Mengulas Bradipnea, Kondisi Pernapasan Melambat yang Sering Terjadi di Waktu Tidur

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 02/07/2020 . 6 menit baca
Bagikan sekarang

Tingkat pernapasan adalah jumlah napas yang Anda ambil per menit. Ukuran tersebut dapat dipengaruhi oleh usia seseorang hingga aktivitas fisik yang dilakukan. Ketika Anda mengalami bradipnea, tingkat pernapasan Anda menjadi lebih rendah daripada rata-rata tingkat pernapasan normal. Kondisi itu bisa saja membahayakan nyawa Anda. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui penyebab dan gejala bradipnea di bawah ini.

Apa itu bradipnea?

Bradipnea adalah kondisi yang menandakan tingkat bernapas berkurang drastis dan melambat, sehingga total napas per menit jauh di bawah angka rata-rata normal. Bradipnea adalah salah satu kondisi yang mengganggu tingkat pernapasan seseorang.

Ini adalah kondisi yang sering terjadi ketika Anda sedang tertidur atau ketika bangun tidur. Namun, bradipnea berbeda dengan sleep apnea (pernapasan berhenti sejenak ketika tidur) maupun dispnea (napas yang terengah-engah atau sesak napas).

Proses pernapasan melibatkan banyak organ di dalam tubuh, tidak hanya saluran penapasan. Batang otak berperan untuk mengontrol pernapasan dengan cara mengirimkan sinyal ke sumsum tulang belakang sampai ke otot yang bertugas membawa oksigen ke paru-paru. Kemudian, pembuluh darah memeriksa jumlah oksigen dan karbon dioksida dalam darah untuk disesuaikan dengan tingkat pernapasan.

Mengulas Cara Kerja Sistem Respirasi Manusia dan Risiko Penyakit yang Menyertainya

Menurut ahli dari John Hopkins Medicine, tingkat pernapasan normal pada orang dewasa berkisar antara 12 sampai 16 kali napas per menit. Jika melakukan aktivitas berat, tingkat pernapasan normal dapat meningkat hingga 45 kali napas per menit.

Sementara itu, menurut dokter dari Children’s Hospital of Philadelphia, tingkat pernapasan normal pada bayi adalah 40 kali permenit dan dapat melambat menjadi 20 kali napas per menit saat ia tidur. Bila tingkat pernapasan berada di bawah atau lebih dari angka yang ditentukan dan terjadi saat tidak melakukan aktivitas, ini bisa menjadi tanda adanya masalah medis pada tubuh.

Apa saja pemicu dan penyebab pernapasan menjadi lebih lambat?

Walaupun sering terjadi saat tidur atau bangun tidur, beberapa kondisi yang menyebabkan bradipnea adalah seperti:

1. Menggunakan opioid

narkoba dalam urin

Opioid merupakan zat penghilang rasa sakit yang menyebabkan kecanduan tingkat tinggi. Zat ini sering disalahgunakan sehingga penggunaannya di beberapa negara tidak diperbolehkan. Opioid memengaruhi reseptor yang ada di otak sehingga dapat memperlambat tingkat pernapasan.

Efek sampingnya dapat mengancam jiwa dan menyebabkan napas berhenti total, terutama pada orang yang memiliki sleep apnea obstruktif dan penyakit paru. Beberapa opioid yang sering disalahgunakan adalah morfin, heroin, kodein, hidrokon, dan oksikodon. Risiko efek samping jadi lebih besar jika obat ini digunakan bersamaan dengan rokok, alkohol, atau obat penenang.

2. Hipotiroidisme

Kelenjar tiroid merupakan kelenjar endokrin terbesar pada tubuh, yang memiliki banyak fungsi penting, salah satunya memproduksi hormon. Hipotiroidisme adalah gangguan pada kelenjar tiroid yang menyebabkan produksi hormon menjadi kurang aktif.

Akibatnya, kadar hormon menurun dan bisa memperlambat berbagai proses dalam tubuh, termasuk pernapasan. Kondisi ini dapat melemahkan otot-otot pernapasan dan menyebabkan kapasitas oksigen di paru-paru menjadi berkurang. Hal itu dapat menyebabkan bradipnea.

3. Keracunan

mencegah keracunan karbon monoksida

Keracunan dari zat tertentu dapat memengaruhi proses di dalam tubuh, salah satunya memperlambat pernapasan. Salah satu zat yang mengganggu pernapasan adalah sodium zide, zat kimia yang digunakan pada airbag mobil untuk mengembang.

Zat ini juga ditemukan pada pestisida dan bahan peledak. Jika terhirup dalam jumlah tertentu, zat kimia tersebut dapat memperlambat sistem saraf pusat dan sistem kardiovaskular serta menimbulkan gejala mual, muntah, dan sakit kepala.

Kemudian, ada juga keracunan karbon monoksida yaitu gas yang dihasilkan dari pembakaran atau asap kendaraan. Gas ini dapat terhirup dan tercampur dalam darah dan menyebabkan kadar oksigen menurun, sakit kepala dan pusing, koma, dan gagal bernapas.

4. Cedera kepala dan kondisi lainnya

gejala kerusakan otak akibat cedera kepala

Mendapat cedera di bagian kepala, tepatnya di area batang otak (kepala bagian bawah) dapat menyebabkan brakardi (penurunan denyut jantung) sekaligus bradipnea. Biasanya cedera kepala sering terjadi akibat pukulan benda tajam, terjatuh, atau mengalami kecelakaan.

Selain itu, orang dengan penyakit pneumonia, edema paru, bronkitis kronis, asma kronis, sindrom Guillain-Barré atau amyotrophic lateral sclerosis (ALS) juga memiliki gejala penurunan kecepatan pernapasan.

Apa saja gejala bradipnea?

Selain napas pendek, gejala bradipnea yang lain tergantung pada penyebab dan pemicunya. Berikut gejala pengiring bradipnea yang bisa muncul:

  • Penyalahgunaan opioid dapat menunjukkan gejala berupa gangguan tidur,  gugup, mual, sembelit, hingga napas menjadi lambat.
  • Hipotiroidisme dapat menyebabkan kelelahan, terlalu sensitif dengan dingin, kenaikan berat badan, sembelit, depresi, nyeri otot, kulit terasa kasar, hingga sakit dan mati rasa pada tangan dan jari.
  • Jika bradipnea disebabkan oleh keracunan, Anda mungkin akan merasakan mual, muntah, diare, sakit kepala, hilang penglihatan, hingga kejang.
  • Cedera di bagian kepala dapat menyebabkan kehilangan daya ingat sementara, kebingungan, linglung, sulit mengingat, sakit kepala, pusing, penglihatan kabur, hingga mual dan muntah.

Napas yang tiba-tiba melambat drastis dapat mengancam nyawa Anda. Oleh karena itu, penting untuk segera menghubungi dokter jika mengalami gejala-gejala yang telah disebutkan di atas. Anda bisa memeriksa gejala yang Anda rasakan di sini.

Bagaimana mengatasi bradipnea?

Jika tingkat pernapasan Anda terasa lebih lambat dari biasanya, segera lakukan pemeriksaan ke dokter. Anda kemungkinan akan menjalani pemeriksaan fisik dan pengecekan denyut nadi, suhu tubuh, dan tekanan darah. Pengobatan dan perawatan akan ditetapkan setelah diagnoasis penyakit diketahui.

Dalam situasi darurat, pasien dengan kondisi lambatnya tingkat pernapasan harus mendapatkan perawatan segera, seperti:

  • Pasien kecanduan opioid atau overdosis diharuskan mengikuti rehabilitasi, terapi, dan mengonsumsi obat naloxone untuk mengurangi keracunan opioid.
  • Pengobatan keracunan dapat berupa bantuan oksigen, obat-obatan, dan pemantauan organ-organ vital.
  • Pasien yang mengalami cedera kepala harus mendapat pembedahan, pengobatan, dan perawatan lebih lanjut.
  • Pasien dengan hipotiroidisme harus mendapatkan pengobatan harian untuk mengurangi gejala.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Fakta Di Balik Manfaat Kopi untuk Pengidap Asma

Mungkin belum banyak yang tahu bahwa kopi memiliki manfaat untuk para penderita asma. Mengapa bisa demikian? Temukan jawabannya di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Fakta Unik 02/12/2019 . 3 menit baca

Berbagai Masalah Kesehatan yang Dapat Muncul Jika Tembok Rumah Anda Berjamur

Tidak hanya mengganggu pandangan, ternyata ada bahaya dari tembok rumah yang berjamur dan bisa mengganggu kesehatan tubuh Anda. Apa saja efeknya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Fakta Unik 01/12/2019 . 4 menit baca

Jangan Asal Pilih, Ikuti 3 Langkah Ini dalam Memilih Inhaler untuk Anak

Anak dengan asma bisa mengggunakan inhaler untuk mengendalikan gejala. Supaya tidak salah, simak tips memilih inhaler untuk anak berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Anak, Parenting 01/11/2019 . 4 menit baca

Beredar Foto Gas Air Mata Kedaluwarsa, Apa Bahayanya Bagi Tubuh?

Masyarakat dibuat geram setelah beredarnya foto selongsong gas air mata yang sudah kedaluwarsa. Apakah gas ini lebih berbahaya bagi tubuh?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Fakta Unik 26/09/2019 . 4 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

dampak menghirup udara kotor

Tak Hanya di Luar, Udara Kotor di Dalam Ruangan Bisa Ganggu Sistem Pernapasan

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 04/06/2020 . 6 menit baca
membersihkan ruangan untuk PPOK

Pentingnya Membersihkan Ruangan untuk Penderita Sakit Paru Kronis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 30/01/2020 . 4 menit baca
gejala novel coronavirus

Cara Mendiagnosis COVID-19 pada Tubuh Manusia

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 22/01/2020 . 6 menit baca
olahraga kabut asap

Apa Dampaknya Berolahraga di Tengah Kabut Asap Australia?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 20/01/2020 . 4 menit baca