Asma Okupasi di Tempat Kerja: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi, dan Mencegahnya

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 22/12/2019
Bagikan sekarang

Gejala asma dapat kambuh sewaktu-waktu di tempat yang tidak Anda duga, seperti di tempat kerja. Kenyataannya memang ada beberapa jenis profesi dan tempat kerja yang rentan memicu kekambuhan asma. Asma akibat kerja bahkan dapat dialami siapa saja, baik yang sudah punya riwayat asma maupun mereka yang sehat walafiat. Jenis asma ini disebut asma okupasi. Mengutip dalam laman Asthma, sekitar satu dari sepuluh kasus asma pada orang dewasa dikaitkan dengan asma akibat kerja.

Mengetahui penyebab dan gejala sejak dini dapat membantu Anda terhindari dari penyakit ini di kemudian hari.

Apa itu asma okupasi?

Asma pada dasarnya adalah penyakit pernapasan yang mudah kambuh saat seseorang menghirup asap, debu, gas, atau partikel mikroskopik tertentu yang bersifat iritan. Paparan iritan tersebut kemudian mengiritasi saluran napas dan menyebabkannya meradang.

Nah, asma okupasi adalah jenis asma yang cenderung kambuh akibat tipe pekerjaan tertentu atau di lingkungan pekerjaan, yang mengharuskan seseorang menghirup asap, gas, debu, atau zat berbahaya lainnya.

Namun, seseorang dikatakan punya asma jenis ini bila gejala hanya muncul saat bekerja, dan cenderung membaik saat beristirahat atau pulang ke rumah.

Apa saja tanda dan gejala asma akibat kerja?

sesak napas saat stres

Gejala asma okupasi sama seperti gejala asma biasa. Ketika terpapar faktor pemicunya, seseorang dengan kondisi ini biasanya akan memunculkan gejala khas yang meliputi:

  • Batuk-batuk.
  • Mengi, suara siulan lirih atau bunyi “ngik-ngik” saat bernapas.
  • Dada terasa nyeri, seperti diikat tali yang kencang.
  • Napas terengah-engah atau ngos-ngosan.
  • Susah napas.

Gejala lainnya juga bisa berupa mata berair serta hidung tersumbat dan berair. Jangan ragu untuk segera berobat ke dokter saat Anda mengalami gejala yang tidak biasa.

Gejala asma akibat kerja dapat muncul berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Hal ini karena butuh waktu cukup lama bagi sistem imun tubuh menjadi sensitif terhadap alergen (penyebab alergi) di tempat kerja.

Begitu sistem imun Anda sudah sensitif terhadap zat tertentu, maka Anda akan lebih rentan mengalami gejala asma meski hanya terpapar sebentar dan sedikit saja.

Namun, semakin cepat asma okupasi diagnosis, maka peluang kesembuhannya juga akan semakin besar. Di sisi lain, jika asma akibat kerja tidak cepat diobati, maka Anda berisiko tinggi mengalami kerusakan permanen pada paru-paru. Maka dari itu, jangan sepelekan penyakit ini.

Siapa yang paling berisiko terkena asma akibat kerja?

mengatasi asma tanpa inhaler

Seseorang berisiko tinggi terkena asma okupasi bila:

  • Punya riwayat alergi. Alergi dan asma saling berkaitan satu sama lain. Itu sebabnya, alergi terhirup seperti debu, tungau, jamur, bulu binatang, serta serbuk sari dari bunga atau pohon yang berterbangan di udara juga dapat memicu asma jenis ini.
  • Punya riwayat rhintis. Rhintis adalah iritasi dan peradangan di dalam hidung sehingga menyebabkan hidung terasa gatal, berair, dan tersumbat. Dalam banyak kasus, rhintis menjadi peringatan awal bahwa Anda mungkin terkena asma akibat kerja.
  • Perokok aktif. Orang yang merokok lebih mudah terkena asma akibat kerja dibandingkan yang mereka yang tidak merokok. Jika sebelumnya Anda sudah memiliki asma dan merokok, maka hal tersebut dapat membuat gejala asma semakin memburuk.
  • Bekerja di tempat tertentu. Penyebab utama asma okupasi adalah lingkungan kerja yang memiliki alergen asma atau iritan tingkat tinggi.

Tempat kerja seperti apa yang berisiko memicu asma?

Pada prinsipnya, seseorang lebih berisiko terserang asma okupasi ketika tempat kerjanya terdapat alergen dan iritan yang tinggi.

Tempat kerja dengan tingkat alergen tinggi

manfaat berkebun bagi kesehatan

  • Toko hewan, kebun binatang, peternakan, dan laboratorium hewan. Air liur, ketombe, atau air kencing hewan yang mengandung protein dan menempel di bulu binatang dapat memicu asma. Bulu hewan ini bisa hinggap di kandang binatang, perabotan, hingga permukaan lantai. 
  • Perkebunan dan pertanian. Debu dari benih atau senyawa kimia dalam pupuk merupakan penyebab paling umum dari asma okupasi di kalangan pekerja pertanian maupun perkebunan. Insektisida yang digunakan untuk menghilangkan hama juga jadi faktor penyebab asma. 
  • Toko roti dan pabrik tepung. Tepung merupakan salah satu penyebab paling umum asma akibat kerja. Partikel tepung yang sangat kecil, memungkinkan masuk ke dalam saluran udara dan mengiritasi area tersebut. Kondisi ini diperparah bila Anda tidak menggunakan masker mulut ketika bekerja.
  • Rumah sakit dan tempat perawatan kesehatan lainnya. Petugas kesehatan dapat menderita asma karena menghirup protein bubuk dari sarung tangan lateks atau dari campuran obat bubuk. 

Tempat kerja dengan tingkat iritan tinggi

Fungsi Kaporit dalam Air Kolam Renang dan Bahayanya Bagi Kesehatan

  • Industri minyak bumi. Iritan dalam dosisi tinggi yang menyebabkan asma okupasi meliputi asam klorida, sulfur dioksida atau amonia. Semua zat tersebut banyak ditemukan dalam industri minyak bumi atau kimia. 
  • Industri kayu dan pertukangan. Serbuk kayu yang terhirup dapat mengiritasi saluran udara. Nah, hal inilah yang dapat memicu asma jenis ini. 
  • Industri logam dan permesinan. Logam seperti platinum, kronium, nikel sulfat dapat menyebabkan asma. Paparan coolant dalam jangka waktu lama juga dapat menyebabkan hal serupa. Coolant atau pendingin adalah cairan yang biasa dipakai untuk pekerjaan logam. 
  • Industri elektronik dan perakitan. Mereka yang bekerja di tempat seperti ini berisiko tinggi mengalami iritasi saluran udara akibat paparan asap solder yang berbahan rosin.
  • Konstruksi bangunan. Pekerja bangunan yang mengerjakan proyek gedung-gedung tinggi di kota besar lebih rentan terkena asma okupasi. Paparan debu, asap kendaraan, dan polusi setiap hari dapat memicu asma.
  • Bengkel dan tempat reparasi. Isosianat merupakan bahan kimia yang biasanya terkandung dalam cat semprot. Bahan kimia satu ini bersifat iritan dan dapat memicu asma okupasi. 
  • Kolam renang. Kolam renang mengandung zat klorin atau kaporit supaya bebas dari bakteri. Namun, kaporit yang bercampur dengan urine dan keringat dapat membentuk kloramin, senyawa beracun yang menyebabkan asma maupun keracunan bila tertelan. 
  • Salon kecantikan. Nyatanya, sejumlah produk perawatan rambut mengandung zat iritan tinggi yang bisa memicu asma akibat kerja. Beberapa di antaranya seperti pemutih rambut yang mengandung persulphate, dan hena.

Apakah asma okupasi bisa dicegah atau disembuhkan?

Tidak seperti asma biasa, asma akibat kerja dapat sembuh total bila segera diobati. Maka dari itu, segera berobat ke dokter saat Anda mengalami gejala seperti yang sudah disinggung sebelumnya di tempat kerja. Dokter akan memeriksa kondisi dan meresepkan obat tertentu untuk meredakan gejala yang Anda alami.

Namun, penting dipahami bahwa meski gejalanya sudah hilang, zat yang menyebabkannya akan tetap jadi pemicu kekambuhan bagi Anda. Ini artinya, Anda harus mengurangi paparan terhadap pemicu di tempat kerja atau menghindari tempat kerja yang serupa. Misalnya dengan menggunakan perangkat pelindung seperti masker penutup mulut dan hidung.

Selain menghindari faktor pemicunya, penting juga bagi Anda untuk rutin menggunakan obat asma sesuai yang dianjurkan dokter. Pastikan Anda selalu membawa obat asma, setidaknya inhaler, ke mana pun Anda pergi. Ingat, gejala asma dapat kambuh kapan saja dan di mana saja.

Dengan selalu membawa obat asma, maka risiko kekambuhan gejala asma dapat diminimalisir. Yang tak kalah penting, selalu gunakan masker mulut untuk mencegah alergen atau zat iritan masuk ke dalam saluran udara Anda.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

7 Pilihan Obat untuk Meredakan Gejala Asma Alergi

Obat asma alergi biasanya merupakan kombinasi dari obat asma dan alergi, bisa yang dihirup maupun yang diminum. Lantas, apa saja obat yang ampuh?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Asma, Health Centers 14/12/2019

7 Cara Cepat Mengatasi Gejala Asma yang Kambuh

Penting untuk tahu cara mengatasi penyakit asma ketika kambuh agar tidak semakin parah! Termasuk kapan harus menghubungi dokter atau pergi ke IGD terdekat.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Asma, Health Centers 10/12/2019

5 Prinsip Pola Hidup Sehat yang Harus Dijalani Penderita Asma

Selain pakai obat, penderita asma juga disarankan untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat guna mencegah gejala sering kambuh. Bagaimana memulainya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kebugaran, Tips Sehat 08/12/2019

Mengenal Jenis-Jenis Inhaler Asma Beserta Efek Samping dan Cara Pakai yang Benar

Tidak semua pengidap asma perlu pakai inhaler. Anda mungkin juga membutuhkan jenis obat semprot asma yang berbeda dengan pengidap asma lain.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

Direkomendasikan untuk Anda

penderita asma covid-19

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020
gejala asma pada anak ke dokter

Curiga Anak Kena Asma, Kapan Waktu yang Tepat Mengajaknya Berobat ke Dokter?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 11/01/2020
obat batuk asma

5 Obat yang Paling Sering Digunakan untuk Meredakan Batuk Karena Asma

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 20/12/2019
obat herbal tradisional asma anak

5 Pilihan Obat Asma Alami yang Aman untuk Anak-anak

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 19/12/2019