Apa Itu Prediabetes?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Definisi

Apa itu prediabetes?

Prediabetes adalah kondisi di mana kadar gula darah Anda lebih tinggi dari biasanya, tapi belum cukup tinggi untuk dikategorikan sebagai diabetes tipe 2.

Jika Anda terkena kondisi ini, Anda mungkin tidak mampu memproduksi insulin yang memadai setelah makan, atau tubuh mungkin tidak merespon terhadap insulin dengan baik.

Tanpa adanya penanganan medis, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi diabetes tipe 2 dalam 10 tahun atau kurang. Penyakit ini berisiko merusak jantung dan sistem peredaran, bahkan jauh sebelum diabetes tipe 2 terjadi.

Namun, Anda dapat mencegah kondisi ini berkembang menjadi diabetes tipe 2 dengan cara menjalankan pola makan yang baik, serta aktif berkegiatan fisik.

Seberapa umumkah prediabetes terjadi?

Kondisi ini tergolong umum. Tidak menutup kemungkinan siapapun dapat menderita kondisi ini. Namun, kasus kejadiannya paling banyak ditemukan pada pasien dewasa, terutama yang berusia 40 tahun ke atas.

Gejala prediabetes dapat Anda atasi dengan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai kondisi ini, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala prediabetes?

Dalam kebanyakan kasus, tanda-tanda dan gejala prediabetes umumnya tidak terlihat.

Apabila terdapat gejala tertentu yang muncul, seperti kulit menggelap di bagian-bagian tertentu tubuh Anda, kemungkinan Anda berisiko mengembangkan kondisi diabetes tipe 2. Perubahan ini biasanya terlihat di leher, ketiak, siku, lutut, dan buku-buku jari.

Namun, apabila memang terdapat tanda-tanda dan gejala, berikut adalah gejala yang perlu Anda waspadai:

  • Lebih cepat haus
  • Sering buang air kecil
  • Kelelahan
  • Penglihatan buram

Beberapa gejala atau tanda lainnya mungkin tidak tercantum di atas. Jika Anda merasa cemas tentang gejala tersebut, segera konsultasi ke dokter Anda.

Kapan harus pergi ke dokter?

Hubungi dokter bila Anda mengalami gejala-gejala di atas yang disertai dengan kondisi-kondisi berikut:

  • Kelebihan berat badan, dengan indeks massa tubuh di atas 25
  • Tidak aktif berolahraga
  • Berumur 40 tahun atau lebih
  • Memiliki riwayat diabetes tipe 2 dalam keluarga
  • Terkena diabetes gestasional ketika Anda hamil, atau melahirkan bayi yang berbobot lebih dari 4,1 kg
  • Mengalami tekanan darah tinggi

Jika Anda memiliki tanda-tanda dan gejala di atas, segera hubungi dokter.

Tubuh masing-masing penderita menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Untuk mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, periksakan apapun gejala yang Anda alami ke dokter atau pusat layanan kesehatan terdekat.

Penyebab

Apa penyebab prediabetes?

Hingga saat ini, para ahli masih belum dapat mengetahui apa penyebab pasti dari prediabetes. Namun, faktor keturunan keluarga dan genetik diyakini berperan besar dalam kondisi ini.

Selain itu, tubuh yang jarang bergerak serta penumpukan lemak di beberapa bagian tertentu dalam tubuh juga dapat meningkatkan risiko.

Para ahli hanya menyepakati bahwa penderita gejala-gejala prediabetes tidak dapat memproses gula (glukosa) secara normal. Akibatnya, gula menumpuk di aliran darah. Seharusnya, gula menjadi sumber energi yang mendorong sel dalam pembentukan jaringan otot dan fungsi organ tubuh lainnya.

Kebanyakan glukosa di dalam tubuh Anda berasal dari apa yang Anda konsumsi. Ketika makanan dicerna di dalam tubuh, gula akan masuk ke dalam aliran darah. Pergerakan gula di dalam aliran tubuh menuju sel-sel tubuh membutuhkan hormon yang disebut dengan insulin.

Insulin berasal dari kelenjar pankreas yang berada di balik lambung Anda. Fungsi pankreas adalah menghasilkan insulin ke dalam darah ketika Anda sedang makan.

Ketika insulin dihasilkan, gula dapat memasuki sel-sel tubuh Anda, sehingga kadar gula di dalam darah akan berkurang. Penurunan kadar gula di dalam darah akan diikuti dengan penurunan kadar insulin yang dihasilkan dari pankreas.

Saat tubuh Anda menunjukkan gejala prediabetes, proses tersebut akan mengalami masalah. Ketika gula seharusnya mendukung kinerja sel tubuh, gula malah menumpuk di dalam darah Anda.

Darah dengan kadar gula yang tinggi terjadi ketika pankreas tidak menghasilkan insulin yang cukup. Dalam kasus lain, ada pula kemungkinan sel-sel tubuh Anda mengalami resistensi insulin, atau tidak dapat merespon insulin dengan baik.

Faktor-faktor risiko

Apa saja faktor-faktor yang meningkatkan risiko saya terkena prediabetes?

Prediabetes adalah kondisi kesehatan yang dapat terjadi pada siapa saja, terlepas dari berapa usia dan apa kelompok ras penderitanya. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk menderita kondisi ini.

Penting untuk Anda ketahui bahwa memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti Anda pasti akan menderita suatu penyakit atau kondisi kesehatan.

Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, tidak menutup kemungkinan seseorang dapat terkena penyakit atau kondisi kesehatan tertentu tanpa adanya satu pun faktor risiko.

Berikut adalah faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya kondisi prediabetes:

1. Usia

Kondisi ini memang dapat terjadi pada siapa saja. Namun, kasus kejadiannya paling banyak ditemukan pada pasien berusia 40 tahun ke atas.

Ini artinya, seiring dengan bertambahnya usia Anda, semakin meningkat pula risiko Anda untuk mengembangkan kondisi ini.

2. Ras

Meskipun alasan pastinya belum diketahui, orang-orang dari golongan ras tertentu, seperti Afrika Amerika, Hispanik, Asia Amerika, dan Kepulauan Pasifik, lebih rentan mengalami kondisi ini.

3. Keturunan keluarga

Apabila Anda memiliki anggota keluarga yang menderita kondisi prediabetes atau diabetes tipe 2, Anda memiliki peluang lebih besar untuk mengalami kondisi yang sama di kemudian hari.

4. Berat badan dan lingkar pinggang

Memiliki berat badan berlebih atau obesitas merupakan faktor risiko utama dari kondisi ini. Semakin banyak jaringan lemak yang terdapat di tubuh Anda, terutama di sekitar perut Anda, semakin tinggi pula risiko Anda untuk menderita kondisi ini.

Orang-orang dengan indeks massa tubuh yang melebihi 25 cenderung lebih rentan terkena diabetes. Selain itu, laki-laki dengan lingkar pinggang lebih dari 101,6 cm dan perempuan lebih dari 88,9 cm juga berisiko mengalami kondisi ini.

5. Pola makan

Sering mengonsumsi daging merah, daging olahan, dan minum minuman manis juga dapat meningkatkan risiko Anda untuk mengalami kondisi ini.

6. Jarang bergerak

Semakin jarang Anda berolahraga atau aktif secara fisik, semakin besar pula peluang Anda untuk mengembangkan penyakit ini.

Aktivitas fisik dapat membantu Anda mengontrol berat badan, sehingga glukosa di dalam tubuh akan terpakai sebagai energi tubuh, serta sel-sel tubuh akan lebih peka dalam merespon insulin.

7. Mengalami stres

Apabila Anda mengalami tekanan mental atau stres yang cukup berat, Anda berisiko menderita kondisi ini.

Selain meningkatkan risiko mengalami gejala prediabetes, stres juga dapat memicu masalah lain, seperti penyakit jantung.

8. Mengalami diabetes gestasional saat hamil

Diabetes gestasional umumnya dialami wanita saat memasuki masa kehamilan. Jika Anda wanita dan mengalami kondisi ini saat hamil, Anda dan bayi Anda memiliki risiko terkena diabetes.

Jika bayi yang Anda lahirkan memiliki berat lebih dari 4,1 kilogram, kemungkinan untuk terkena kondisi ini juga lebih besar.

9. Menderita sindrom ovarium polikistik

Sindrom ovarium polikistik atau PCOS ini ditandai dengan siklus menstruasi tidak beraturan, rambut tumbuh berlebihan, serta kenaikan berat badan. Hal ini menyebabkan Anda memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena diabetes.

10. Memiliki gangguan tidur

Sleep apnea adalah kelainan tidur yang menyebabkan pernapasan terganggu berulang kali selama tidur, mengakibatkan kualitas tidur yang buruk.

Orang dengan jam kerja yang berubah atau mendapatkan giliran kerja di malam hari, yang mungkin menyebabkan gangguan tidur, mungkin juga lebih berisiko terkena prediabetes atau diabetes tipe 2.

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang dijabarkan bukan pengganti bagi nasihat medis. SELALU konsultasi ke dokter Anda.

Bagaimana cara mendiagnosis prediabetes?

Tiga jenis tes dapat digunakan untuk mendiagnosis prediabetes:

1. Tes HbA1C (tes hemoglobin terglikasi)

Tes darah ini menunjukkan rata-rata kadar gula darah Anda selama 2-3 bulan terakhir. Lebih khusus lagi, tes ini menghitung jumlah gula darah yang terdapat di hemoglobin. Hemoglobin adalah protein pengikat oksigen yang berada di sel darah merah.

Semakin tinggi kadar gula darah Anda, semakin banyak pula hemoglobin dengan gula yang terdapat di darah Anda.

  • Level HbA1C di bawah 5,7% menunjukkan kondisi yang normal
  • Jika level HbA1C berada di antara 5,7-6,4%, Anda mengalami prediabetes
  • Jika level HbA1C 6,5% atau lebih, ada kemungkinan Anda menderita diabetes tipe 2

Dalam beberapa kondisi, ada kemungkinan hasil tes HbA1C tidak memberikan hasil yang akurat. Misalnya, ketika Anda sedang hamil, atau terdapat bentuk hemoglobin yang tidak normal di dalam tubuh Anda.

2. Tes gula darah puasa (GDP) dan tes toleransi glukosa oral (TTGO)

Pada tes ini, dokter akan meminta Anda untuk berpuasa sepanjang malam, biasanya selama 8 jam. Setelah itu, sampel darah Anda akan diambil untuk mengetahui kadar gula darah puasa (GDP) Anda.

Setelah nilai GDP diketahui, dokter akan meminta Anda meminum cairan glukosa 75 gram. Sampel darah Anda akan kembali diambil 2 jam setelah Anda minum cairan tersebut. Pada tes kedua ini, nilai toleransi glukosa oral (TTGO) Anda akan diukur.

Pada orang normal, kadar GDP seharusnya tidak melebihi 100 mg/dL, serta kadar TTGO kurang dari 140 mg/dL.

Namun, apabila hasil tes menunjukkan bahwa kadar GDP Anda normal dengan TTGO berada di kisaran 140-199 mg/dL, ada kemungkinan Anda terkena prediabetes.

Hal yang sama juga berlaku apabila kadar TTGO Anda normal, namun hasil tes menunjukkan kadar GDP Anda berada di kisaran 100-125 mg/dL.

Untuk semua tes ini, semakin tinggi angka, semakin besar risiko berkembangnya diabetes tipe 2 di masa depan.

Bagaimana cara mengobati prediabetes?

Jika Anda mengalami gejala prediabetes, perawatan pertama biasanya dengan mengubah gaya hidup, termasuk mengubah pola makan dan berolahraga secara teratur.

Dua perubahan gaya hidup utama yang membantu mengatur dan menghilangkan prediabetes adalah olahraga teratur dan menurunkan berat badan. Jika Anda kelebihan berat badan, kondisi ini mungkin akan berubah menjadi diabetes.

Bila hasil tes tinggi tapi tidak cukup untuk disebut diabetes, Anda mungkin membutuhkan obat-obatan untuk mengendalikan kadar insulin. Obat yang paling umum diresepkan untuk mengatasi kondisi ini adalah metformin (Glucophage).

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat membantu mengatasi prediabetes?

Anda dapat menjalani beberapa tips di bawah untuk mencegah komplikasi atau kemungkinan berkembangnya prediabetes menjadi diabetes tipe 2:

1. Menjaga berat badan ideal

Jika Anda memiliki berat badan yang melebihi batas normal, ada baiknya Anda menurunkan sebanyak 5-7% dari berat badan Anda untuk mencegah diabetes.

Selain pencegahan, menurunkan berat badan juga dapat membantu menurunkan tekanan darah serta kadar kolesterol.

2. Rutin berolahraga

Olahraga adalah hal terpenting yang perlu Anda lakukan dalam mencegah diabetes. Sebaiknya, lakukan olahraga ringan selama 30 menit sebanyak 5 kali seminggu.

Beberapa pilihan aktivitas yang dapat Anda coba adalah berjalan kaki, bersepeda, atau berenang. Anda dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui olahraga apa yang paling sesuai dengan kondisi Anda.

3. Menjalani pola makan yang sehat

Selain berolahraga, Anda juga wajib menjalankan pola makan yang sehat. Anda dapat menambah lebih banyak asupan sayur, buah, gandum utuh, protein, serta produk olahan susu yang rendah lemak.

Hindari makanan olahan seperti makanan kaleng, fast food, gorengan, atau makanan yang mengandung terlalu banyak gula. Kurangi pula minuman yang manis dan ganti dengan air putih.

4. Berhenti merokok dan hindari minuman beralkohol

Untuk mendukung pola makan dan gaya hidup sehat Anda, sebaiknya Anda mulai mengurangi, bahkan berhenti merokok sama sekali.

Anda juga sebaiknya menghindari minum minuman keras yang mengandung alkohol. Jika Anda memiliki kesulitan untuk berhenti, Anda dapat melakukannya secara bertahap. Anda juga bisa meminta bantuan dokter atau psikolog untuk strategi menghindari rokok dan alkohol yang efektif.

Jika Anda memiliki pertanyaan, konsultasikan ke dokter Anda untuk dapat lebih mengerti solusi terbaik untuk Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat kesehatan, diagnosis atau pengobatan.

Direview tanggal: September 22, 2016 | Terakhir Diedit: Oktober 28, 2019