8 Penyakit Kulit Menular yang Paling Sering Terjadi di Indonesia

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Di negara tropis seperti Indonesia, ada beberapa jenis penyakit kulit menular yang lebih sering muncul dibandingkan jenis infeksi kulit lainnya. Penyebaran penyakit ini biasanya terjadi melalui udara, kontak langsung kulit dengan kulit, atau akibat penggunaan bersama benda-benda tertentu dengan orang yang terinfeksi.

Penyakit yang menyerang kulit bisa menimbulkan gejala yang amat mengganggu dan mungkin baru terasa saat keluhannya sudah telanjur parah. Lantas, apa saja penyakit kulit menular yang umum terjadi di Indonesia? Simak ulasan di bawah ini.

Beragam jenis penyakit kulit menular yang perlu diwaspadai

Jangan sepelekan gejala apa pun yang muncul pada kulit Anda. Gejala tersebut bisa saja menjadi tanda dari deretan penyakit berikut.

1. Herpes Simplek

herpes

Herpes adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi virus herpes simpleks (HSV). Ciri utama yang menandai herpes adalah munculnya luka lepuh/ lenting pada kulit, terutama di area mulut atau alat kelamin. Berdasarkan area yang terinfeksi, penyakit ini dibedakan menjadi herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) dan herpes simpleks tipe 2 (HSV-2).

HSV-1 menyerang area sekitar mulut dan dikenal sebagai herpes oral atau luka dingin. Penyakit kulit menular ini dapat tersebar dari berciuman, berbagi sikat gigi dan peralatan makan, ataupun aktivitas lainnya yang memungkinkan cairan dari mulut penderita masuk ke tubuh Anda.

Sementara itu, HSV-2 biasanya menginfeksi area sekitar alat kelamin atau rektum sehingga disebut sebagai herpes genital. Penyakit ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual dengan penderita herpes atau dari ibu penderita herpes ke anak yang dilahirkan.

Virus herpes akan terus menetap dalam tubuh setelah menginfeksi. Dengan kata lain, penyakit kulit ini tidak dapat disembuhkan. Meski demikian, Anda bisa saja tidak menunjukkan gejala apa pun. Gejala dan luka lepuh biasanya baru muncul saat Anda mengalami seperti kelelahan, sakit, stres, menstruasi, atau ketika sistem kekebalan tubuh melemah.

2. Cacar air

Cacar-Air

Cacar air adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus varicella zoster. Sebelum vaksin cacar air ditemukan, penyakit kulit yang mudah menular ini dapat berakibat fatal. Perkembangan vaksin cacar air hingga saat ini telah berhasil menurunkan angka kejadiannya, meskipun sejumlah kasus cacar air memang masih menimpa anak-anak setiap tahunnya.

Penyakit cacar air ditandai dengan ruam gatal yang dapat muncul di wajah, kulit kepala, atau sekujur tubuh dan disertai dengan bintik-bintik merah muda. Bintik ini nantinya akan berubah menjadi luka lepuh kecil atau lenting-lenting berisi air yang bisa tersebar ke seluruh tubuh.

Penularan cacar air dapat terjadi dari penderita ke orang-orang di sekitarnya melalui berbagai cara. Virus ini bisa menyebar melalui sentuhan antara kulit dengan kulit, dari ludah atau lendir orang yang terinfeksi, atau melalui butiran udara dari orang yang batuk atau bersin.

Kendati dapat menyerang siapa saja, penyakit kulit yang berlangsung selama 5-10 hari ini bisa lebih mudah menular pada anak-anak dan orang-orang dari kelompok rentan seperti:

  • bayi baru lahir dan anak-anak yang belum divaksin
  • anak-anak yang lahir dari ibu yang tidak pernah divaksin
  • perokok aktif
  • wanita hamil yang belum pernah divaksin
  • orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat pengobatan atau penyakit tertentu
  • orang-orang yang mengonsumsi obat-obatan mengandung steroid

3. Cacar api atau cacar ular

Cacar Ular Cacar Api

Cacar api alias cacar ular pada orang dewasa disebabkan oleh virus bernama varicella-zoster, yaitu virus seperti cacar air pada anak. Orang yang sudah pernah terkena cacar air bisa menghidupkan lagi virus ini ketika sistem kekebalan tubuhnya menurun, sedang mengalami stres berat, atau ketika sudah berusia di atas 50 tahun.

Orang yang mengalami cacar api bisa menularkan penyakit kulit ini melalui sentuhan kulit kepada orang yang sudah mengalami cacar air atau pun yang belum. Risiko penyebarannya akan berkurang jika lepuhan ini ditutup, dan barulah tidak menular lagi begitu luka mengering seutuhnya.

Gejala cacar api diawali dengan munculnya sederet bintik merah pada salah satu sisi tubuh atau wajah. Kulit Anda akan tampak kemerahan pada area tersebut disertai rasa sakit yang menusuk-nusuk. Sebagian besar penderita juga merasakan sensasi terbakar pada kulit sebelum akhirnya ruam muncul pada area tersebut beberapa hari kemudian.

Ciri-ciri lain yang perlu Anda waspadai adalah sensasi geli atau gatal di bawah kulit disertai nyeri perut, demam, menggigil, dan sakit kepala. Setelah beberapa hari, ruam pada kulit akan berkembang menjadi luka lepuh dan bintil-bintil berisi air berwarna kemerahan.

4. Kudis

Kudis

Berbeda dengan penyakit kulit menular lainnya yang terjadi akibat infeksi, kudis justru disebabkan oleh tungau kecil yang bernama Sarcoptes scabei. Parasit ini tersebar di lapisan luar kulit, lalu menggalinya dan menetaskan telur di sana sehingga menimbulkan ruam dan gatal.

Kudis dapat muncul di sela-sela jari-jari, di sekitar pinggang atau pusar, di lutut, atau di bokong. Penyakit kulit ini sangat mudah menular melalui kontak fisik antar kulit yang sangat dekat serta melalui pakaian, handuk, atau sabun yang dipakai bersama-sama. Inilah sebabnya jika seseorang mengalami kudis, maka seluruh anggota keluarganya juga harus mendapatkan penanganan.

Gejala kudis biasanya tidak langsung muncul begitu Anda terinfeksi. Setelah empat hingga enam minggu, kulit Anda akan mulai bereaksi dengan menimbulkan sejumlah gejala. Di antaranya rasa gatal hebat terutama pada malam hari, muncul ruam menyerupai jerawat, kulit bersisik atau terdapat luka lepuh, serta muncul luka akibat terlalu banyak menggaruk.

Anda bisa saja keliru mengenali kudis karena ruam yang muncul dapat menyerupai jerawat atau gigitan serangga. Bedanya, ruam pada kudis juga disertai rasa gatal yang hebat terutama pada malam hari. Terkadang, tungau penyebab kudis juga dapat menggali bagian dalam kulit untuk meletakkan telur sehingga menimbulkan garis menonjol yang khas.

5. Kurap

Kurap

Kurap adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh jamur. Penyakit ini dapat menyerang kulit tubuh, kepala, kuku, kaki, bahkan area organ intim. Jamur penyebab kurap tumbuh subur pada bagian tubuh yang hangat dan lembap. Karenanya, Anda lebih berisiko mengalami penyakit ini bila tidak cermat dalam menjaga kebersihan kulit.

Kurap bisa menyebar melalui kontak dari kulit ke kulit. Risiko tertular lebih tinggi bila Anda saling meminjam benda-benda yang terkontaminasi seperti aksesoris rambut, pakaian, atau handuk. Penyakit yang dikenal sebagai ringworm ini juga bisa berpindah dari hewan ke manusia, jadi Anda harus waspada terhadap bercak botak yang ada pada hewan peliharaan di rumah.

Penderita kurap umumnya memiliki bercak kemerahan pada kulitnya. Bercak ini akan tampak melingkar, tampak timbul dibandingkan permukaan kulit di sekitarnya, serta memiliki tepi yang kasar. Jika muncul pada kulit kepala, Anda mungkin mendapati bercak bersisik dan rambut yang rontok di bagian tersebut.

Penyakit kulit yang disebabkan karena jamur ini akan terasa lebih gatal pada saat Anda berkeringat dan lebih rentan terjadi pada lipatan-lipatan tubuh yang lembap. Jadi, pastikan Anda selalu menjaga kulit tetap bersih dan kering, serta mengenakan pakaian longgar agar kulit dapat bernapas.

6. Kutil

Dilansir dalam laman American Academy of Dermatology Association, kutil adalah pertumbuhan kulit berlebih akibat infeksi virus pada lapisan atas kulit. Pertumbuhan kutil dapat terjadi pada jari-jari tangan, telapak kaki, serta area kulit yang sering dicukur. Virus yang menyebabkan kutil ini dikenal sebagai human papilomavirus (HPV).

HPV dapat menyebar melalui sentuhan langsung antara kulit yang masih sehat dengan kulit orang yang terinfeksi. Anda bahkan dapat mengalami kutil setelah menyentuh barang yang digunakan oleh penderita, misalnya setelah memegang handuk bekas pakai. Inilah sebabnya kutil termasuk dalam penyakit kulit yang mudah menular.

Bahaya kutil pun tidak berhenti sampai di situ. Selain bagian-bagian tubuh yang telah disebutkan sebelumnya, HPV juga dapat menyerang alat kelamin dan menular melalui hubungan seksual. Karenanya, penyakit ini turut digolongkan sebagai infeksi menular seksual.

Sistem kekebalan tubuh Anda sebenarnya cukup kuat untuk melawan infeksi HPV sehingga tidak semua orang yang terpapar virus ini akan mengalami penyakit kutil. Akan tetapi, daya tahan tubuh dapat melemah akibat penyakit, pengobatan, atau pun kondisi lainnya. Anda juga lebih rentan mengalami kondisi ini bila sebelumnya pernah mengalami penyakit kulit kronis.

7. Impetigo

Impetigo adalah infeksi kulit yang umum terjadi terutama pada anak-anak balita usia 2-5 tahun. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri tertentu yang terdapat pada lingkungan sekitar, terutama pakaian, handuk, tempat tidur, serta peralatan sehari-hari. Bakteri penyebab impetigo tumbuh subur di tempat yang hangat dan lembab.

Saat gejala awal muncul, orang yang mengalami impetigo akan merasakan gatal sehingga menggaruk dan merusak permukaan kulitnya. Ini akan membuat bakteri lebih mudah masuk ke dalam kulit. Luka akibat impetigo bisa berbentuk seperti lenting di sekitaran mulut (bula) atau seperti koreng kering (krusta). Pada kasus yang parah, penyakit ini bisa menyerang ke bagian kulit yang lebih dalam.

Impetigo termasuk dalam kelompok penyakit kulit yang sangat mudah menular. Penyebaran bakteri bisa terjadi melalui sentuhan antarkulit dengan penderita, masuk ke kulit melalui luka, atau gigitan serangga. Risiko penularan bahkan lebih tinggi bila Anda tinggal di lingkungan yang padat.

Selain itu, ada sejumlah faktor lain yang dapat meningkatkan risiko terjadinya impetigo. Misalnya, anak-anak yang berusia antara 2-5 tahun, cuaca yang lembap dan hangat, serta olahraga yang melibatkan kontak antara kulit seperti gulat atau bela diri. Orang-orang yang menderita diabetes atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah juga lebih berisiko mengalami kondisi ini.

8. Infeksi jamur ragi

Tubuh manusia pada dasarnya tidak benar-benar bersih dari bakteri dan jamur. Jamur ragi seperti Candida adalah salah satu jenis organisme yang secara alamiah terdapat pada tubuh Anda. Akan tetapi, pertumbuhan jamur ragi yang tidak terkendali dapat memicu infeksi dan mengakibatkan penyakit kulit.

Kebanyakan kasus infeksi jamur ragi umumnya menyerang area organ intim. Pada laki-laki, infeksi biasanya terjadi di kepala penis. Sementara pada perempuan, jamur ragi dapat tumbuh subur di bagian luar vagina atau disebut vulva. Selain kedua area ini, jamur ragi juga dapat menginfeksi bagian tubuh lain yang memiliki lipatan kulit seperti ketiak dan bagian bawah payudara.

Ciri utama yang menandakan infeksi jamur ragi adalah peradangan pada kulit. Selain itu, Anda juga dapat mengalami gejala sebagai berikut:

  • munculnya ruam atau tonjolan menyerupai jerawat
  • rasa gatal pada kulit
  • sensasi terbakar pada alat kelamin, khususnya saat berhubungan seksual atau buang air kecil
  • vagina tampak memerah dan membengkak
  • nyeri pada area yang terinfeksi
  • keluarnya cairan kental bening, putih, atau kekuningan dari alat kelamin

Penyakit kulit akibat jamur ragi dapat menular melalui hubungan seksual. Meskipun dapat menyerang siapa saja, kondisi ini lebih banyak terjadi pada perempuan. Terutama jika Anda memiliki jumlah hormon estrogen yang tinggi, rutin menggunakan antibiotik, mengalami diabetes, atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Tips mencegah penularan penyakit kulit

Penyakit kulit menular berbeda dengan penyakit kulit autoimun yang dipicu oleh gangguan pada sistem kekebalan tubuh sehingga tidak dapat dicegah. Faktor penyebabnya berasal dari infeksi bakteri, virus, jamur, atau parasit yang terdapat di lingkungan sekitar. Karena itulah, Anda masih dapat mengupayakan pencegahan agar tidak ikut tertular.

Berikut adalah beberapa tips yang dapat Anda lakukan:

  • Rajin mencuci kedua tangan menggunakan sabun, terutama usai beraktivitas.
  • Membersihkan terlebih dahulu peralatan milik umum sebelum digunakan. Misalnya saat Anda hendak menggunakan alat-alat dalam pusat kebugaran, menggunakan peralatan makan di restoran, dan sebagainya.
  • Berusaha agar tidak bersentuhan secara langsung dengan kulit penderita penyakit kulit.
  • Menghindari kebiasaan berbagi barang dengan orang lain. Barang-barang yang dimaksud termasuk pakaian, selimut, sikat gigi, sisir, hiasan rambut, dan lainnya.
  • Menghindari kebiasaan berbagi gelas dan alat makan dengan orang lain.
  • Menjaga kesehatan sistem kekebalan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, tidur cukup, dan minum cukup air.
  • Membatasi, bahkan menghindari kegiatan yang dapat menimbulkan tekanan fisik dan mental secara berlebihan.

Beberapa jenis penyakit kulit juga dapat dicegah melalui vaksinasi, misalnya cacar air. Pastikan bahwa diri Anda dan seluruh anggota keluarga Anda telah menjalani vaksinasi yang diperlukan untuk mencegah timbulnya penyakit-penyakit tersebut. Vaksin kini telah banyak tersedia dan bisa diperoleh tanpa perlu mengeluarkan banyak biaya.

Beberapa jenis pekerjaan mungkin membuat Anda harus sering berinteraksi dengan penderita penyakit kulit. Atau, Anda bisa sesekali merasa khawatir mengalami gejala kondisi kulit seperti di atas. Jika demikian, tidak ada salahnya untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Pemeriksaan yang menyeluruh akan membantu Anda dalam mendapatkan penanganan yang tepat dan mencegah penularan ke orang lain.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca