dua hal yang berbeda. HIV adalah nama virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh sementara AIDS adalah tahap akhir dan kelanjutan dari infeksi HIV jangka panjang setelah sistem imun tubuh akhirnya rusak.

AIDS adalah penyakit kronis dengan sekumpulan gejala yang terkait dengan penurunan daya tahan tubuh, membuat pengidapnya sangat berisiko tinggi terhadap masalah kesehatan lain yang lebih serius.

Tidak semua orang yang positif HIV otomatis juga terjangkit AIDS. Pengobatan HIV yang tepat guna bisa memperlambat atau menghentikan perkembangan virus HIV, yang pada akhirnya turut mencegah risiko AIDS.

Mitos #2: HIV/AIDS adalah penyakitnya gay dan pemakai narkoba

Fakta: Pria gay dan orang-orang penasun (pengguna narkotika suntik) memang termasuk golongan orang yang paling rentan terkena HIV/AIDS.

Hubungan intim sesama jenis lewat seks anal dan penggunaan jarum suntik narkoba bergantian memang menjadi penyebab HIV yang paling umum.

Akan tetapi, seks vaginal (penetrasi penis-vagina) tanpa kondom menjadi cara penularan HIV dengan angka kejadian yang cenderung tinggi. Seks oral juga tergolong sebagai faktor risiko penularan infeksi HIV. Mengutip laporan teranyar dari Kemenkes, tren infeksi HIV selama 2010-2017 terus dominan terjadi pada golongan heteroseksual.

Infodatin AIDS juga menunjukkan bahwa penderita HIV/AIDS di Indonesia paling banyak justru berasal dari kelompok ibu rumah tangga dan pekerja (baik kantoran, wirausaha, maupun tenaga medis).

Meski begitu, seks anal tetap memiliki risiko infeksi HIV paling tinggi di antara metode seksual lainnya.

Mitos #3: Saya bisa tertular HIV jika tinggal bersama atau bergaul dengan ODHA

Fakta: Beragam penelitian membuktikan bahwa HIV dan AIDS tidak disebarkan melalui sentuhan kulit (seperti dari bersalaman, berpelukan, atau tidur malam di atas ranjang yang sama), air mata, keringat, atau pertukaran air liur seperti saat berciuman.

Anda tidak akan tertular HIV saat:

  • Berada di satu ruangan dan menghirup udara yang sama dengan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS)
  • Menyentuh barang-barang yang telah disentuh oleh ODHA
  • Meminum dari gelas yang telah digunakan oleh ODHA
  • Memeluk, mencium, atau berjabat tangan dengan ODHA
  • Berbagi peralatan makan dengan ODHA
  • Menggunakan peralatan gym bersama-sama dengan ODHA

HIV hanya bisa ditularkan melalui pertukaran cairan tubuh tertentu yang mengandung konsentrasi tinggi dari antibodi HIV, seperti darah, sumsum tulang belakang, air mani, cairan vagina dan anus, serta ASI.

HIV ditularkan ketika salah satu cairan dari orang yang positif HIV)masuk melalui selaput lendir, luka terbuka, atau goresan di kulit orang yang tidak terinfeksi HIV.

Organisasi HIV/AIDS asal Inggris, AVERT, mengatakan, ciuman mulut tertutup bukan ancaman besar. Tetapi, ciuman dengan mulut terbuka bisa menjadi faktor risiko jika ada darah yang terlibat, seperti luka gigit, gusi berdarah, atau sariawan di mulut.

Lebih lanjut, Centers for Disease Control and Prevention US (CDC) menilai cairan tubuh lainnya, termasuk air liur, hanya memiliki sangat sedikit residu antibodi HIV sehingga risiko infeksi tergolong sangat rendah.

Mitos #4: HIV dan AIDS dapat ditularkan lewat gigitan nyamuk

Fakta: HIV memang ditularkan melalui darah, namun sampai detik ini tidak ada bukti medis yang dapat menunjukkan bahwa gigitan nyamuk bisa jadi perantara penyebaran virus HIV bahkan di tempat yang rawan HIV dan banyak nyamuknya.

Saat nyamuk berpindah lokasi gigit, mereka tidak akan mengalirkan darah milik orang sebelumnya kepada ‘mangsa’ selanjutnya. Selain itu, umur virus HIV dalam serangga juga tidak akan bertahan lama.

Mitos #5: HIV dan AIDS adalah hukuman mati

Fakta: Pada tahun-tahun awal penyakit ini ditemukan, angka kematian akibat HIV/AIDS sangat tinggi.

Selama masa epidemi dulu orang ODHA juga hanya dapat bertahan hidup sekitar 3 tahun. Begitu Anda terjangkit penyakit oportunistik yang berbahaya, harapan hidup tanpa pengobatan turun hingga sekitar 1 tahun.

Namun sejak perkembangan sains modern, obat retroviral memungkinkan para ODHA untuk hidup lebih panjang umur, serta dapat beraktivitas normal dan tetap produktif.

Mitos #6: HIV/AIDS tidak bisa disembuhkan

Fakta: Sampai saat ini, belum ada obat penawar HIV AIDS. Pengobatan antiretroviral yang tersedia hanya bisa membantu menekan perkembangan penyakitnya, mencegah risiko penularan, dan mengurangi risiko kematian akibat komplikasi HIV/AIDS secara drastis.

Obat HIV dapat membantu Anda hidup lebih sehat dan normal. Namun untuk bisa mencapai semua target ini, obat retroviral harus tetap diminum rutin seumur hidup.

Jika Anda terus-terusan lupa minum obat  HIV, virus akan menjadi kebal obat sehingga bisa menimbulkan berbagai efek samping parah di kemudian hari.

Mitos #7: Selama minum obat, saya tidak akan menularkan penyakit

Fakta: Diminum rutin, obat retroviral dapat membantu mengendalikan gejala penyakitnya tapi Anda tetap berisiko menularkan virus HIV pada orang lain apabila tidak berhati-hati.

Pasalnya, obat hanya akan menekan kadar jumlah viral load HIV dalam darah sehingga terlihat normal pada tiap uji tes darah. Penelitian menunjukkan bahwa bagaimanapun juga darah atau cairan tubuh yang hanya sedikit mengandung virus HIV tetap berisiko menularkan penyakit.

Mitos #8: Saya dan pasangan sama-sama ODHA, jadi tidak perlu seks aman

Fakta: Meski Anda dan pasangan sama-sama positif HIV/AIDS, tetap penting untuk selalu melakukan seks aman untuk mencegah risiko infeksi pingpong dan khususnya penyebaran virus HIV yang kebal obat.

Seks pakai kondom tetap berlaku pada pasangan sesama ODHA karena dua orang yang positif HIV bisa memiliki genetik virus yang berbeda.

Jika keduanya terlibat dalam seks tanpa kondom, masing-masing virus dapat menginfeksi satu sama lain dan berevolusi untuk menyerang tubuh dengan dua tipe virus yang berbeda.

Hal ini akan semakin memperparah penyakit masing-masing pihak dan mungkin akan membutuhkan perubahan terapi dan dosis obatnya.

Mitos #9: Tanda dan gejala HIV dapat langsung muncul

Fakta: Anda bisa terjangkit HIV positif tanpa menunjukkan gejala apapun selama bertahun-tahun. Gejala awal HIV bahkan bisa muncul 10 tahun setelah infeksi pertama, dan dapat berupa gejala mirip flu biasa.

Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah Anda atau pasangan Anda HIV positif adalah dengan tes HIV.

Mitos #10: Ibu hamil dengan HIV positif akan selalu menularkan HIV kepada janinnya

Fakta: Penularan infeksi ibu-ke-anak adalah salah satu cara penyebaran virus. Ibu hamil positif HIV yang tidak menjalani perawatan memiliki peluang penularan 1:4 kepada janin di dalam kandungannya. Saat ibu dan janin menerima pengobatan yang tepat guna sebelum, selama, dan sesudah kelahiran, peluang risiko infeksi pada bayi akan menurun hingga 1-2 persen.

Baca Juga:

Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca