Jenis-jenis Obat Darah Tinggi yang Perlu Anda Ketahui

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Banyak dari Anda mungkin menderita darah tinggi atau hipertensi. Biasanya penyakit ini menyerang orang-orang yang sudah berusia lanjut. Tapi, tak jarang juga menyerang kaum muda. Untuk mengobatinya, banyak orang dengan darah tinggi mengandalkan obat-pbatan tertentu, baik yang dijual bebas maupun yang harus menggunakan resep dokter. Namun, tahukah Anda apa saja jenis obat darah tinggi?

Jenis-jenis obat darah tinggi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi yang dapat memicu terjadinya berbagai masalah kesehatan, seperi serangan jantung, gagal jantung, stroke, dan penyakit ginjal.

Maka dari itu, penting bagi Anda untuk mengetahui apa saja obat darah tinggi yang dapat membantu mengendalikan gejala-gejala serta mengurangi risiko terjadinya komplikasi.

Terdapat banyak jenis obat darah tinggi yang tersedia untuk menangani penyakit ini. Obat-obatan darah tinggi tersebut biasa disebut dengan obat antihipertensi. Obat antihipertensi atau darah tinggi dapat dibagi menjadi berbagai macam kategori, dengan cara kerja dan efek samping yang beragam pula.

Karena banyaknya pilihan obat darah tinggi yang tersedia, diperlukan waktu dan kesabaran yang lebih untuk menemukan obat darah tinggi yang paling pas. Dokter akan meresepkan obat-obatan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi darah tinggi yang Anda alami.

Berikut adalah jenis-jenis obat antihipertensi atau darah tinggi yang ada:

1. Diuretik

Diuretik adalah salah satu jenis obat darah tinggi yang paling sering digunakan. Obat darah tinggi ini bekerja dengan cara menghilangkan air dan natrium (garam) berlebih di dalam ginjal.

Apabila kelebihan air dan garam dapat dikurangi, kadar darah yang melewati pembuluh darah Anda akan berkurang, sehingga tekanan darah Anda pun menurun.

Dilansir dari Mayo Clinic, terdapat 3 jenis utama dari obat darah tinggi diuretik, yaitu thiazide, potassium-sparing, dan diuretik loop. Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing jenis diuretik.

  • Thiazide

Obat darah tinggi diuretik jenis thiazide menghambat penyerapan garam dan klorida. Efek samping dari penggunaan jangka panjang obat darah tinggi ini adalah risiko terkena hiponatremia, atau rendahnya kadar garam di dalam tubuh.

Obat darah tinggi thiazide juga dapat mendorong proses metabolisme tubuh dalam membuang sodium, bikarbonat, dan menahan kalsium di dalam tubuh.

Thiazide tidak akan memengaruhi tekanan darah tubuh yang normal. Selain itu, obat ini juga memiliki efek samping yang lebih sedikit apabila dibandingkan dengan jenis obat darah tinggi diuretik lainnya.

Beberapa efek samping dari obat darah tinggi thiazide meliputi kekurangan kalium (hipokalemia), kelebihan kalsium (hiperkalsemia), sakit kepala, gangguan pernapasan, serta pembengkakan akibat rekaksi alergi.

Contoh obat thiazide: chlorthalidone (Hygroton), chlorothiazide (Diuril), hydrochlorothiazide (Hydrodiuril, Microzide), indapamide (Lozol), metolazone (Zaroxolyn).

  • Potassium-sparing

Obat darah tinggi diuretik jenis potassium-sparing mempercepat proses diuresis (buang air kecil) tanpa membuang kalium dari dalam tubuh.

Umumnya, obat ini memengaruhi proses penyerapan garam dan kalium di dalam ginjal, sehingga semakin banyak garam dan air yang terbuang saat buang air kecil.

Karena obat darah tinggi ini tidak membuang kalium dari dalam tubuh, efek samping seperti hipokalemia tidak akan terjadi. Namun, konsumsi potassium-sparing dapat meningkatkan risiko hiperkalemia, atau kelebihan kadar kalium dalam tubuh.

Obat darah tinggi jenis ini dapat digunakan sendiri, atau terkadang dapat dikombinasikan dengan diuretik jenis lainnya.

Contoh obat potassium-sparing: amiloride (Midamor), spironolactone (Aldactone), triamterene (Dyrenium).

  • Diuretik loop

Obat ini merupakan jenis diuretik yang paling kuat apabila dibandingkan dengan jenis lainnya. Diuretik loop bekerja dengan cara membuang garam, klorida, dan kalium, sehingga semua zat tersebut akan terbuang melalui urin.

Obat ini juga mengurangi penyerapan kalsium dan magnesium ke dalam tubuh. Selain digunakan sebagai obat darah tinggi, diuretik loop juga dapat diberikan untuk mengatasi edema akibat gagal jantung, penyakit hati, dan penyakit ginjal.

Contoh obat diuretik loop: bumetanide (Bumex), furosemide (Lasix), torsemide (Demadex)

2. Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor

Obat darah tinggi angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor dapat membantu melemaskan pembuluh arteri dan vena Anda, sehingga tekanan darah dapat turun. Biasanya, obat yang termasuk ke dalam golongan ini adalah obat yang pertama kali diresepkan (lini pertama) untuk penderita hipertensi.

ACE inhibitor mencegah produksi angiotensin II dari enzim tubuh Anda. Angiotensin II adalah senyawa yang mempersempit pembuluh darah. Penyempitan pembuluh darah dapat meningkatkan tekanan darah dan memaksa jantung Anda bekerja lebih keras.

Selain itu, angiotensin II juga melepas hormon yang dapat mengakibatkan tekanan darah Anda naik.

Tidak hanya digunakan sebagai obat darah tinggi, ACE inhibitor juga dapat mencegah, mengobati, dan mengendalikan gejala-gejala penyakit arterikoroner, gagal jantung, diabetes, serangan jantung, penyakit ginjal, serta migrain.

Umumnya, obat ini jarang menimbulkan efek samping. Namun, apabila memang terjadi efek samping, Anda mungkin akan mengalami hiperkalemia, kelelahan, batuk kering, sakit kepala, dan kehilangan fungsi indera pengecap.

Contoh obat ACE inhibitor: captopril, enalapril, lisinopril, benazepril hydrochloride, perindopril, ramipril, quinapril hydrochloride, dan trandolapril.

3. Angiotensin II receptor blocker (ARB)

Serupa dengan ACE inhibitor, obat angiotensin II receptor blocker (ARB) juga dapat membantu merilekskan pembuluh vena dan arteri agar tekanan darah dapat menurun.

Yang membedakan obat ini dengan ACE inhibitor adalah, ARB tidak menghalangi atau menghambat produksi angiotensin II. Obat ini mencegah angiotensin berikatan dengan reseptor pada pembuluh darah, sehingga dapat membantu menurunkan tekanan darah.

Obat ini juga dapat digunaan untuk mengatasi gejala-gejala penyakit ginjal, jantung, serta diabetes.

Efek samping yang mungkin dirasakan adalah pusing, hiperkalemia, dan pembengkakan pada kulit. Obat ini tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil.

Contoh obat ARB: azilsartan (Edarbi), candesartan (Atacand), irbesartan, losartan potassium, eprosartan mesylate, olmesartan (Benicar), telmisartan (Micardis), dan valsartan (Diovan). 

4. Calcium channel blocker (CCB)

Obat calcium channel blocker (CCB) juga merupakan obat lini pertama dalam pengobatan hipertensi. Obat ini dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu dihydropyridine dan nondihydropyridine.

Dihydropyridine berikatan dengan kalsium di dalam otot lunak vaskuler, sehingga pembuluh darah akan melebar dan tekanan darah menurun.

Sementara itu, nondihydropyridine berikatan dengan kalsium pada pengatur denyut jantung, sehingga tekanan darah dapat lebih terkendali.

Dengan kata lain, obat ini menyebabkan sel-sel jantung dan pembuluh darah otot mengendur. Pada akhirnya, dapat menurunkan tekanan darah dengan membuat pembuluh darah berelaksasi dan mengurangi detak jantung.

Perlu Anda ketahui bahwa kalsium dapat meningkatkan kekuatan kontraksi di jantung dan pembuluh darah.

Efek samping dari obat darah tinggi CCB adalah konstipasi, pusing, detak jantung semakin cepat, kelelahan, mual, muncul ruam, dan bengkak di beberapa bagian tubuh.

Contoh obat CCB: amlodipine, clevidipine, diltiazem, felodipine, isradipine, nicardipine, nifedipine, nimodipine, dan nisoldipine.

5. Beta blocker

Obat ini bekerja dengan cara menghalangi efek dari hormon epinefrin (hormon adrenalin). Hal ini membuat jantung bekerja lebih lambat, detak jantung dan kekuatan pompa jantung menurun. Sehingga, volume darah yang mengalir di pembuluh darah menurun dan tekanan darah menurun.

Sama seperti ACE inhibitor dan Calcium channel blocker, obat ini juga merupakan obat lini pertama dalam pengobatan hipertensi.

Beberapa efek samping yang dapat muncul akibat konsumsi obat beta-blocker adalah susah tidur (insomnia), tangan dan kaki dingin, kelelahan, sesak napas, detak jantung melemah, serta risiko impoten.

Contoh obat beta blocker: atenolol (Tenormin), propranolol, metoprolol, nadolol (Corgard), betaxolol (Kerlone), metoprolol tartrate (Lopressor) acebutolol (Sectral), bisoprolol fumarate (Zebeta), nebivolol, dan solotol (Betapace).

6. Alpha blocker

Obat darah tinggi jenis alpha blocker digunakan untuk mengatasi darah tinggi dengan memengaruhi kerja hormon norepinephrine.

Norepinephrine adalah hormon yang mengencangkan otot-otot pembuluh darah. Dengan konsumsi obat darah tinggi alpha blocker, otot-otot tersebut dapat mengendur dan pembuluh darah akan melebar.

Pelebaran pembuluh darah ini dapat menyebabkan tekanan darah menurun. Karena sifatnya yang merilekskan otot, obat darah tinggi jenis ini juga dapat membantu memperlancar buang air kecil pada lansia dengan masalah prostat.

Alpha blocker biasanya tidak diberikan sebagai pilihan pertama pengobatan hipertensi. Umumnya, penggunaannya dikombinasikan dengan obat-obatan darah tinggi lainnya, misalnya diuretik.

Beberapa jenis obat darha tinggi alpha blocker mungkin akan mengakibatkan efek samping pada dosis pertama, seperti pusing dan tekanan darah rendah. Efek samping lain yang mungkin terjadi adalah sakit kepala, jantung berdebar, dan tubuh melemah.

Contoh obat alpha blocker: doxazosin (Carduar), terazosin hydrochloride, dan prazosin hydrochloride (Minipress).

7. Vasodilator

Obat darah tinggi lain yang biasanya diresepkan dokter adalah vasodilator. Obat ini bekerja dengan cara membuka atau melebarkan otot-otot pembuluh darah.

Apabila otot pembuluh arteri dan vena lebih rileks, darah akan mengalir dengan lebih mudah. Jantung Anda tidak perlu bekerja dengan keras, sehingga obat ini dapat menyebabkan tekanan darah Anda yang tinggi dapat menurun.

Beberapa efek samping yang dapat timbul akibat konsumsi obat darah tinggi ini adalah percepatan detak jantung, penumpukan cairan berlebih di dalam tubuh, mual, muntah, sakit kepala, rambut tumbuh secara berlebihan, nyeri sendi, dan nyeri dada.

Contoh obat vasodilator: hydralazine dan minoxidil.

8. Central-acting agents

Central-acting agents atau central agonist merupakan obat darah tinggi yang bekerja di sistem saraf pusat, bukan langsung di sistem kardiovaskular.

Obat darah tinggi central-acting agents bekerja dengan cara mencegah otak mengirim sinyal ke sistem saraf untuk mempercepat detak jantung dan mempersempit pembuluh darah.

Sehingga, jantung tidak memompa darah dengan kuat dan darah mengalir lebih mudah di pembuluh darah.

Selain digunakan untuk mengatasi tekanan darah tinggi, obat darah tinggi jenis ini juga biasanya diberikan kepada penderita attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) serta sindrom Tourette.

Dibanding dengan obat darah tinggi lainnya, central-acting agents termasuk obat darah tinggi dengan efek samping yang cukup kuat. Beberapa di antaranya adalah penurunan denyut jantung, konstipasi, pusing, mengantuk, demam, serta risiko impoten.

Contoh obat central-acting agent: clonidine (Catapres, Kapvay), guanfacine (Intuniv), dan methyldopa.

9. Direct renin inhibitor (DRI)

Obat direct renin inhibitor (DRI) bekerja dengan cara mencegah renin mengatur tekanan darah Anda yang tinggi. Renin merupakan enzim yang terdapat di dalam tubuh Anda.

Dengan menghambat kerja renin, obat ini dapat membantu pembuluh darah melebar, sehingga tekanan darah yang tinggi dapat menurun.

Ibu hamil dan menyusui tidak diperbolehkan untuk minum obat darah tinggi jenis ini. Selain itu, karena obat ini tergolong obat darah tinggi yang masih baru, diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai efek samping jangka panjang dari obat ini.

Namun, efek samping yang umumnya dapat timbul akibat konsumsi obat darah tinggi DRI adalah pusing, sakit kepala, diare, dan hidung tersumbat.

Contoh obat direct renin inhibitor: aliskiren (Tekturna).

10. Aldosterone receptor antagonist

Obat aldosterone receptor antagonist lebih umum digunakan untuk mengobati penyakit gagal jantung. Namun, obat ini juga dapat membantu menurunkan tekanan darah tinggi.

Menyerupai diuretik, obat ini membantu membuang cairan berlebih tanpa mengurangi kadar kalium di dalam tubuh. Dengan demikian, pembengkakan akibat penumpukan cairan dapat berkurang, pernapasan lebih lancar, dan tekanan darah menurun.

Dalam kasus tertentu, obat ini dapat dikombinasikan dengan diuretik, ACE inhibitor, atau beta blocker. Beberapa efek samping yang dapat terjadi adalah mual, muntah, diare, serta kram perut.

Contoh obat aldosterone receptor antagonisteplerenone, spironolactone.

Yang harus diingat sebelum membeli obat darah tinggi

Umumnya, pilihan obat pertama untuk mengatasi darah tinggi adalah diuretik jenis thiazide. Namun, dalam beberapa kasus, penggunaan obat darah tinggi diuretik mungkin akan digabung dengan beta blocker, ACE inhibitor, atau calcium channel blocker.

Namun, kombinasi obat darah tinggi ini tergantung dengan resep dokter serta kondisi kesehatan Anda.

Sebaiknya konsultasikan dengan dokter Anda terlebih dahulu untuk menentukan jenis obat darah tinggi mana yang sebaiknya Anda pakai sesuai dengan kondisi kesehatan Anda.

Jangan lupa untuk membaca aturan pakai dan gunakan obat darah tinggi sesuai dosis. Satu lagi, imbangilah konsumsi obat darah tinggi dengan menjaga pola makan dan terapkan pola hidup sehat agar tekanan darah Anda selalu terkontrol.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Maret 1, 2017 | Terakhir Diedit: Desember 20, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca