3 Jenis Tes Kulit (Skin Test) untuk Mendiagnosis Alergi Anda

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Jika Anda sering tiba-tiba ingusan, mata merah berair, bibir bengkak, dan kulit gatal setelah terpapar sesuatu, ini bisa jadi tanda alergi. Alergi adalah tanda bahwa sistem kekebalan tubuh Anda bereaksi berlebihan terhadap zat pencetus yang disebut sebagai alergen. Namun untuk memastikan apa pencetus alergi Anda, umumnya dokter akan menyarankan Anda menjalani tes kulit. Berikut ini adalah ulasan lengkapnya.

Persiapan sebelum tes alergi kulit

Sebelum tes kulit umumnya dokter akan menanyakan tentang riwayat medis Anda, tanda-tanda dan gejala alergi yang Anda alami. Jawaban Anda nanti dapat membantu dokter menentukan apakah alergi terjadi karena keturunan atau karena pemicu tertentu. Dokter Anda juga dapat melakukan pemeriksaan fisik lain untuk mendukung diagnosis alergi.

Namun, ada beberapa obat yang sebaiknya dihindari sebelum melakukan tes alergi kulit. Beberapa obat dapat memengaruhi reaksi alergi, sehingga hasil tes alergi kulit dapat salah. Berikut adalah obat-obatan yang harus dihidnari

  • Antihistamin yang diresepkan, seperti levocetirizine dan desloratadine
  • Antihistamin yang dijual bebas, seperti loratadine, diphenhydramine, chlorpheniramine, dan cetirizine
  • Antidepresan trisiklik, seperti nortriptyline dan desipramine
  • Obat sakit maag tertentu, seperti simetidin dan ranitidin
  • Obat asma omalizumab yang dapat mengganggu hasil tes selama enam bulan atau lebih lama bahkan setelah Anda berhenti menggunakannya.

Jenis tes alergi di kulit

1. Skin prick test 

Tes ini disebut juga sebagai tes tusuk atau tes gores. Skin prick test dapat memeriksa reaksi alergi langsung terhadap 40 alergen berbeda sekaligus. Tes ini biasanya dilakukan untuk mengidentifikasi alergi terhadap serbuk sari, jamur, bulu hewan peliharaan, tungau debu dan makanan.

Pada orang dewasa, tes ini biasanya dilakukan pada lengan bawah, sedangkan pada anak-anak dapat diuji di punggung atas.

Tes yang tusuk ke kulit ini tidak menyakitkan. Pasalnya, jarum tidak menembus permukaan kulit, Anda juga tidak akan berdarah atau merasak sakit saat dokter melakukan tes alergi kulit ini. Berikut beberapa tahapan ujinya:

  • Dokter akan membersihkan bagian kulit yang akan ditusuk
  • Perawat akan menyuntikkan sejumlah kecil ekstrak alergen yang dicurigai menyebabkan reaksi alergi pada Anda. Biasanya pada lengan bawah, lengan atas, atau punggung.
  • Kulit Anda kemudian akan digores sehingga alergen masuk di bawah permukaan kulit.
  • Dokter akan mengamati perubahan kulit Anda untuk memeriksa apakah terjadi pembengkakan atau kemerahan sebagai reaksi 
  • Hasil reaksi dari tes ini biasanya dapat terlihat dalam waktu 15 sampai 20 menit.

Untuk melihat apakah kulit Anda bereaksi secara normal, dua zat tambahan tergores ke permukaan kulit Anda:

  • Histamin. Pada kebanyakan orang, zat ini menyebabkan reaksi tersendiri pada kulit. Jika Anda tidak bereaksi terhadap histamin ,Anda mungkin dinyatakan tidak memiliki kondisi alergi.
  • Gliserin atau saline. Pada sebagian orang, zat ini bila diberikan ke tubuh tidak menimbulkan reaksi apa pun. Namun jika Anda bereaksi terhadap gliserin atau salin, Anda mungkin memiliki kulit yang sensitif.

2. Skin injection test

Tes alergi ini disebut juga sebagai tes injeksi kulit. Dimana dokter akan menyuntikkan sejumlah kecil ekstrak alergen ke lengan Anda. Setelah  sekitar 15 menit, dokter akan memeriksa tanda-tanda reaksi alergi. Anda akan dianjurkan menjalani tes ini apabila dicurigai punya alergi racun serangga atau obat penisilin.

3. Patch skin test 

Ini adalah tes alergi kulit yang cara pengujiannya menggunakan tambalan atau tempelan khusus. Tes ini umumnya dilakukan untuk melihat apakah suatu zat tertentu menyebabkan iritasi kulit alergi (dermatitis kontak). Pada tambalan khusus yang akan ditempelkan di tubuh, dokter sudah mengisinya dengan sejumlah ekstrak alergen.

Selama tambalan tersebut tempel, kulit Anda mungkin akan  terpapar 20 hingga 30 ekstrak zat yang dapat menyebabkan dermatitis kontak. Beberapa di antaranya termasuk lateks, obat-obatan, wewangian, pengawet, pewarna rambut, logam dan resin.

  • Zat alergen yang dicurigai  menyebabkan alergi akan ditempelkan ke kulit selama 48 jam.
  • Selama waktu tambalan ditempel, Anda harus menghindari mandi dan aktivitas yang menyebabkan tubuh berkeringan parah
  • Anda akan kembali ke dokter untuk membuka tempelan dan pemeriksaan hasil tes alergi.

Apakah tes ini akan sakit?

Tes kulit untuk memeriksa alergi umumnya tidak menimbulkan rasa sakit atau tidak sampai menimbulkan dara.

Namun, setiap tes yang akan dilakukan punya risiko atau efek sampingnya sendiri. Anda mungkin memiliki gejala seperti gatal, hidung tersumbat, mata berair dan merah, atau ruam kulit setelah dokter memberikan alergen dalam tes kulit ini. 

Sangat jarang seseorang dapat mengalami reaksi alergi hebat (disebut anafilaksis) yang dapat mengancam nyawat. Hal ini biasanya hanya terjadi dengan pengujian intradermal.  Maka itu, tes  ini harus dilakukan di rumah sakit dengan dokter ahli yang dilengkapi peralatan serta obat lengkap untuk mengatasi anafilaksis. 

Bagaimana cara membaca hasil tes alergi kulit?

Setelah di lakukan tes alergi tusuk dan suntik, umumnya dokter bisa menyimpulkan beberapa hasil sementara. Sedangkan hasil tes patch harus menunggu selama 2 sampai 3 hari Anda kembali periksa ke dokter. 

Hasil tes negatif artinya kulit Anda tidak mengalami reaksi saat diberikan alergen. Lalu, hasil positif berarti menandakan bahwa tubuh Anda bereaksi terhadap suatu zat elergen. Dokter akan melihat area tubuh yang merah dan bengkak.

Namun, perlu diingat, bahwa tes alergi kulit tidak selalu akurat. Kadang-kadang tes menunjukkan adanya gejala alergi yang disebut sebagai false positive. Lalu, kadang kulit juga tidak menimbulkan reaksi apapun setelah dipicu alergen, ini bisa disebut sebagai hasil false negative.

Untuk meyakinkan hasil tes alergi kulit, dokter butuh melakukan tes dan pemeriksaan lainnya. Misalnya seperti tes darah dan tes eliminasi makanan yang diduga sebagai penyebab alergi.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Oktober 31, 2016 | Terakhir Diedit: November 15, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca