home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Tidur Mangap, Apa Penyebab dan Efeknya Bagi Kesehatan?

Tidur Mangap, Apa Penyebab dan Efeknya Bagi Kesehatan?

Tidak sedikit orang yang punya kebiasaan tidur mangap. Namun, orang yang memiliki kebiasaan mulut terbuka selama tidur ini biasanya tidak menyadarinya sama sekali. Salah satu efek dari tidur dengan mulut terbuka adalah menimbulkan perasaan malu. Apalagi jika hal ini terjadi ketika Anda tertidur di tempat umum, seperti kereta atau bus.

Namun, efeknya tidak hanya itu saja. Ada beberapa efeknya yang berdampak buruk pada kesehatan. Lantas, apa penyebab dan efeknya? Yuk, cari tahu jawabannya berikut ini.

Kenali berbagai penyebab tidur mangap

bahaya sleep apnea

Setidaknya sekali seumur hidup Anda pasti pernah tidur dengan kondisi mulut terbuka. Namun, ada beberapa yang mengalaminya secara terus-menerus dan sulit untuk dikendalikan. Mengingat saat tidur, Anda tidak bisa mengontrol gerakan tubuh Anda, salah satunya ketika mulut terbuka.

Umumnya, tidur mangap terjadi karena posisi tidur Anda yang kurang tepat. Tidur dengan posisi duduk dan kepala mengarah ke belakang misalnya, sangat mungkin membuat mulut Anda terbuka. Itulah sebabnya, kebanyakan orang mengalami hal ini ketika tidur di kendaraan.

Tidak hanya itu, ada juga penyebab mulut mangap selain karena posisi tidur, yaitu:

1. Alergi

Ketika seseorang mengalami alergi, orang tersebut akan mengalami gangguan pernapasan. Pada keadaan normal, Anda memang bernapas melalui hidung, tetapi saat alergi datang maka saluran hidung untuk bernapas akan mengalami gangguan.

Untuk menghindari kekurangan oksigen maka tubuh akan secara otomatis membuka mulutnya agar udara masuk ke dalam tubuh. Inilah sebabnya, Anda bisa saja tidur mangap ketika gejala alergi muncul.

2. Hidung tersumbat

obat flu

Selain alergi, penyumbatan pada saluran napas juga terjadi pada orang yang sedang flu, pilek, atau punya sinusitis (peradangan pada sinus). Napas yang tidak lega ini membuat mereka secara tidak sadar membuka mulut ketika tertidur.

3. Sleep apnea

Penyebab mulut mangap selanjutnya adalah sleep apnea. Gangguan tidur ini menyebabkan seseorang terhenti napasnya selama beberapa detik saat tidur. Pengidap sleep apnea biasanya menunjukkan ciri khusus yakni mengorok saat tidur. Nah, ketika mereka mengorok kemungkinan besar kondisi mulutnya akan terbuka.

4. Masalah struktur hidung

Bernapas lewat hidung dan mulut saat tidur mungkin menjadi kebiasaan beberapa orang. Terutama mereka yang memiliki masalah pada struktur hidung, seperti septum hidung yang menyimpang atau pembasaran pada tulang turbinat atau konka hidung.

Efek buruk tidur mangap bagi kesehatan

penyebab mulut kering

Terlihat sepele memang, tapi tidur dengan kondisi mulut terbuka, ternyata bisa menimbulkan efek buruk bagi kesehatan Anda. Efeknya ini bisa saja ringan, tapi juga berat tergantung dengan penyebab yang mendasarinya.

Tidur mangap sangat mungkin membuat Anda tidur ngiler. Pasalnya, mulut yang terbuka memudahkan air liur keluar dari mulut Anda. Di samping itu, efek tidur dengan mulut terbuka yang mungkin saja bisa terjadi pada Anda, meliputi:

1. Kondisi mulut dan tenggorokan kering

Salah satu efek yang paling umum akibat tidur dengan mulut terbuka adalah mengalami mulut kering (xerostomia) keesokkan harinya. Ini karena saat mulut terbuka, proses penguapan pada kelembapan dari jaringan lunak yang melapisi mulut dan saluran udara akan terjadi sangat cepat.

Ditambah dengan pergerakan udara masuk dan keluar pada mulut sangat mungkin membuat mulut dan atau tenggorokan Anda menjadi kering. Kondisi ini juga mungkin membuat Anda mengalami suara serak di pagi hari.

2. Bermasalah dengan bau mulut

Bangun tidur memang membuat mulut Anda bau. Namun, kondisi ini akan jadi lebih buruk jika Anda tidur dengan mulut mangap. Ya, kebiasaan tidur ini memberikan peluang udara kotor masuk ke mulut.

Udara yang tidak tersaring bulu hidung ini membuat bakteri dengan mudahnya tumbuh di dalam mulut. Kondisi ini mengakibatkan mulut penuh bakteri dan sangat mungkin menyebabkan halistosis atau bau tidak sedap pada mulut.

3. Berisiko mengalami masalah pada gigi

Kebiasaan tidur mangap yang terus terjadi, membuat kondisi mulut kering semakin juga terus-menerus muncul. Menurut American Dental Association, kondisi mulut kering dalam jangka panjang dapat menimbulkan komplikasi seperti infeksi pada jaringan penyangga gigi (periodontal) atau karies gigi.

Supaya Anda tidak mengalami efek buruk dari kebiasaan tidur mangap, cobalah untuk mencari tahu penyebabnya. Jika berkaitan dengan posisi tidur, perbaiki posisi tidur Anda. Namun, jika mengarah pada masalah kesehatan tertentu, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter agar mendapatkan perawatan yang tepat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Allergies. (2020, August 04). Retrieved April 13, 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/allergies/symptoms-causes/syc-20351497.

Mouth breathing on CPAP. (2019, October 03). Retrieved April 13, 2021, from https://www.sleepapnea.org/treat/cpap-therapy/troubleshooting-guide-for-cpap-problems/mouth-breathing-on-cpap/.

Kim, E.J., Choi, J.H., Kim, K.W. et al. The impacts of open-mouth breathing on upper airway space in obstructive sleep apnea: 3-D MDCT analysis. Eur Arch Otorhinolaryngol 268, 533–539 (2011). https://doi.org/10.1007/s00405-010-1397-6.

Wolff, A., Joshi, R.K., Ekström, J. et al. A Guide to Medications Inducing Salivary Gland Dysfunction, Xerostomia, and Subjective Sialorrhea: A Systematic Review Sponsored by the World Workshop on Oral Medicine VIDrugs R D 17, 1–28 (2017). https://doi.org/10.1007/s40268-016-0153-9.

Bad breath. (2018, March 10). Retrieved April 13, 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bad-breath/symptoms-causes/syc-20350922.

Sleep apnea. (2020, July 28). Retrieved April 13, 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sleep-apnea/symptoms-causes/syc-20377631.

Nasal congestion: Sometimes more than just a stuffy nose. (2021, February 27). Retrieved April 13, 2021, from https://www.mayoclinic.org/symptoms/nasal-congestion/basics/causes/sym-20050644.

Motta, L. J., Bachiega, J. C., Guedes, C. C., Laranja, L. T., & Bussadori, S. K. (2011). Association between halitosis and mouth breathing in children. Clinics, 66(6), 939-942. doi:10.1590/s1807-59322011000600003.

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 05/05/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x