5 Jenis Obat Tekanan Darah Tinggi Lini Kedua untuk Pengidap Hipertensi

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Setiap obat tekanan darah tinggi telah terbukti dapat menurunkan tekanan darah. Namun, ada beberapa orang yang tidak mempan jika hanya menggunakan satu jenis obat saja. Jika pengobatan lini pertama (first line drug) Anda tidak bekerja maksimal untuk menurunkan tekanan darah, Anda mungkin membutuhkan bantuan dari obat tekanan darah tinggi lini kedua. Apa saja? Simak di bawah ini.

Plihan obat tekanan darah tinggi lini kedua

1. Obat diuretik

Obat diuretik adalah obat yang bekerja untuk menguras kelebihan air dan natrium (garam) dari dalam tubuh lewat urin. Dengan begitu, tekanan pada dinding pembuluh darah Anda akan menurun.

Diuretik sering diresepkan oleh dokter sebagai obat lini pertama untuk hipertensi. Namun, diuretik juga umum digunakan sebagai obat tekanan darah lini kedua karena manfaatnya kurang lebih sama dengan obat-obatan lini pertama. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa tekanan darah mengalami penurunan setelah diberikan obat diuretik dan beberapa kombinasi obat antihipertensi lainnya. 

Hydrochlorothiazide adalah salah satu jenis obat diuretik golongan tiazid yang sering digunakan untuk menurunkan tekanan darah. Obat ini dapat dikonsumsi setiap hari sebagai obat tunggal. Namun peran obat tiazid sebagai pengobatan lini pertama atau bahkan obat lini kedua masih menuai perdebatan. Obat diuretik golongan tiazid umumnya kurang efektif pada gangguan fungsi ginjal karena dapat memperburuk fungsi ginjal dan meningkatkan risiko hiperlipidemia jika digunakan untuk pemakaian lama.

2. Vasodilator

Vasodilator adalah obat untuk melemaskan otot-otot polos pembuluh darah, terutama arteri jantung, sehingga efeknya jadi melebarkan diameter pembuluh darah. Ketika pembuluh darah melebar, darah mengalir lebih lancar melalui pembuluh darah sehingga jantung tidak harus bekerja keras untuk memompa darah. Hal ini akan berdampak langsung pada penurunan tekanan darah.

Obat tekanan darah lainnya, seperti calcium channel blocker juga membantu melebarkan pembuluh darah. Akan tetapi, obat vasodilator yang bekerja langsung pada dinding pembuluh darah adalah hydralazine, minoxidil, dan diazoxide.

3. Alfa blocker

Alfa blocker mengendurkan otot-otot yang menegang dan membantu pembuluh darah arteri tetap terbuka. Obat jenis ini bekerja dengan cara menjaga hormon norepinefrin (noradrenalin) tetap stabil agar tidak menegangkan dinding arteri dan vena. Obat ini menyebabkan pembuluh darah tetap rileks dan terbuka lebar sehingga aliran darah lancar.

Selain meningkatkan sirkulasi darah dan menurunkan tekanan darah, obat ini juga dapat membantu meningkatkan produksi urin pada pria dewasa yang memiliki gangguan prostat. Obat tekanan darah alfa blocker yang sering diresepkan termasuk doxazosin, prazosin, dan terazosin.

4. Alfa-beta blocker

Alfa-beta blocker memiliki cara kerja yang sama dengan obat beta blocker. Obat ini biasanya diresepkan untuk pasien hipertensi yang berisiko tinggi terkena gagal jantung. Efek dari pengobatan ini adalah menurunnya laju detak jantung, tensi darah, dan juga ketegangan jantung. Tak hanya itu, obat ini juga membantu mencegah stroke dan gangguan ginjal.

Beberapa alfa-beta blockter yang sering diresepkan sebagai obat tekanan darah tinggi adalah carvedilol dan labetalol.

5. Antagonis aldosteron

Obat ini umumnya digunakan bersamaan dengan obat-obatan lain, seperti diuretik untuk mengobati tekanan darah tinggi. Obat ini bekerja dengan menghalangi zat kimia (aldosteron) dalam tubuh Anda dan menurunkan jumlah natrium dan air tubuh agar stabil. Dengan menurunkan tekanan darah tinggi, Anda dapat mencegah stroke, serangan jantung dan masalah ginjal. Selain itu, obat ini juga bisa digunakan untuk mengobati penyakit gagal jantung kongestif yang terjadi setelah serangan jantung.

Obat tekanan darah tinggi antagonis aldosteron yang sering diresepkan dokter adalah spironolactone (Aldactone) dan eplerenone (Inspra).

Penting untuk diperhatikan

Kombinasi dua obat umumnya lebih efektif daripada obat tunggal untuk mengendalikan tekanan darah Anda. Kadang-kadang obat ketiga, atau lebih, diperlukan untuk mencapai tekanan darah yang stabil.

Pastikan Anda selalu konsultasi ke dokter sebelum menggunakan obat-obatan tekanan darah tinggi, baik itu lini pertama atau kedua. Hal ini dilakukan guna menghindari semua masalah efek samping yang mungkin terjadi dari pengguaan obat-obatan tersebut.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca