Apabila Anda mengalami hipertensi, dan jika aktivitas fisik dan diet yang tepat tidak dapat membantu mengatasi kondisi Anda, obat-obatan first line untuk hipertensi adalah pengobatan yang tepat.

Kelas-kelas obat ini dapat termasuk diuretik, yang umumnya dapat dianggap terapi first line. Thiazide dalam dosis rendah first line mengurangi akibat yang fatal dan mematikan. ACE blocker dan calcium channel blocker first line dapat memiliki efek yang mirip namun buktinya kurang kuat. Thiazide dosis tinggi first line dan beta blocker first line kurang efektif dibandingkan dengan thiazide dosis rendah first line.

Diuretik

Diuretik adalah kelas obat satu-satunya yang sama efektifnya dengan kelas obat lainnya dalam mengurangi komplikasi hipertensi, dan pada aspek individual saat dibandingkan dengan penghambat ACE dan calcium antagonist. Namun demikian, data dari percobaan perbandingan dengan kelas obat lainnya belum tersedia untuk semua kelas-kelas obat. Penelitian pada diuretik dan kalsium antagonis dianggap hasil terbaik. Diuretik juga direkomendasikan sebagai kombinasi dari 2 obat sebagai terapi awal apabila Anda memiliki hipertensi stadium 2. Diuretik adalah antihipertensi yang asli. Maka, efektivitas dan efek kontranya sudah sangat dipahami. Tidak ada obat yang lebih efektif secara keseluruhan dalam mengurangi tekanan darah daripada diuretik saat diberikan dengan pembatasan konsumsi garam. Efek kontra biasanya sangat sedikit, dan umumnya dapat diantisipasi dan dicegah.

Diuretik thiazide mengurangi ekskresi kalsium dan memiliki efek yang bermanfaat untuk mencegah tulang keropos dan patah tulang, khususnya pada lansia.

Diuretik meningkatkan efektivitas dari agen antihipertensi kelas-kelas lain. Maka hampir semua penderita, kecuali yang memiliki kontraindikasi, seharusnya diberikan diuretik apabila tekanan darah memerlukan lebih dari satu obat untuk penanganannya.

Calcium Channel Blocker (CCBS)

Obat-obat ini sangat efektif dalam menurunkan tekananan darah. Mereka bekerja langsung pada pembuluh darah dengan melemaskannya dan terkadang digunakan sebagai terapi garis utama. Namun demikian, mereka lebih sering digunakan dengan diuretik atau penghambat ACE atau ARB sebagai terapi garis kedua dan garis ketiga. Obat-obat ini lebih efektif dalam mengurangi tekanan darah pada lansia, penderita obesitas, dan penderita diabetes, dan juga dapat mencegah stroke namun memiliki efektivitas yang lebih rendah dari diuretik, penghambat ACE, dan ARB dalam mencegah gagal jantung.

Obat-obatan individual: terbagi dalam dua kategori. Kategori pertama disebut dihydropyridine CCB dan termasuk amlodipine (Norvasc), felodipine (plendil), nifedipine (Procardia), dan nicardipine (cardene). Yang kedua, diistilahkan dengan nondihydropyridine CCB termasuk 2 obat, diltiazem (dilacor, Cardizem, cartia, dan tiazac), dan verapamil (calan, covera, isoptin, verelan). Kedua kelompok dapat menurunkan tekanan darah namun memiliki efek yang berbeda pada jantung dan efek kontra yang sedikit berbeda. Obat-obatan dihydropiridine umumnya tidak mempengaruhi fungsi jantung dan tidak menyebabkan banyak perlambatan detak jantung namun dapat menyebabkan pembengkakan pada pergelangan kaki. Obat-obatan Nondihydropyridine, khususnya verapamil, dapat memperlambat detak jantung, mirip dengan beta blocker dan menyebabkan konstipasi, khususnya pada lansia.

Alpha-2 receptor agonist

Seperti alpha blocker lain, obat-obatan ini mengurangi aktivitas pada sistem saraf simpatetik, yang mengurangi tekanan darah. Perbedaan biologis utama dengan alpha blocker lain adalah alpha-2 receptor agonist hanya menargetkan satu jenis reseptor alpha. Obat-obatan ini adalah pilihan pengobatan utama pada masa kehamilan, karena umumnya berisiko kecil untuk ibu dan bayi. Methyldopa (aldomet) adalah bentuk umum dari jenis obat ini.

Meskipun hasil dari percobaan klinis beragam, penting untuk memilih obat yang bekerja dengan baik, aman, dan dengan harga yang masuk akal untuk pasien individual.

Apa yang perlu diketahui sebelum memilih obat first line yang sesuai untuk hipertensi?

Kriteria pemilihan satu kelas obat sebagai pengobatan first line biasanya didominasi dengan perbandingan efektivitas. Pada hipertensi, kelima kelas obat utama (thiazide dosis rendah, beta blocker, calcium channel blocker, penghambat ACE, dan angiotensin receptor antagonist) dapat mengurangi tekanan darah dan kondisi kardiovaskular dengan efektif.

Dibandingkan dengan obat-obatan yang digunakan untuk gangguan kronis, antihipertensi termasuk obat-obatan yang paling aman karena hanya menyebabkan sangat sedikit keracunan organ yang spesifik dan banyak yang sudah digunakan selama bertahun-tahun jadi efek kontranya sudah sangat dipahami.

Seiring dengan berjalannya waktu terdapat kekhawatiran mengenai kelas-kelas tertentu – misalnya, presipitasi dari oklusi vaskular dengan obat-obatan calcium channel blocking reaksi cepat atau koleps jantung dengan hupotensi saat memulai pengobatan dengan penghambat ACE. Namun demikian, Anda dapat menghindari hampir semua masalah ini dengan dosis yang tepat dan pengawasan pengobatan oleh dokter Anda.

Sudut pandang lain diberikan oleh penelitian di mana pasien harus menghentikan pengobatan karena efek-efek kontra. Penelitian menunjukkan obat-obatan calcium channel blocker memiliki prioritas lebih rendah sebagai terapi first line. Untuk pasien yang mengalami efek kontra, ada perbedaan yang cukup dalam kelas-kelas farmakologis ini untuk menjamin penggunaan alternatif yang masih dalam kelas yang sama pada keadaan tertentu. Hal ini tidak berlaku untuk thiazide, penghambat ACE, atau angiotensin receptor blocker. Kebutuhan penyesuaian pengobatan untuk pasien individual akan selalu ada, dan hampir selalu kurang tepat, misalnya, memberi diuretik pada penderita gout atau memberi beta blocker pada penderita asma. Namun demikian, hampir semua pasien dengan hipertensi tanpa komplikasi, diuretik jenis thiazide dalam dosis rendah seharusnya menjadi terapi garis utama.  Obat-obatan beta blocker dan penghambat ACE efektif saat digunakan dengan diuretik. Beta blocker juga dapat digunakan dengan obat-obatan calcium channel blocker dihyropyridine (namun jangan dikombinasikan dengan verapamil atau diltiazem).

Karena banyak terdapat kelas-kelas obat, dokter Anda akan memilih obat terbaik untuk pengobatan hipertensi Anda berdasarkan kondisi kesehatan dan respons pada pengobatan. Selalu konsultasikan pada dokter apabila Anda memiliki kekhawatiran tertentu.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca