Semua yang Perlu Anda Ketahui Tentang Krisis Hipertensi

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi kronis dan menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan organ yang umumnya terjadi selama bertahun-tahun. Namun, tekanan darah juga dapat meningkat dengan cepat dan cukup parah. Dalam istilah medis, kondisi ini dikenal sebagai krisis hipertensi. Apa itu? Cari tahu informasinya di bawah ini.

Apa itu krisis hipertensi?

Krisis hipertensi adalah istilah yang memayungi hipertensi urgensi dan hipertensi emergensi. Kedua kondisi ini terjadi ketika tekanan darah meningkat sangat tinggi dan terjadi secara tiba-tiba. Jika tidak segera diobati, keduanya dapat menyebabkan stroke.

Diperkirakan terdapat sekitar 50 hingga 75 juta populasi di dunia yang menderita hipertensi, namun lebih dari setengahnya tidak sadar bahwa mereka mengidap kondisi tersebut.

Dari angka tersebut, sekitar 110 juta kunjungan gawat darurat di rumah sakit berkaitan dengan hipertensi, dengan perkiraan 0,5% dari kunjungan tersebut berkaitan dengan krisis hipertensi. Ini artinya, kondisi ini termasuk jarang terjadi.

Tekanan darah ditunjukkan oleh dua angka, yaitu angka sistolik dan diastolik. Angka sistolik merupakan angka yang menunjukkan tekanan saat jantung memompa darah, sedangkan angka diastolik menunjukkan tekanan ketika jantung beristirahat dan tidak memompa darah.

Tekanan darah yang normal seharusnya berkisar di bawah 120 mmHg pada angka sistolik, dan kurang dari 80 mmHg pada angka diastolik.

Penghitungan tekanan darah biasanya dikategorikan sebagai berikut:

  • Tekanan darah naik (prehipertensi): Angka sistolik berada di kisaran 120-129 mmHg, dan angka diastolik di bawah 80 mmHg. Kondisi ini belum tergolong dalam hipertensi.
  • Hipertensi tahap 1: Jika angka sistolik berada di kisaran 130-139 mmHg atau diastolik berada di angka 80-89 mmHg, kemungkinan Anda menderita hipertensi tahap 1.
  • Hipertensi tahap 2: Jika angka sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, dan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, Anda mungkin menderita hipertensi tahap 2.

Jika hasil pemeriksaan tekanan darah menunjukkan angka 180/120 mmHg atau lebih tinggi, tunggu beberapa menit dan lakukan tes kembali. Jika pembacaan masih pada atau di atas tingkat itu, Anda harus mencari perawatan medis darurat untuk krisis hipertensi.

Apabila Anda tidak dapat mengakses layanan medis darurat, mintalah bantuan seseorang untuk membawa Anda ke rumah sakit segera.

Hipertensi urgensi

Hipertensi urgensi adalah situasi di mana tekanan darah Anda sangat tinggi angka mencapai 180/120 mmHg atau lebih tinggi, tetapi tidak ada gejala kerusakan pada organ tubuh.

Kondisi ini masih bisa dikontrol dengan pengobatan rumahan. Tekanan darah Anda yang mengalami peningkatan dapat diturunkan dalam kurun waktu beberapa jam dengan mengonsumsi obat tekanan darah.

Pengobatan hipertensi urgensi umumnya memerlukan penyesuaian dan/ atau dosis tambahan dari obat oral. Meski begitu, dalam banyak kasus kondisi ini tidak memerlukan rawat inap untuk penurunan tekanan darah yang cepat.

Pembacaan tekanan darah 180/120 mmHg atau lebih besar memerlukan penanganan segera. Hal ini karena penanganan awal fungsi organ dan peningkatan tekanan darah pada kondisi ini sangat penting untuk menentukan rencana perawatan selanjutnya yang tepat bagi pasien.

Hipertensi emergensi

Krisis hipertensi emergensi terjadi ketika tekanan darah mencapai mencapai 180/120 mmHg atau lebih tinggi, disertai gejala kerusakan pada organ tubuh. Pasien dengan kondisi ini harus segera mencari pertolongan medis ke rumah sakit terdekat.

Hipertensi emergensi dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan organ lainnya. Untuk itu kondisi ini perlu segera ditangani agar terhindar dari komplikasi yang berbahaya.

Beberapa tanda dan gejala yang mungkin muncul adalah:

  • Sakit kepala parah
  • Sesak napas
  • Mimisan (epistaksis)
  • Penurunan kesadaran, bahkan pingsan
  • Kecemasan parah

Komplikasi dari hipertensi emergensi meliputi:

Apa saja penyebab krisis hipertensi?

Salah satu penyebab paling umum dari krisis hipertensi adalah kenaikan tekanan darah secara mendadak pada pasien dengan hipertensi kronis.

Hipertensi kronis adalah kondisi di mana tekanan darah tinggi terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Kondisi ini berpotensi berkembang menjadi krisis hipertensi.

Selain itu, tidak meminum obat antihipertensi sesuai dengan dosis, atau menghentikan pengobatan begitu saja, juga dapat memicu terjadinya krisis tekanan darah tinggi.

Lebih lanjut lagi, konsumsi obat-obatan tertentu, terutama obat terlarang seperti kokain dan methamphetamine juga berisiko meningkatkan tekanan darah secara drastis.

Beberapa penyakit tertentu, seperti tumor kelenjar adrenal (pheochromocytoma), stres, atau trauma pascaoperasi juga memicu kenaikan tekanan darah dengan cepat.

Lantas, kapan saya harus cari bantuan medis?

Krisis hipertensi adalah kondisi yang harus cepat-cepat ditangani. Segera ke dokter atau ke IGD bila hasil pemeriksaan tekanan darah Anda menunjukkan angka 180/120 mmHg atau lebih tinggi.

Terlebih lagi bila Anda juga mengalami gejala kerusakan organ seperti nyeri dada, sesak napas, nyeri punggung, mati rasa atau lemas, perubahan penglihatan, dan kesulitan berbicara.

Jangan tunggu tekanan darah Anda turun dan segera mintalah seseorang mengantar Anda ke IGD rumah sakit.

Bagaimana krisis hipertensi didiagnosis?

Berikut adalah beberapa metode yang dilakukan untuk mendiagnosis kondisi ini:

Elektrokardiogram

Seluruh pasien dengan krisis hipertensi harus menjalani prosedur elektrokardiogram untuk memeriksa adanya pembesaran (hipertrofi) pada bagian kiri ventrikel jantung, iskemik atau infark akut, serta aritmia.

Urinalisis

Selain itu, dokter juga mungkin akan meminta sampel urin Anda untuk diperiksa di laboratorium (urinalisis). Hal ini penting untuk mengetahui adanya sel darah merah atau protein di dalam urin Anda, sehingga kemungkinan terjadi gagal ginjal dapat terdeteksi.

Tes lainnya

Tes lain yang mungkin dapat dilakukan adalah:

  • Blood urea nitrogen (BIN)
  • Tes hitung darah lengkap
  • Radiografi dada
  • CT scan

Bagaimana krisis hipertensi diobati?

Baik pasien hipertensi emergensi dan urgensi mengalami kenaikan tekanan darah tinggi yang cukup drastis. Namun, keduanya ditangani dengan cara yang sedikit berbeda.

Pengobatan hipertensi urgensi

Pasien krisis hipertensi urgensi biasanya tidak menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang jelas, serta tidak mengalami kerusakan organ tubuh. Maka itu, pasien tidak memerlukan penanganan medis darurat.

Belum ada bukti yang menunjukkan apabila pasien hipertensi urgensi memiliki peluang lebih besar untuk sembuh dengan ditangani secara darurat. Justru, terlalu cepat menangani hipertensi yang tidak disertai dengan gejala berpotensi menyebabkan efek samping.

Dikutip dari Cardiology Secrets, terlalu cepat menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi tanpa gejala dapat berisiko menyebabkan masalah kesehatan, seperti iskemik dan infark pada jantung. Oleh karena itu, pasien hipertensi urgensi sebaiknya ditangani secara bertahap, dengan menurunkan tekanan darah perlahan selama 24-48 jam.

Dalam kebanyakan kasus, pasien hipertensi urgensi hanya perlu menjalani rawat jalan, tidak perlu sampai rawat inap di rumah sakit.

Pengobatan hipertensi emergensi

Jenis krisis hipertensi emergensi berpotensi membahayakan nyawa, sehingga penderitanya harus segera mendapatkan penanganan intensif di rumah sakit.

Umumnya, pasien hipertensi emergensi harus diinapkan di rumah sakit dan menerima pengobatan melalui infus. Penurunan tekanan darah juga dilakukan secara bertahap dalam jangka wktu beberapa jam. Tekanan darah yang turun terlalu cepat dalam 24 jam meningkatkan risiko pendarahan pada otak, bahkan kematian.

Obat-obatan antihipertensi yang biasanya diberikan melalui infus adalah:

Baca Juga:

Sumber