home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Waspada, Aspirin Bisa Menyebabkan Penyakit Pernapasan yang Sulit Didiagnosis

Waspada, Aspirin Bisa Menyebabkan Penyakit Pernapasan yang Sulit Didiagnosis

Aspirin adalah suatu obat yang terkenal sejak zaman nenek buyut kita, sering digunakan untuk mengurangi rasa nyeri, menurunkan demam, dan kini banyak digunakan sebagai pencegah pembekuan darah pada penderita sakit jantung (sebagai anti-platelet). Namun siapa sangka aspirin yang bermanfaat ini bisa menyebabakan efek samping pada pernapasan yang dokter pun sering kesulitan mendiagnosis penyakit ini? Simak lebih dalam mengenai penyakit respirasi bangkitan aspirin atau aspirin-exacerbated respiratory disease (AERD).

Sebuah kisah: 10 tahun pencarian tanpa kejelasan, ini penyakit apa?

Allison Fite adalah gadis yang mengeluhkan sinusitis yang tak kunjung sembuh. Dia mengeluhkan asma, kehilangan indra pembau dan mengecap rasa. Dia juga tidak bisa menikmati pesta bersama teman-temannya karena ketika minum alkohol walau sedikit, dia mengalami sakit kepala luar biasa.

Berbagai dokter telah ditemui, saat berobat ke spesialis alergi dan diuji alergi, hasilnya negatif. “Anda tidak ada alergi,” kata dokternya,

Lalu munculah polip di hidungnya. Operasi pertama dilakukan saat usianya 20 tahun, lalu usia 25 tahun operasi kedua pun dilakukan karena polip mucul lagi. Parahnya, setelah 8 minggu operasi, polip muncul kembali.

Hingga suatu hari ibu Fite menemukan halaman di situs web yang membahas presentasi klinis, persis seperti yang dialami oleh Fite: asma, polip hidung, dan satu lagi yang tidak disadari yaitu reaksi alergi semu terhadap aspirin. Tidak diragukan lagi, dokternya saat itu mengakatan penyakit Fite adalah aspirin-exacerbated respiratory disease (AERD) atau penyakit respirasi bangkitan akibat efek samping aspirin.

Sepuluh tahun menderita penyakit yang tidak dimengerti, akhirnya uji ini pun dilakukan. Sang dokter memberinya seperlima dari tablet aspirin, hanya untuk melihat apa yang akan terjadi. Dan coba tebak apa yang terjadi 45 menit kemudian pada Fite?

Fite mengalami batuk-batuk, berkeringat, tekanan darah melemah, hingga akhirnya, “Ok, Anda terkena penyakit AERD,” kata dokter.

Apa itu penyakit respirasi bangkitan aspirin atau AERD?

AERD atau juga dikenal dengan Samter’s Triad adalah kondisi medis kronis yang disebabkan oleh efek samping penggunaan aspirin. Kondisi ini ditandai dengan gejala berikut:

  • asma
  • penyakit sinus dengan adanya polip kambuhan
  • reaksi alergi semu (pseudoalergi) terhadap aspirin atau obat golongan NSAID lainnya

Polip pada hidung biasanya cepat tumbuh kembali setelah operasi. Reaksi ini dikatakan pseudoalergi karena tidak melibatkan pembentukan IgE seperti yang terjadi pada reaksi alergi sejati. Sekitar 10-20 % dari pasien dewasa dengan asma dan 30-40% pasien asma dan polip hidung menderita AERD. Perempuan lebih banyak melaporkan penyakit ini dibanding laki-laki.

Jika seseorang dinyatakan positif mengidap AERD, maka setelah menelan aspirin atau NSAID lain, ia akan mengalami gejala-gejela berikut ini dalam 30 menit sampai 3 jam kemudian:

  • gejala pada hidung seperti hidung mampet dan meler (ingusan)
  • gejala pada mata seperti bengkak di sekitar mata dan konjungtivitis (mata memerah)
  • gejala pada asmatik seperti mengi, sesak napas, batuk, dan sesak di dada.

Reaksi efek samping aspirin dalam hal ini mungkin bisa lebih parah, yaitu dengan eritema wajah, laringospasme (kejang singkat yang dialami pita suara dan menyebabkan kesulitan berbicara atau bernapas sementara), kram perut, nyeri epigastrik, dan hipotensi.

Obat-obat apakah yang bisa memicu penyakit ini selain aspirin?

Aspirin hanyalah salah satu dari penyebab dari AERD, dan masih ada sederet obat-obat lain yang bisa memicu penyakit serupa yaitu NSAID (non-steroid anti-inflammatory drug) selektif COX-1 (siklooksigenase 1).

Obat-obatan yang termasuk NSAID selektif COX-1 meliputi piroksikam, endometasin, sulindak, tolmetin, ibuprofen, naproksen, fenoprofen, oksaprozin, asam mefenamat, flurbiprofen, diflunisal, ketoprofen, diklofenak, ketorolak, etodolak, dan nabutemon. Dikarenakan AERD tidak hanya disebabkan oleh aspirin, maka kumpulan ahli yang bernaung dibawah EAACI/WAO kini menamakannya sebagai NERD (non-steroidal anti-inflammatory drugs-exacerbated respiratory disease).

Penderita AERD direkomendasikan menghindari obat-obat di atas, namun pada kondisi tertentu di saat memerlukan pereda nyeri, penderita AERD bisa menggunakan:

Bagaimana cara mengatasi AERD?

Menghindari aspirin dan NSAID selektif COX-1 adalah cara terbaik untuk menghindari munculnya gejala pada penderita AERD, namun jika hal tersebut tidak memungkinkan, maka solusi yang direkomendasikan adalah melakukan desensitasi.

Desensitasi artinya memberikan aspirin pada dosis tertentu dilanjutkan dengan pemberian aspirin setiap hari untuk menjaga tingkat desensitasinya. Banyak pertimbangan untuk penentuan dosis yang tepat untuk desensitasi, dan untuk melakukan hal ini Anda perlu mengunjungi ahli alergi imunologi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Kasus di sari dari Aspirin Both Triggers And Treats An Often-Missed Disease, http://www.npr.org/sections/health-shots/2016/03/21/470900315/aspirin-both-triggers-and-treats-an-often-missed-disease, diakses tanggal 26 Juni 2017.

What Is Aspirin Sensitivity?, http://www.webmd.com/allergies/aspirin-sensitivity#1, diakses tanggal 26 Juni 2017.

Aspirin-exacerbated respiratory disease, http://www.uptodate.com/contents/aspirin-exacerbated-respiratory-disease, diakses tanggal 26 Juni 2017.

Lee RU, Stevenson DD. 2011. Aspirin-exacerbated respiratory disease: evaluation and management. Allergy Asthma Immunol Res. 3(1):3-10.

Foto Penulis
Ditulis oleh Sarmoko, Apt. pada 07/08/2017
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
x